Tiongkok Memulai Liburan Imlek Selama 9 Hari

Senin, 16 Feb 2026, 02:40 WIB

BEIJING - Liburan Tahun Baru Imlek selama sembilan hari di Tiongkok dimulai pada Minggu (15/2), dengan Jepang turun peringkat dari 10 destinasi luar negeri terpopuler bagi wisatawan Tiongkok setelah Beijing mendesak warganya untuk tidak mengunjungi negara tetangga tersebut di tengah ketegangan diplomatik terkait Taiwan.

Korea Selatan diperkirakan akan menjadi destinasi luar negeri terpopuler dengan sekitar 250.000 pengunjung dari Tiongkok, meningkat 1,5 kali lipat dari tahun sebelumnya. “Negara-negara populer lainnya termasuk Thailand, Singapura, Vietnam, Turki, dan Russia,” lapor media lokal.

Ket. Foto: Sejumlah warga Tiongkok antre di pintu masuk sebuah stasiun di Beijing pada Sabtu (14/2). Mereka bergegas pulang kampung karena Tiongkok pada Minggu (15/2) memulai liburan Tahun Baru Imlek selama 9 hari. — Sumber: AFP/ADEK BERRY

Ketegangan tersebut bermula dari pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, di parlemen pada November lalu yang mengisyaratkan bahwa Jepang dapat bertindak jika terjadi serangan terhadap Taiwan, sebuah pulau yang memerintah sendiri dan diklaim oleh Tiongkok.

Di tengah perselisihan Beijing-Tokyo, jumlah wisatawan Tiongkok yang menuju Jepang selama liburan Tahun Baru Imlek diperkirakan akan turun hingga 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Diperkirakan akan terjadi rekor 9,5 miliar perjalanan selama periode puncak perjalanan Festival Musim Semi selama 40 hari hingga 13 Maret, yang dalam bahasa Mandarin dikenal sebagai Chunyun itu

Konsulat Jenderal Tiongkok di Osaka pada Minggu sekali lagi mendesak warga negara Tiongkok untuk menahan diri dari bepergian ke Jepang menyusul insiden penusukan fatal di Distrik Dotombori yang ramai di kota itu pada malam sebelumnya.

Warga negara Tiongkok yang tinggal di Jepang diminta untuk memperhatikan situasi dengan saksama sambil memperkuat langkah-langkah dan kesadaran akan keselamatan pribadi, kata konsulat tersebut melalui akun WeChat resminya.

Menyusul peringatan perjalanan berulang kali dari Beijing berdasarkan klaimnya bahwa kejahatan yang menargetkan warga negara Tiongkok telah meningkat di Jepang, seorang pria berusia 67 tahun di Bandara Shanghai pada Minggu mengatakan bahwa ia akan bergabung dengan tur kelompok ke Russia setelah membatalkan perjalanannya ke Jepang.

Sementara itu, seorang wisatawan berusia 45 tahun yang akan berlibur ke Jepang mengatakan bahwa ia memahami niat pemerintah Tiongkok tetapi percaya bahwa pertukaran antar masyarakat itu penting.

Seorang perempuan asal Shanghai berusia 30-an mengatakan sebelum liburan dimulai bahwa ia berencana pergi ke Prefektur Yamanashi, Jepang, bersama orang tuanya. "Peringatan perjalanan itu bertujuan untuk memicu kritik terhadap Jepang. Keluarga saya tidak mau dicuci otak," kata dia.

Pada hari Sabtu (14/2), diplomat tertinggi Tiongkok, Wang Yi, sekali lagi mengkritik pernyataan Takaichi di Konferensi Keamanan Munich, dengan mengatakan bahwa pernyataan tersebut secara langsung menantang kedaulatan Tiongkok. “Ia juga memperingatkan terhadap tren berbahaya baru-baru ini di Jepang," menurut kantor berita resmi Xinhua.

Beijing mengklaim pemimpin Jepang itu telah berupaya menghidupkan kembali militerisme, karena khawatir Takaichi, yang dikenal sebagai tokoh garis keras dalam bidang keamanan, dapat memperkuat kemampuan pertahanan negaranya dan mempercepat pembahasan tentang amandemen konstitusi pasifis pascaperang. KyodoNews/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.