• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Kepulauan Svalbard, Tempat...

Kepulauan Svalbard, Tempat Paling Damai di Bumi

Selasa, 24 Feb 2026, 07:15 WIB

TERPAKU di antara daratan Norwegia dan Kutub Utara, Kepulauan Svalbard berdiri sebagai benteng es yang menantang nalar manusia. Dengan luas sekitar 61.000 kilometer persegi hampir seukuran Jawa Timur wilayah ini adalah lanskap ekstrem.

Dua pertiganya luas kepulauan itu tertutup gletser, sisanya pegunungan bergerigi, fjord dalam, dan dataran tundra yang membeku hampir sepanjang tahun. Matahari bisa tak terbit berbulan-bulan saat malam kutub, lalu bersinar tanpa jeda pada musim panas.

Ket. Foto: Turis Tiongkok dari Shanghai mengambil foto di depan papan petunjuk terkenal yang terletak di bandara Longyearbyen di kepulauan Svalbard, Norwegia, pada 18 Februari 2026. — Sumber: Oriane Laromiguière/AFP

Selama berabad-abad, Svalbard hanyalah titik sunyi di peta, sebuah terra nullius tanah tak bertuan yang didatangi pemburu paus Eropa sejak abad ke-17. Jejak mereka kini tinggal reruntuhan tungku minyak paus dan kayu lapuk di pesisir beku. Tidak ada pemerintahan, tidak ada hukum nasional yang tegas. Hanya angin Arktik dan beruang kutub yang berkuasa.

Memasuki awal abad ke-20, kesunyian itu pecah oleh “demam emas hitam”—batu bara. Penemuan cadangan besar mengundang perusahaan-perusahaan dari Norwegia, Rusia, Amerika Serikat, dan Inggris. Permukiman tambang tumbuh cepat, termasuk Longyearbyen yang didirikan pengusaha Amerika John Munro Longyear, serta Barentsburg yang kemudian dikelola Rusia.

Tanpa status hukum yang jelas, persaingan kepemilikan lahan dan hak tambang berpotensi memicu konflik terbuka. Momentum penyelesaiannya datang setelah Perang Dunia I, ketika para pemenang perang berkumpul di Paris untuk menata ulang tatanan global. Pada 9 Februari 1920, lahirlah Perjanjian Svalbard sebuah eksperimen hukum internasional yang hingga kini dianggap unik dan relatif sukses.

Perjanjian ini adalah mahakarya kompromi. Dunia mengakui kedaulatan penuh Kerajaan Norwegia atas Svalbard yang resmi berlaku pada 1925 namun dengan “catatan kaki” yang menantang konsep klasik kedaulatan.

Tiga Pilar yang Mendobrak Tradisi

Akses Non-Diskriminatif. Warga negara dari lebih dari 45 negara penandatangan memiliki hak yang sama untuk menetap, bekerja, menambang, dan menangkap ikan di Svalbard. Prinsip ini membuka ruang koeksistensi lintas bangsa di satu wilayah berdaulat.

Prinsip Pajak Terbatas. Pajak yang dipungut di Svalbard hanya boleh digunakan untuk kepentingan lokal. Oslo tidak bisa menjadikannya sumber pemasukan bagi daratan utama. Skema ini menciptakan sistem fiskal yang ringan sekaligus menjaga daya tarik ekonomi wilayah tersebut.

Demiliterisasi (Pasal 9). Klausul paling sakral: Svalbard tidak boleh dijadikan pangkalan militer atau zona perang. Ketentuan ini menjadikannya “kantong perdamaian” bahkan saat Perang Dingin memuncak. Di tengah rivalitas NATO dan Uni Soviet, tidak ada benteng atau kapal perang yang boleh berlabuh permanen di sana.

Dua Dunia dalam Satu Kepulauan

Dinamika paling menarik terlihat dari keberadaan komunitas Rusia di wilayah yang berada di bawah kedaulatan Norwegia. Berkat perjanjian tersebut, Rusia pewaris Uni Soviet tetap mempertahankan kota tambang Barentsburg. Di sana, patung Lenin masih berdiri menghadap laut beku, menjadi simbol era ideologis yang belum sepenuhnya sirna.

Beberapa puluh kilometer dari sana, di Longyearbyen, bendera Norwegia berkibar di atas kota modern dengan universitas, museum, dan infrastruktur digital mutakhir. Dua identitas nasional hidup berdampingan tanpa kontak senjata, diikat oleh selembar dokumen berusia lebih dari satu abad.

