Geopolitik Memanas! Rupiah Hari Ini Melemah Saat Risiko Perang Terbuka AS–Israel dan Iran Meningkat

Kamis, 05 Mar 2026, 17:30 WIB

JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir tidak lepas dari meningkatnya risiko geopolitik global, terutama potensi perang terbuka antara Amerika Serikat–Israel dengan Iran.

Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong pelaku pasar global menghindari aset berisiko (risk-off) dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang termasuk rupiah mengalami tekanan.

Ket. Foto: Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Akbar Nugroho Gumay

Ketegangan tersebut juga memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global, terutama jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terdampak konflik.

Risiko ini meningkatkan volatilitas pasar keuangan dan memperkuat dolar AS, yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah di pasar domestik.

Dalam konteks ini, pelemahan rupiah mencerminkan sensitivitas pasar Indonesia terhadap dinamika geopolitik global.

Selama ketidakpastian konflik masih tinggi, pergerakan rupiah diperkirakan tetap volatil karena investor global cenderung menahan ekspansi pada aset di negara berkembang.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis (5/3), bergerak melemah 13 poin atau 0,08 persen menjadi Rp16.905 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.892 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi risiko perang terbuka antara AS-Israel dengan Iran.

“Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh tren peningkatan index dollar yang masih berlanjut terus mendekati 100 masih dipengaruhi risiko perang terbuka AS-Israel dan Iran,” ucapnya di Jakarta.

Mengutip Sputnik, Iran menyatakan tidak berencana melakukan perundingan dengan AS dan akan melanjutkan permusuhan di antara mereka. Mohammad Mokhber, ajudan mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada Rabu (4/3), menegaskan bahwa Iran tidak mempercayai AS.

Menurut Mokhber, Iran mampu melanjutkan perang karena memiliki pengalaman delapan tahun, merujuk pada Perang Iran-Irak (1980-1988).

Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersumpah tidak akan membiarkan begitu saja serangan yang dilancarkan AS dan Israel pada Sabtu.

Serangan tersebut dilancarkan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Tehran, dengan laporan kerusakan dan korban sipil. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei gugur dalam serangan itu.

Iran kemudian meluncurkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. IRGC menyatakan bahwa AS-Israel menyerang sekolah, rumah sakit, stadion, restoran, dan gedung pernikahan untuk membuat panik masyarakat Iran. Mereka menyebut korban jiwa warga sipil telah melampaui 700 orang.

Melihat dari domestik, penurunan outlook rating oleh Fitch menambah kekhawatiran pelaku pasar. Namun, minat pelaku pasar terhadap obligasi pemerintah meningkat, terutama yang pendek sampai menengah sehingga menahan pelemahan rupiah lebih dalam lagi.

“Peningkatan paling besar pada tenor 7 tahun dengan yield turun 4,4 bps (basis points), kemudian 8 tahun turun 4,1 bps, 9 tahun turun 3,1 bps, serta 10 tahun turun 2,1 bps,” ungkap Rully.

“Obligasi pemerintah masih menawarkan yield yang cukup menarik dan likuiditasnya yang masih tinggi,” kata dia.

Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp16.886 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.911 per dolar AS.

  • rupiah hari ini

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.