Tanpa Integrasi Tata Ruang dan Perluasan Transportasi Umum, Kemacetan di Jakarta Sulit Diurai
Rabu, 11 Feb 2026, 01:15 WIBJAKARTA - Jakarta kota metropolitan berpenduduk 10 juta jiwa digambarkan sedang seperti sesak napas. Hal itu karena Jakarta konsisten menempati peringkat salah satu kota terpadat di dunia. Hal itu bukan sekadar karena kemacetan lalu lintas, tetapi kegagalan sistemik total dalam perencanaan kota.
Kajian akun YouTube, Behind Asia menyebutkan, rata-rata penduduk Jakarta terpaksa menghabiskan 10 tahun dari umurnya dalam kemacetan lalu-lintas. Saat jam sibuk, perjalanan sepanjang 10 kilometer harus ditempuh dalam tiga jam akibat setiap hari jutaan orang memenuhi jalanan Jakarta.
Pada saat cuaca panas, keadaan lalu-lintas tidak sekedar buruk, tapi sangat buruk. Jakarta menempati urutan deretan kota termacet di dunia, di bawah Daewoo, Bandung, Hanoi, Ho Chi Min dan Manila.
Dibalik kemacetan yang parah itu menumpuk dampak dari kebijakan yang salah selama puluhan tahun. Mimpi buruk kemacetan Jakarta tidak tercipta dalam semalam, tapi merupakan proses panjang bertahun-tahun dari kebijakan publik, pertumbuhan kendaraan dan lonjakan penduduk.
Jakarta adalah salah satu kota terbesar di Indonesia dengan populasi 10,5 juta penduduk yang dikelilingi kota-kota satelitnya Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi dengan jumlah penduduk hingga 30 juta orang yang membuat lalu lintas Jakarta pada hari kerja dilalui oleh 20 juta orang.
Di sisi lain, Jakarta kekurangan sarana transportasi publik. Hanya 22 persen populasinya yang memanfaatkan bus dan angkutan lainnya. Sisanya 78 persen bergantung pada kendaraan pribadi dengan perbandingan. Kendaraan dengan penduduk hingga 2:1.
âKonsekuensinya sangat tragis, masyarakat terjebak ratusan jam dalam kemacetan setiap tahun,â sebutnya.
Saat padat, laju kendaraan di arteri utama hanya berkisar 10-50 km/jam, lebih pelan dari sepeda angin, menghabiskan BBM dan waktu. Penelitian menunjukkan kerugian akibat kemacetan mencapai 5 miliar dollar AS per tahun atau sekitar 84,15 triliun rupiah akibat pemborosan BBM, produktivitas yang hilang dan gangguan kesehatan.
Lalu lintas juga merupakan sumber utama polusi udara Jakarta. 70 persen emisi karbon berasal dari asap kendaraan. Kualitas udara Jakarta berada di urutan ketujuh terburuk dunia. Kerugian pada manusia juga meliputi kesehatan dan hilangnya waktu yang berharga bersama keluarga.
Semua hal itu awalnya dari ketersediaan jalan, transportaai massal dan ledakan penduduk, ketiganya menciptakan badai kemacetan lalu lintas.
Menurut survei Castrol, Indeks Berhenti-Jalan Magnatec 2014, Jakarta, memiliki kemacetan lalu lintas terburuk di dunia. Dilansir oleh Smart Cities Dive, para pengemudi di Jakarta tercatat mengalami 33.240 kali berhenti-mulai setiap tahunnya, artinya mereka menghabiskan 27,22 persen dari total waktu perjalanan mereka tanpa tujuan.

Pusat Ekonomi
Pengamat Transportasi dan Tata Kota Universitas Trisakti, Yayat Supriatna yang diminta pendapatnya mengaku pesimis kemacetan dapat diselesaikan. Dia mengatakan bahwa faktor utama kemacetan yang selama ini terjadi disebabkan oleh kesalahan struktur tata ruang yang telah dilakukan oleh pemerintah, baik pusat ataupun daerah selama ini.
âKita saksikan saat ini, penumpukan pusat ekonomi di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan sebagai penyebab kemacetan. Ini sangat salah, dimana selama ini perencanaan kota yang hanya fokus internal, padahal aktivitas melibatkan 40 juta penduduk aglomerasi,â katanya.
Yayat juga menambahkan adanya kesalahan dalam penempatan pusat kegiatan ekonomi yang hanya menumpuk di area tertentu. Bahkan warga Jakarta seakan-akan terkunci dengan perencanaan kota yang menempatkan pusat perkantoran, perdagangan jasa, itu ada di Jakarta Selatan sama Jakarta Pusat saja. Kondisi tata ruang ini memaksa seluruh pergerakan manusia menuju ke satu titik pusat yang sama.
Dia juga mengkritik cara pandang pemerintah yang hanya melihat masalah Jakarta dari batas internal wilayahnya saja. Dia juga melihat bahwa Pemerintah Daerah hanya merencanakan untuk internal bagian wilayah Jakarta. Padahal yang dilihat bukan Jakarta, tapi seluruh wilayah sekitar Jakarta.
âPenyelesaian kemacetan Jakarta memerlukan integrasi tata ruang dan perluasan transportasi umum antar wilayah penyangga. Apakah ini bisa? Semua tergantung dengan kemauan dari Pemerintah sendiri, jika tidak saya prediksi kemecetan tidak akan bisa diselesaikan,â katanya.
Berbeda dengan Yayat, Pengamat transportasi publik Djoko Setijowarno mengungkapkan tingginya jumlah pengendara motor sebagai salah satu penyebab macetnya Kota Jakarta. Tingginya pengguna motor disebabkan oleh masyarakat yang malas berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum.
âDi Jakarta yang bikin macet itu banyaknya pengguna motor, keluar dari tempat manapun, hunian manapun pasti lebih memilih menggunakan motor. Padahal transportasi umum sudah cukup banyak. Pengguna motor itu merusak tatanan untuk transportasi umum. Begitu juga dengan pengguna motor di daerah Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek), juga tinggiâ katanya.
Kendati semikian, Djoko tidak sepenuhnya menyalah para pengguna motor. Sebab, fasilitas transportasi umumnya yang dinilai masih sedikit. Dia pun mendorong Pemda harus membuat feeder-feeder ke semua tanpa kecuali perumahan. Sehingga masyarakat perumahan bisa cepat mendapatkan transportasi umum.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Mohammad Zaki Alatas, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Tottenham Hotspur Tunjuk Roberto De Zerbi Sebagai Pelatih Baru, Misi Selamatkan Diri dari Jurang Degradasi
-
Pemerintah Siapkan Formasi CPNS 2026, Fresh Graduate Diprioritaskan
-
Fasilitas Data Center EDGE2 Jakarta Raih Sertifikasi Bangunan Hijau
-
Google Resmi Luncurkan Gemini di Aplikasi Google Home, Begini Cara Dapat Akses Duluan
-
BMKG: Awal November, Sejumlah Kota di Jawa dan Sumatera Berpotensi Diguyur Hujan
-
Digeser Taylor Swift, “Golden” Kpop Demon Hunters Turun ke No. 2 di British Official Chart
-
Inovasi Pertanian: Teknologi Plasma Ozon
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.