• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Modernisasi KAI Tak Halang...

Modernisasi KAI Tak Halangi Pelestarian 656 Stasiun dan Lokomotif Bersejarah

Minggu, 01 Mar 2026, 13:05 WIB

JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) menegaskan komitmennya dalam merawat dan mengelola aset heritage perkeretaapian sebagai bagian dari warisan bangsa. Sepanjang 2025, KAI Group melayani 503.549.740 perjalanan pelanggan, meningkat 8,52 persen dibandingkan 464.031.108 perjalanan pada 2024. Pertumbuhan ini sejalan dengan modernisasi layanan, tanpa mengabaikan pelestarian nilai sejarah yang telah tumbuh lebih dari satu abad.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa jumlah pelanggan yang terus meningkat menjadi momentum untuk memperkuat pengelolaan aset bersejarah secara berkelanjutan.

Ket. Foto: PT Kereta Api Indonesia (Persero) menegaskan komitmennya dalam merawat dan mengelola aset heritage perkeretaapian sebagai bagian dari warisan bangsa. — Sumber: Istimewa

"Kereta api tumbuh bersama masyarakat. Saat jumlah pelanggan terus meningkat dan layanan semakin modern, heritage tetap kami rawat dan kelola secara profesional. Ini tanggung jawab kami menjaga warisan bangsa sekaligus menghadirkan pengalaman perjalanan relevan bagi pelanggan hari ini," ujar Anne.

Sepanjang 2025, layanan kereta jarak jauh dan lokal di Jawa dan Sumatra melayani 55.620.561 perjalanan, tumbuh 7,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di balik mobilitas ini, terdapat 656 aset KAI yang telah berstatus cagar budaya maupun sedang dalam proses penetapan, tersebar di berbagai wilayah operasional.

Di Sumatra Utara, Stasiun Binjai telah berstatus cagar budaya, sementara Kisaran, Besitang, Labuhan, Pulobrayan, Belawan, Titi Papan, Medan, dan Lubuk Pakam masih dalam proses penetapan. Di Sumatra Barat, sejumlah stasiun seperti Sawahlunto, Silungkang, Muarakalaban, dan Padang Panjang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, sedangkan Paoeh Kambar, Pasar Usang, dan Bukittinggi masih berproses.

Wilayah Daop 1 Jakarta memiliki Stasiun Jakarta Kota, Tanjung Priok, Manggarai, dan Pasar Senen yang berstatus cagar budaya, dengan beberapa stasiun lain sedang dalam proses penetapan. Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Solo, Madiun, Surabaya, dan Jember juga memiliki aset stasiun bersejarah yang dikelola KAI, baik yang telah ditetapkan maupun masih berproses.

Selain stasiun, KAI merawat struktur bersejarah lain seperti viaduct, jembatan rel, terowongan, struktur pemutar lokomotif uap, serta jalur Sawahlunto - Teluk Bayur. Bangunan heritage lain termasuk Lawang Sewu, Museum Kereta Api Ambarawa, kantor pusat KAI, balai yasan, perumahan PJKA, dan berbagai fasilitas operasional bernilai sejarah.

KAI juga menjaga sarana bersejarah seperti Lokomotif Bima Kunthing, Lokomotif Uap E1060 "Mak Itam," gerbong penumpang, gerbong batubara, gerbong air dan barang, serta steam roller industri perkeretaapian.

Anne menegaskan pengelolaan heritage dilakukan secara terstruktur dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait. Pendekatan customer centric tetap menjadi perhatian agar pelanggan dapat menikmati fasilitas nyaman sekaligus sarat nilai sejarah.

"Kami ingin pelanggan merasakan pengalaman perjalanan yang modern sekaligus berada di ruang yang terawat nilai historisnya. Heritage dan modernisasi kami kelola dalam satu arah yang sama," tutup Anne.

KAI mengajak masyarakat dan pelanggan bersama menjaga aset bersejarah tersebut, menjaga kebersihan, ketertiban, dan penghormatan terhadap nilai sejarah sebagai tanggung jawab bersama dalam merawat warisan bangsa.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.