Meugang Rayeuk Sambut Ramadan di Lhokseumawe: Ketika Pasar Jadi Ruang Temu Tradisi dan Kebersamaan

Rabu, 18 Feb 2026, 14:55 WIB

LHOKSEUMAWE – Pagi itu, lorong-lorong Pasar Inpres Lhokseumawe terasa lebih ramai dari biasanya. Di tengah aroma daging segar dan riuh tawar-menawar, warga penyintas banjir bandang dan tanah longsor tampak berbaur dengan pembeli lain—datang dengan langkah cepat, mata berbinar, dan kantong yang sudah disiapkan khusus untuk satu misi: berburu daging menjelang tradisi meugang rayeuk.

Bagi masyarakat di Lhokseumawe, meugang bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah penanda datangnya bulan suci, momen berkumpul keluarga, sekaligus cara sederhana merayakan hidup—terlebih bagi mereka yang baru saja melewati masa-masa sulit akibat bencana.

Ket. Foto: Warga berbelanja daging sapi untuk kebutuhan tradisi meugang menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H di Pasar Inpres Lhokseumawe, Aceh, Rabu (18/2/2026). — Sumber: ANTARA FOTO/ Aprillio Akbar

Di bawah langit Aceh yang mulai cerah, antrean di lapak-lapak daging pun mengular. Ada yang datang sejak subuh, ada pula yang baru sempat mampir setelah mengurus rumah atau anak.

“Yang penting bisa masak daging buat keluarga,” kata seorang ibu sambil menggenggam plastik belanjaannya erat-erat. Kalimat sederhana itu menyimpan makna dalam: setelah kehilangan harta, bahkan tempat tinggal, bisa kembali merayakan Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi dengan hidangan khas meugang terasa seperti kemenangan kecil yang patut disyukuri.

Di sudut pasar, para pedagang sibuk menimbang pesanan, sementara pembeli saling berbagi cerita—tentang banjir yang surut, tentang rumah yang sedang diperbaiki, juga tentang harapan baru. Suasana pasar hari itu bukan hanya soal transaksi, tapi juga tentang daya tahan dan kebersamaan.

Meugang rayeuk akhirnya menjadi lebih dari tradisi. Ia menjelma ruang temu antara luka dan harapan, tempat para penyintas kembali menata langkah, menyambut Ramadhan dengan doa, dan keyakinan bahwa hari esok bisa lebih baik.

"Dagingnya untuk bikin sop. Anak-anak mau pulang dari Banda Aceh, mau makan-makan bersama," ujar Meta ketika ditemui di Pasar Inpres Lhokseumawe, Aceh, Rabu.

Meta menyampaikan harga daging yang dibeli berkisar di angka Rp170 ribu-Rp180 ribu per kg.

Selain membeli daging, Meta juga membeli bahan-bahan untuk memasak, seperti rempah-rempah dan sayuran.

Sementara, seorang penjual, Azhur menyampaikan sejak Selasa (17/2/2026), menjual 10 ekor sapi dengan harga rata-rata Rp180 ribu per kg.

Azhur mengaku dagangannya paling banyak terjual pada Selasa) malam selepas Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis (19/2/2026).

"Sudah dari kemarin (berjualan), 10 ekor terjual," kata Azhur.

Pedagang sapi lainnya, yang akrab disapa "Bang Bing" menyampaikan pascabencana banjir bandang, masyarakat masih ramai membeli daging untuk tradisi meugang.

"Banyak yang beli, lumayanlah pascabanjir," katanya.

Bing baru mulai berjualan daging pada Selasa (18/2/2026) sore.

Pada Rabu ini merupakan puncak perayaan meugang, karena hari terakhir sebelum puasa.

Berdasarkan laman resmi Pemerintah Provinsi Aceh, meugang atau makmeugang merupakan tradisi memasak daging untuk dinikmati bersama keluarga, kerabat, hingga yatim piatu.

Tradisi meugang dilakukan oleh masyarakat Aceh untuk menyambut Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.