Iran Serang Kedubes AS di Riyadh, Donald Trump Perintahkan Serangan Balik

Selasa, 03 Mar 2026, 21:27 WIB

JAKARTA - Iran menyerang Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi, menggunakan dua pesawat tak berawak pada Selasa pagi waktu setempat. Serangan tersebut memicu eskalasi besar setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan gelombang serangan udara balasan ke berbagai target di wilayah Iran.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan dua drone yang menghantam kompleks diplomatik AS menyebabkan kebakaran terbatas dan kerusakan ringan. Kedutaan AS di Riyadh segera mengimbau warga negaranya untuk menghindari area tersebut demi alasan keamanan.

Ket. Foto: Iran menyerang Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi, menggunakan dua pesawat tak berawak pada Selasa pagi waktu setempat. Serangan tersebut memicu eskalasi besar setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan gelombang serangan udara balasan ke berbagai target di wilayah Iran. — Sumber: The Washington Times

Serangan itu terjadi sehari setelah Kedutaan Besar AS di Kuwait mengumumkan penutupan hingga waktu yang belum ditentukan. Departemen Luar Negeri AS juga memerintahkan evakuasi personel non-darurat dan keluarga diplomat dari Kuwait, Bahrain, Irak, Qatar, Yordania, dan Uni Emirat Arab sebagai langkah antisipasi.

Sebagai respons, Amerika Serikat dan Israel menghujani sejumlah lokasi di Iran dengan serangan udara. Presiden AS Donald Trump menyebut operasi militer tersebut sebagai awal dari kampanye tanpa henti yang diperkirakan berlangsung lebih dari satu bulan.

Trump mengatakan operasi bisa berjalan empat hingga lima pekan, bahkan lebih lama jika diperlukan. Ia juga mengklaim Amerika Serikat memiliki pasokan amunisi hampir tak terbatas serta persenjataan kelas atas yang telah disiapkan sebelumnya.

Ledakan terdengar sepanjang malam di Teheran dan sejumlah wilayah lain di Iran, disertai suara pesawat tempur di udara. Hingga kini belum ada rincian resmi mengenai target spesifik yang terdampak dalam serangan tersebut.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan fasilitas pengayaan nuklir Natanz mengalami beberapa kerusakan baru-baru ini, namun tidak ada konsekuensi radiologis yang diperkirakan. Natanz sebelumnya pernah menjadi sasaran dalam konflik Iran-Israel selama 12 hari pada Juni lalu.

Di Lebanon, Israel kembali melancarkan serangan terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Ledakan terdengar di pinggiran selatan Beirut, sementara otoritas setempat melaporkan tentara Lebanon mengevakuasi sejumlah posisi di perbatasan selatan.

Iran juga memperluas serangan ke sejumlah target di kawasan Teluk, termasuk fasilitas energi di Qatar dan Arab Saudi serta kapal-kapal di Selat Hormuz. Pernyataan seorang pejabat Garda Revolusi Iran yang menyebut Selat Hormuz ditutup memicu lonjakan harga minyak dan gas alam global.

Perusahaan teknologi Amazon melaporkan dua pusat datanya di Uni Emirat Arab menjadi target, sementara serangan drone di dekat fasilitas lain di Bahrain menyebabkan kerusakan. Situasi ini memperlihatkan dampak konflik yang meluas hingga sektor energi dan infrastruktur digital.

Departemen Luar Negeri AS mendesak warga Amerika meninggalkan lebih dari selusin negara di Timur Tengah. Namun, penutupan sebagian besar wilayah udara di kawasan membuat banyak warga asing terjebak tanpa kepastian jalur evakuasi.

Konflik yang meluas ini dilaporkan telah menewaskan ratusan orang, sebagian besar berada di Iran. Dengan intensitas serangan yang terus meningkat dan belum adanya rencana keluar yang jelas, risiko perang berkepanjangan dengan dampak global semakin terbuka lebar.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.