Bau RDF Rorotan Tak Kunjung Usai, Pemprov DKI Diminta Buka Data Emisi ke Publik

Minggu, 22 Feb 2026, 17:30 WIB

JAKARTA - Ketua Fraksi PKB DPRD DKI Jakarta M. Fu’adi Luthfi mengapresiasi langkah Gubernur Pramono Anung yang turun langsung menemui warga terkait keluhan aroma tak sedap dari operasional RDF Plant Rorotan saat kunjungan di Taman Kelinci Roci. Ia menilai respons tersebut mencerminkan kepemimpinan yang terbuka terhadap aspirasi masyarakat.

Menurut Fu’adi, kehadiran langsung gubernur di tengah warga menjadi sinyal positif bahwa pemerintah tidak menutup mata atas persoalan yang terjadi. Sikap responsif tersebut, kata dia, patut diapresiasi sebagai bagian dari tata kelola yang partisipatif.

Ket. Foto: DPRD DKI Jakarta mengapresiasi respons Gubernur Pramono Anung terkait keluhan bau RDF Rorotan, namun menilai perlu audit independen dan pembenahan sistem pemilahan sampah. — Sumber: DPRD DKI Jakarta

"Langkah ini patut dihargai," ujar anggota Komisi D itu dalam keterangan tertulis, Rabu (18/2).

Meski demikian, Fu’adi menilai persoalan di RDF Plant Rorotan tidak cukup diselesaikan melalui langkah teknis di permukaan semata. Instruksi penggunaan truk compactor tertutup disebut sebagai awal yang baik, namun belum menyentuh akar persoalan yang lebih mendasar.

"Fasilitas senilai Rp1,28 triliun itu sudah beberapa kali dihentikan sejak uji coba. Ini indikator ada aspek mendasar yang perlu dievaluasi serius," kata Fu’adi.

Ia menjelaskan, persoalan utama bukan hanya pada armada pengangkut sampah, melainkan ketidaksesuaian antara karakteristik sampah yang masuk dengan spesifikasi teknologi RDF. Sistem tersebut dirancang untuk mengolah sampah yang telah terpilah dan relatif kering, sementara praktik di lapangan menunjukkan kondisi berbeda.

Dalam operasionalnya, sampah yang masuk masih bercampur antara organik dan anorganik. Bahkan pada tahap awal, fasilitas sempat memanfaatkan sampah lama dari bunker sehingga proses pengolahan harus sekaligus memilah dan mengeringkan material yang belum sesuai standar.

Kondisi tersebut dinilai membuat mesin bekerja lebih berat dan berpotensi memunculkan aroma tak sedap. Fu’adi menyebut terdapat kesenjangan antara kesiapan infrastruktur hilir dengan sistem pemilahan di hulu yang belum optimal.

"Terlihat ada kesenjangan antara kesiapan infrastruktur hilir dan sistem pemilahan di hulu," ungkap dia.

Ketika kapasitas dinaikkan dari 750 ton menjadi 1.000 ton per hari, keluhan bau kembali muncul di tengah masyarakat. Padahal, kapasitas desain penuh fasilitas tersebut mencapai 2.500 ton per hari.

Dengan produksi sampah Jakarta yang melebihi 7.500 ton per hari, RDF Rorotan saat ini baru mampu menampung sekitar sepertiga dari total timbulan sampah. Itu pun dalam kondisi material yang belum sepenuhnya terpilah sesuai standar teknologi.

Fu’adi menekankan bahwa persoalan ini berdampak langsung pada kualitas hidup warga sekitar. Keluhan gangguan kesehatan seperti ISPA dan iritasi mata mulai terdengar, disertai beban psikologis akibat ketidakpastian operasional fasilitas tersebut.

Ia mengapresiasi pembentukan Satgas Pengawasan bersama warga pada 13 Februari 2026. Namun menurutnya, forum tersebut perlu diperkuat dengan akses informasi yang memadai dan kewenangan nyata agar tidak sekadar simbol partisipasi.

"Warga ingin fasilitas ini berhasil, tapi mereka berhak atas kepastian dan data yang terbuka," tegas dia.

Sebagai bagian dari fungsi pengawasan, Fraksi PKB menyampaikan tiga rekomendasi kepada Pemprov DKI Jakarta. Pertama, audit independen terhadap sistem pengendalian bau dan emisi dengan hasil yang transparan dan dapat diakses publik serta DPRD.

Kedua, penguatan sistem pemilahan sampah dari sumber agar teknologi RDF berjalan sesuai desain. Ketiga, penetapan tolok ukur kinerja dan batas waktu yang jelas sebelum fasilitas beroperasi penuh.

"Kita ingin Jakarta mandiri dan tak lagi bergantung pada Bantargebang," tutur dia.

Fu’adi menegaskan Fraksi PKB mendukung modernisasi pengelolaan sampah di Ibu Kota. Namun ia mengingatkan, setiap solusi tidak boleh mengorbankan kenyamanan dan kesehatan warga sekitar.

"Rorotan harus jadi momentum perbaikan tata kelola dan transparansi, tanpa ada warga yang dirugikan," pungkas dia.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

Xabi Alonso Yakin Cole Palmer Tampil Menawan Bersama Chelsea Jelang Laga Lawan Fulham

Karya Tangan Badui Unjuk Gigi di Bazar Harkop Harnas 2026

Jelang Laga Kontra Liverpool, Newcastle United Resmi Perluas Kapasitas St James' Park

Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

3 Tantangan Berat Trent Alexander-Arnold Usai Putuskan Hengkang dari Liverpool

Virus Zika Jadi Sorotan, Dispar Bali Minta Wisman Tetap Santai Berwisata

PLN dan YBM PLN Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Promo Tambah Daya untuk Warga Lenteng Agung.

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.