• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Goa Tangadu, Geologi Berum...

Goa Tangadu, Geologi Berumur Jutaan Tahun

Jumat, 27 Feb 2026, 07:15 WIB

Destinasi Kabupaten Landak bukan hanya hutan hujan yang masih alami, dan air terjun yang jumlahnya cukup banyak. Wilayah yang berada di Provinsi Kalimantan Barat ini juga memiliki batuan karst dengan goa-goanya.

Berada di balik rimbunnya hutan tropis Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, tersimpan sebuah mahakarya geologi yang belum banyak terjamah publik. Goa Tangadu, begitu masyarakat setempat menyebutnya, merupakan labirin batuan karst yang memadukan keindahan formasi stalaktit dengan nilai sakralitas budaya Dayak yang kental.

Ket. Foto: Goa Tangadu (atau lebih dikenal sebagai Goa Andu) berlokasi di Desa Engkangin, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. — Sumber: Foto: Istimewa

Tidak ada data spesifik mengenai umur geologis pasti Goa Tangadu di Kabupaten Landak. Berdasarkan peta geologi wilayah tersebut, goa ini kemungkinan terbentuk pada masa Tersier, namun studi geologi khusus untuk menentukan umur presisi goa ini belum ditemukan.

Zaman Tersier berada pada rentang waktu sekitar 66–2,6 juta tahun lalu adalah periode awal era Kenozoikum yang menandai punahnya dinosaurus dan dominasi mamalia. Ditandai dengan iklim hangat, benua bergeser ke posisi saat ini, munculnya primata/kera, dan perkembangan tumbuhan berbunga.

Goa Tangadu (atau lebih dikenal sebagai Goa Andu) berlokasi di Desa Engkangin, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Lokasi ini dapat dijangkau menggunakan kendaraan bermotor dengan menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Serimbu, sebuah desa yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan atau ibu kota dari Kecamatan Air Besar

Secara geografis, objek wisata minat khusus ini berada di kawasan yang searah dengan jalur menuju Serimbu, wilayah yang dikenal sebagai episentrum wisata alam di Kabupaten Landak. Meski menawarkan panorama yang memukau, Goa Tangadu menuntut stamina prima bagi siapa pun yang ingin menjamahnya.

Memasuki mulut goa, pengunjung segera disambut oleh transformasi suhu yang drastis. Udara hutan yang lembap berganti dengan hawa sejuk dari dalam rongga bumi. Di dalam interior goa, mata akan dimanjakan oleh barisan stalaktit dan stalagmit yang terbentuk dari proses kalsifikasi selama jutaan tahun.

Proses kalsifikasi stalaktit dan stalagmit adalah pengendapan kalsium karbonat secara perlahan yang menggantung di atap gua di dasar goa, terbentuk ketika air hujan bermineral meresap melalui batuan kapur. Air yang membawa kalsium bikarbonat terlarut menetes dari langit-langit, melepaskan karbon dioksida dan mengendapkan mineral (kalsit) akibat penguapan dan perubahan fisika. 

Beberapa pilar batu tampak menyatu antara langit-langit dan dasar goa, menciptakan pilar alami yang megah. Struktur dindingnya pun memiliki keunikan tersendiri; pada beberapa titik, kandungan mineral kristal memantulkan cahaya senter dengan kilauan yang menyerupai berlian kasar. Ruang utama yang luas dengan atap tinggi memberikan kesan teatrikal, seolah-olah pengunjung sedang berada di dalam katedral alam.

Goa Tangadu bukan sekadar ruang kosong. Tempat ini merupakan habitat bagi koloni besar kelelawar yang berperan penting dalam menjaga ekosistem hutan sekitarnya melalui penyebaran biji-bijian dan penyerbukan.

Namun, bagi warga Dayak di Kecamatan Air Besar, Tangadu lebih dari sekadar destinasi wisata. Ada dimensi spiritual yang melekat erat pada dinding-dinding batunya. Menurut kepercayaan lokal, goa ini adalah tempat keramat yang dijaga oleh kekuatan non-fisik.

Meski memiliki potensi besar sebagai destinasi sport tourism dan wisata edukasi, aksesibilitas masih menjadi tantangan utama. Medan yang berat serta keterbatasan fasilitas penunjang membuat Goa Tangadu saat ini lebih banyak dikunjungi oleh para pecinta alam dan ­peneliti. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Hasil Liga Italia: Napoli Awali Musim Serie A dengan Taklukkan Genoa 2-0, De Bruyne Sumbang Gol

Inter Milan Pesta Gol! Monza Dibungkam 4-1 di Laga Pembuka

‘It Ends’: Backrooms Perjalanan di Pedalaman

Hasil Mengejutkan! Tottenham Hotspur Dibantai Brentford 0-3

Wow Fantastis! QRIS Makin Diminati, Pengguna di Sulsel Kini Tembus 1,5 Juta

Kabut Asap Karhutla Makin Pekat, Warga Kompleks Aeropolis Banjarbaru Mulai Mengungsi

Bayern Muenchen Buktikan Kelasnya, Juara Piala Super Jerman!

Gempa Cukup Kuat M 5,4 Guncang Sulteng, Perairan Pulau Puh Jadi Titik Episentrum

Situasi Makin Genting! Kapolda Kalsel Pimpin Pemadaman Karhutla Dekat Bandara

Jakarta Perangi Tawuran! Pemprov DKI Pastikan Penanganan Dilakukan Berkelanjutan

Mengejutkan di Liga Inggris! Manchester United Dipermalukan Tim Promosi Hull City dengan Skor 0-2

KAI Palembang Tambah Kereta Eksekutif Saat Libur Maulid Nabi, Cek Jadwalnya!

Luar Biasa Indonesia Borong Medali! Tampil Gemilang di Kejuaraan Open Water Swimming Asia Tenggara

Wow Canggih Terobosan BRIN Ini! Inovasi Kayu Transparan dengan Memanfaatkan Bahan Organik

Melon Jadi Harapan Baru! Kelompok Tani di Kulon Progo Genjot Ketahanan Pangan

AS Kenakan Tarif 50 Persen untuk Barang Kanada Senilai US$20 Miliar, Ottawa Siapkan Balasan

Gubernur Pramono Tegas! Efisiensi Bukan Alasan untuk Mengorbankan Layanan Dasar Warga Jakarta

Pasukan Tambahan Berdatangan! Tiga Batalyon dari Jawa Bantu Atasi Karhutla Kalimantan

Mengkhawatirkan! 9 Kali Meletus dalam Sehari, Gunung Anak Krakatau Jadi Sorotan

Koperasi Tak Boleh Kuno Lagi! Menkop Ferry Dorong Digitalisasi hingga Ekspansi Bisnis

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.