Putra Shah Terakhir Iran Desak AS Segera Bertindak

Senin, 16 Feb 2026, 02:50 WIB

MUNICH – Putra Shah terakhir Iran yang diasingkan pada Sabtu (14/2) mengatakan ia siap memimpin negara itu menuju masa depan demokrasi sekuler dalam sebuah rapat umum di Munich, Jerman, setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan bahwa perubahan kekuasaan akan menjadi hal terbaik.

Hal ini terjadi ketika Washington DC terus terlibat secara diplomatik dengan pemerintah Teheran, dengan Swiss pada Sabtu mengkonfirmasi bahwa mediator Oman akan menjadi tuan rumah putaran pembicaraan baru di Jenewa pekan depan.

Ket. Foto: Sejumlah pengunjuk rasa berpartisipasi dalam pawai dukungan bagi warga dan diaspora Iran di Kota Los Angeles pada Sabtu (14/2). Mereka turun ke jalan untuk mendesak AS segera bertindak untuk mengubah kekuasaan di Iran. — Sumber: AFP/Patrick T Fallon

Reza Pahlavi, yang berbasis di AS dan belum kembali ke Iran sejak sebelum revolusi Islam 1979 yang menggulingkan monarki, mengatakan kepada sekitar 200.000 pendukungnya bahwa ia dapat memimpin transisi.

"Saya di sini untuk menjamin transisi menuju masa depan demokrasi sekuler," kata dia. "Saya berkomitmen untuk menjadi pemimpin transisi bagi Anda sehingga suatu hari nanti kita dapat memiliki kesempatan terakhir untuk menentukan nasib negara kita melalui proses yang demokratis dan transparan hingga ke kotak suara," tegas dia.

Pernyataan Pahlavi disambut dengan teriakan massa "Javid Shah (hidup Shah)" yang berkumpul sambil mengibarkan bendera hijau-putih-merah bergambar singa dan matahari, lambang monarki yang telah digulingkan.

"Rezim Iran adalah rezim yang sudah mati," kata seorang demonstran berusia 62 tahun yang berasal dari Iran dan hanya menyebut namanya sebagai Said kepada AFP. "Ini harus menjadi akhir dari segalanya," imbuh dia.

Pahlavi telah mendesak warga Iran di dalam dan luar negeri untuk terus berdemonstrasi, menyerukan mereka untuk meneriakkan slogan-slogan dari rumah dan atap rumah mereka pada Sabtu dan Minggu (15/2) pukul 20.00 (1630 GMT), bertepatan dengan protes di Jerman dan tempat lain.

Ribuan demonstran dalam berbagai aksi unjuk rasa dari pusat Kota Los Angeles hingga National Mall di Washington DC berpawai sebagai bentuk solidaritas pada Sabtu dengan protes anti-pemerintah di Iran.

"Trump, bertindak sekarang!" teriak para demonstran di Toronto.

Tingkatkan Tekanan

Trump mengatakan pada Jumat (13/2) lalu bahwa perubahan pemerintahan di Iran akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi, saat ia mengirimkan kapal induk kedua ke Timur Tengah untuk meningkatkan tekanan militer terhadap Teheran.

Sebelumnya, ia mengancam akan melakukan intervensi militer untuk mendukung gelombang protes di Iran yang memuncak pada Januari dan disambut dengan penindakan keras yang menurut kelompok hak asasi manusia telah menewaskan ribuan orang.

"Kepada Presiden Trump. Rakyat Iran mendengar Anda mengatakan bantuan sedang dalam perjalanan, dan mereka percaya kepada Anda. Bantulah mereka," kata Pahlavi sebelumnya kepada wartawan yang berkumpul di Konferensi Keamanan Munich. "Sudah saatnya mengakhiri republik Islam," tegas dia.

Pahlavi sebelumnya telah mendorong warga Iran untuk bergabung dalam gelombang protes, yang menurut otoritas Iran telah dibajak oleh teroris yang didukung oleh musuh bebuyutan mereka yaitu AS dan Israel.

Banyak seruan protes menyerukan kembalinya monarki, dan Pahlavi, 65 tahun, mengatakan bahwa ia siap memimpin transisi demokrasi.

Ketika Iran memulai tindakan kerasnya, Trump awalnya mengatakan AS siap siaga untuk membantu para demonstran. Namun, belakangan ini ia lebih memfokuskan ancaman militernya pada program nuklir Teheran, yang diserang pasukan AS pada Juni lalu selama perang 12 hari yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Israel dan Iran.

Perwakilan Iran dan Amerika Serikat, yang tidak memiliki hubungan diplomatik sejak tak lama setelah revolusi 1979, mengadakan pembicaraan tentang program nuklir pekan lalu di Oman.

Pada Minggu, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Swiss mengatakan kepada AFP bahwa Oman akan menjadi tuan rumah pembicaraan di Jenewa pekan depan, tanpa memberikan detail lebih lanjut. AFP/I-1

  • Reza Pahlavi
  • shah iran

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Drama 6 Gol! AC Milan Menang Telak 4-2 atas Manchester United

Resmi! Bek Sayap Timnas Inggris Djed Spence Tinggalkan Tottenham, Kini Berseragam Inter Milan

Meriah Banget Semarak HUT RI! Seribuan Siswa Aceh Barat Turun ke Jalan Ikuti Karnaval Kemerdekaan

Meski Hasil Kurang Memuaskan, Singapura Temukan Sisi Positif Lawan Yordania

Gempa Simalungun Bikin Warga Aceh Barat Waspada, BPBD Beri Kabar Terbaru

Dedi Mulyadi Gagas Lima Desa di Bekasi Ditata dengan Nuansa Sunda, Rumah Tradisional Bakal Dipertahankan

Erdogan Ajak Mesir Bergabung dengan Pakta Pertahanan Turki-Saudi-Pakistan

Keren Tak Cuma Atasi Kerusuhan, Mobil Water Canon Polres Kudus Kini Dipakai Salurkan Air Bersih

Kebakaran Hutan Mengamuk di Eropa, Cuaca Panas dan Kering Jadi Penyebabnya

Rano Karno Gagas Serial AI “Rimba Raya”, Ajak Generasi Muda Kembali Cintai Alam

Fantastis Lada Putih Babel Mendunia! Kementerian UMKM Lepas Ekspor 8,2 Ton ke Belanda

Korsel Buka Jalan Damai dengan Korut, Tekad Akhiri Konflik Makin Kuat

Mengagetkan! Koops TNI Habema Amankan Senjata Diduga Milik OPM di Ugimba

Gawat Gempa NTT Picu Ancaman Baru! Badan Geologi Ingatkan Bahaya Turutan Likuefaksi

Terobosan Baru Pemkab Bangka Tengah, UMKM Dipermudah Dapat Modal Usaha

Kabar Baik untuk Seniman Kepri! Kemenkum Dampingi Pencatatan Hak Cipta Karya Lagu dan Lukis

Jangan Diabaikan Catatan Sejarah Ini! Sesar Flores Beberapa Kali Hasilkan Gempa Dahsyat

Terobosan Baru! Pemkab Probolinggo dan IPB Berkolaborasi Wujudkan Pesantren Mandiri Pangan

Wisatawan Jangan Panik, Pemerintah Pastikan Labuan Bajo Aman Pascagempa

The Brink of War: Teror Psikologis Menjelang Kiamat Nuklir Dunia

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.