• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Ini 6 Versi Niat Puasa Ram...

Ini 6 Versi Niat Puasa Ramadhan Sesuai Kitab Mazhab Syafi'i, Jangan Sampai Salah!

Rabu, 18 Feb 2026, 18:35 WIB

JAKARTA - Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mensyaratkan niat sebagai rukun utama yang menentukan sah atau tidaknya ibadah. Dalam Mazhab Syafi'i, niat puasa wajib dilakukan di dalam hati pada malam hari sejak terbenam matahari hingga sebelum terbit fajar.

Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU), Ustadz Alhafiz Kurniawan, menegaskan pentingnya niat dalam puasa wajib. Ia menjelaskan, puasa Ramadhan, puasa nazar, dan qadha puasa wajib tidak sah tanpa niat yang ditetapkan pada malam hari.

Ket. Foto: Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mensyaratkan niat sebagai rukun utama yang menentukan sah atau tidaknya ibadah. Dalam Mazhab Syafi'i, niat puasa wajib dilakukan di dalam hati pada malam hari sejak terbenam matahari hingga sebelum terbit fajar. — Sumber: Pexels

"Niat puasa wajib di dalam hati pada malam hari seperti puasa Ramadhan, puasa nazar, dan qadha puasa wajib merupakan kewajiban yang menentukan keabsahan puasa seseorang menurut Mazhab Syafi’i. Adapun pelafalan niat puasa sangat dianjurkan," tulis Ustadz Alhafiz.

Ustadz Alhafiz merujuk sejumlah kitab fikih klasik yang memuat redaksi niat puasa Ramadhan dengan variasi lafaz. Perbedaan tersebut terletak pada aspek gramatikal bahasa Arab, tetapi maknanya tetap sama.

Berikut enam macam niat puasa Ramadhan yang dapat dipilih sesuai rujukan kitab:

1. Minhajut Thalibin dan Perukunan Melayu

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin 'an adā'i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanati lillāhi ta'ālā

Artinya: "Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala."

Dalam redaksi ini, kata "Ramadhana" berkedudukan sebagai mudhaf ilaihi sehingga dibaca khafadh dengan tanda fathah. Sementara "sanati" diakhiri kasrah sebagai tanda jarr karena alasan lil mujawarah.


2. Hasyiyatul Jamal dan Irsyadul Anam

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin "an adā'i fardhi syahri Ramadhāni hādzihis sanati lillāhi ta'ālā

Artinya: "Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta"ala."

Pada versi ini, kata "Ramadhani" tetap menjadi mudhaf ilaihi sekaligus mudhaf sehingga diakhiri kasrah sebagai tanda jarr. Adapun "sanati" juga diakhiri kasrah sebagai tanda jarr atas musyar ilaih dari kata "hādzihi".


3. Asnal Mathalib (Versi Pertama)

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هٰذِهِ السَّنَةَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin 'an adā'i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanata lillāhi ta'ālā

Artinya: "Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta'ala."

Kata "Ramadhana" tetap dibaca khafadh dengan tanda fathah sebagai mudhaf ilaihi. Sementara "sanata" diakhiri fathah sebagai tanda nashab karena berfungsi sebagai zharaf.


4. Asnal Mathalib (Versi Kedua)

نَوَيْتُ صَوْمَ الْغَدِ مِنْ هٰذِهِ السَّنَةِ عَنْ فَرْضِ رَمَضَانَ
Nawaitu shaumal ghadi min hādzihis sanati 'an fardhi Ramadhāna

Artinya: "Aku berniat puasa esok hari pada tahun ini perihal kewajiban Ramadhan."

Redaksi ini lebih ringkas, tetapi tetap mencakup unsur waktu dan penegasan kewajiban puasa Ramadhan. Struktur kalimatnya berbeda, namun substansi niatnya tetap sama.


5. I’anatut Thalibin (Versi Pertama)

نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ
Nawaitu shauma Ramadhāna

Artinya: "Aku berniat puasa bulan Ramadhan."

Versi ini termasuk paling singkat dan sederhana. Meski pendek, redaksi tersebut tetap sah selama diniatkan pada malam hari sesuai ketentuan Mazhab Syafi'i.


6. I’anatut Thalibin (Versi Kedua)

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ/عَنْ رَمَضَانَ
Nawaitu shauma ghadin min/‘an Ramadhāna

Artinya: "Aku berniat puasa esok hari pada bulan Ramadhan."

Redaksi ini menegaskan niat untuk hari berikutnya dalam bulan Ramadhan. Perbedaan penggunaan "min" atau "'an" tidak mengubah makna pokok niat tersebut.

Perbedaan redaksi dalam berbagai kitab fikih tersebut menunjukkan keluasan khazanah keilmuan Islam. Meski lafaznya beragam, esensinya tetap sama, yakni menetapkan niat puasa Ramadhan di dalam hati pada malam hari demi menjalankan kewajiban kepada Allah SWT.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.