Selat Hormuz Ditutup, Pramono Ingatkan Ekonomi Jakarta Bisa Ikut Terguncang

Minggu, 01 Mar 2026, 21:33 WIB

JAKARTA – Jakarta dikhawatirkan terdampak secara ekonomi jika terjadi penutupan Selat Hormuz, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi distribusi energi global.

Gangguan pasokan minyak berpotensi mendorong lonjakan harga energi internasional, yang pada akhirnya meningkatkan biaya impor BBM dan menekan APBN.

Ket. Foto: Arsip foto - Kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) rute Velodrome-Kelapa Gading memasuki Stasiun Velodrome Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Rivan Awal Lingga

Sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas bisnis nasional, Jakarta akan merasakan dampak berlapis, mulai dari kenaikan biaya logistik, tekanan inflasi, hingga potensi pelemahan daya beli.

Jika harga energi melonjak signifikan, sektor transportasi, industri, dan perdagangan di ibu kota bisa terdampak langsung, sehingga memperlambat aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz imbas sengketa antara Iran dan Amerika Serikat (AS) akan memberikan dampak secara ekonomi, termasuk bagi Jakarta.

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, terletak di antara Oman dan Iran, dan menjadi rute utama perdagangan energi global. Di selat ini mengalir sekitar seperlima dari total ekspor minyak dunia, termasuk sebagian besar minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, sebelum dikirim ke pasar internasional.

“Jika Selat Hormuz ditutup pasti akan berdampak pada supply chain atau rantai pengiriman barang dan barang-barang mengalami kenaikan harga,” kata Pramono saat membuka JIS Ramadhan Festival 2026 di Jakarta, Minggu (1/2).

Kendati demikian, Pramono meminta warga Jakarta untuk tidak panik karena yang menjadi perhatian utama pemerintah daerah adalah ketersediaan kebutuhan pokok, terlebih dalam waktu dekat masyarakat akan memasuki Idul Fitri.

Menurut dia, kebutuhan utama di Jakarta meliputi cabai merah, daging, dan beras. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan stok kebutuhan pokok tersebut dalam kondisi lebih dari cukup.

Khusus untuk komoditas daging, lanjutnya, ketersediaan dan stok masih dalam keadaan aman.

Pemprov DKI juga akan terus memantau perkembangan harga di pasar serta laju inflasi di Jakarta, sehingga langkah antisipatif dapat segera diambil apabila terjadi lonjakan harga.

“Kami pantau di semua pasar utama di Jakarta belum terjadi kenaikan,” kata dia.

Sebelumnya, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan serangan Israel ke Iran yang memicu ledakan besar pada Sabtu (28/2) bisa memicu lonjakan harga minyak dunia.

Saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Minggu, Faisal menjelaskan saat ini harga minyak berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Namun, jika konflik berlanjut, harga bisa naik ke 80 dolar AS per barel.

Lebih jauh, apabila pasokan minyak di Selat Hormuz terganggu, ia mengatakan harga bisa menembus 100 dolar AS per barel.

Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Gangguan distribusi di kawasan ini berpotensi mendongkrak harga minyak mentah dunia.

“Kalau sudah sampai 100 dolar per barel, itu masuk zona tinggi, rekor. Beberapa tahun terakhir kita tidak mengalami kenaikan setinggi itu, terakhir ketika awal perang Rusia-Ukraina,” katanya.

  • ekonomi jakarta
  • Penutupan Selat Hormuz

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.