Ketika industri batu bara meredup, Svalbard menemukan peran baru yang jauh melampaui ekonomi ekstraktif. Karena stabilitas geologis dan suhu alaminya yang dingin, wilayah ini dipilih sebagai lokasi Svalbard Global Seed Vault gudang benih global yang menyimpan jutaan sampel tanaman pangan dari seluruh dunia.

Terkubur di dalam permafrost gunung, fasilitas ini berfungsi sebagai cadangan terakhir jika terjadi perang, bencana alam, atau krisis iklim global. Di sini, diplomasi melampaui batas negara—ia berbicara tentang ketahanan pangan dan kelangsungan hidup umat manusia.

Es yang Mencair

Namun, relevansi Perjanjian Svalbard kini diuji oleh perubahan iklim. Arktik memanas hampir empat kali lebih cepat dari rata-rata global. Gletser menyusut, es laut menipis, dan peluang ekonomi baru muncul.

Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Perdebatan muncul mengenai apakah hak akses setara juga berlaku pada landas kontinen dan perairan di sekitar Svalbard yang kaya potensi minyak dan gas. Norwegia menegaskan yurisdiksinya, sementara sejumlah negara memiliki tafsir berbeda atas cakupan perjanjian.

Jalur Pelayaran Trans-Arktik. Mencairnya es membuka rute pelayaran yang lebih pendek antara Asia dan Eropa. Svalbard berada di posisi strategis sebagai pos pengamatan dan logistik di jalur baru ­tersebut.

Di tengah dinamika itu, Perjanjian Svalbard tetap menjadi jangkar stabilitas. Ia membuktikan bahwa perdamaian bisa dibangun bukan dengan dominasi, melainkan dengan kompromi yang terukur.

Di ujung dunia yang beku, hukum internasional bukan sekadar teks kering. Ia hidup dalam keseharian warga, dalam riset ilmiah tentang iklim, dan dalam gudang benih yang menyimpan masa depan.

Svalbard mengingatkan dunia bahwa bahkan di wilayah paling ekstrem sekalipun, bendera-bendera dapat berkibar berdampingan tanpa harus saling menghunus senjata menjaga agar es di sana tidak mencair menjadi konflik yang menghanguskan. hay

  • Tempat Paling Damai di Bumi

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Hebat Prestasi Mendunia! Lima Mahasiswa UI Tembus Program Geosains di Houston

Jalan layang Bomang Buka Akses Warga Bojonggede dan Parung Langsung ke Cibinong

Pemkot Pariaman dan KKP Koordinasi Realisasikan Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih

Beras Indonesia Surplus 3,67 Juta Ton, Kok Harga di Daerah Masih Bisa Rp30 Ribu?

Inter Milan Rekrut Curtis Jones dari Liverpool, Kontrak hingga 2031

Kirab Ancak Agung Jember Kembali Bikin Sejarah, Rekor MURI Berhasil Dipecahkan!

Pemprov Gorontalo Perkuat Sektor Agro Maritim

Sungai Musi Bersih, Kota Palembang Asri! Wali Kota Dorong Aksi Peduli Lingkungan

Pemkot Palu Sasar 31.316 Penerima Manfaat Bantuan Pangan

Hasil Liga Spanyol: Mourinho Awali Periode Kedua di Madrid dengan Kemenangan 2-1 Atas Espanyol

Dari yang Paling Horor Hingga yang Mengecewakan: Ranking Enam Film Insidious

Kabut Asap Makin Pekat, Dinkes Palembang Imbau Warga Gunakan Masker

Karang Taruna Nasional Kerahkan Personel Turut Tangani karhutla di Kalbar

Pemain Timnas Indonesia Ole Romeny Kena Kartu Merah, Fortuna Sittard Harus Akui Keunggulan AZ Alkmaar

Pemprov Sumut Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Transformasi Digital

Gelar Bazar Harkop Harnas, Pemkab Lebak Bantu Pasarkan Produk UMKM ‎

Produk UMKM Lebak Makin Laris! Pemkab Bantu Pasarkan Lewat Bazar

Pacu Daya Saing sebagai Kota Global, Pemprov DKI Dorong Penguatan Ekosistem Musik

12 Film Horor dengan Penggambaran Dunia Paling Mengerikan dan Memikat

Kapal Korea Selatan Tembus Jalur Arktik, Rute Baru Asia-Eropa Pangkas 7.000 Km

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.