Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Inkonsistensi Kebijakan Seret “Outlook” Lima Bank Jadi Negatif

📅 Rabu, 11 Feb 2026, 01:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Inkonsistensi Kebijakan Seret “Outlook” Lima Bank Jadi Negatif Doc: istimewa
Ket. Lembaga pemeringkat kredit, Moody’s Ratings baru-baru ini menurunkan prospek atau outlook terhadap lima bank papan atas di Indonesia

JAKARTA - Lembaga pemeringkat kredit, Moody’s Ratings baru-baru ini menurunkan prospek atau outlook terhadap lima bank papan atas di Indonesia dari stabil menjadi negatif sebagai efek dari perubahan outlook peringkat sovereign pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Kelima bank yang outlook-nya direvisi yakni Bank Mandiri, BRI, BNI, BCA dan BTN. Kendati merevisi outlook, Moody's mempertahankan peringkat lima bank tersebut di level Baa2.

Perubahan outlook itu mencerminkan outlook negatif pada peringkat sovereign Indonesia, yang menurut Moody’s disebabkan oleh meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan. “Risiko tersebut tercermin dari menurunnya konsistensi dan prediktabilitas proses pembuatan kebijakan serta komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif dalam satu tahun terakhir,” kata Moody's.

Moody’s memperingatkan jika tren itu berlanjut, kredibilitas kebijakan Indonesia yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro, fiskal, serta sektor keuangan dapat tergerus. Meski demikian, peringkat Baa2 pemerintah tetap dipertahankan dengan mempertimbangkan ketahanan ekonomi Indonesia, kekuatan sumber daya alam, serta faktor demografi yang mendukung pertumbuhan PDB yang stabil.

Moody’s menegaskan bahwa penurunan peringkat sovereign Indonesia akan secara langsung memicu penurunan peringkat kelima bank tersebut. Untuk Bank Mandiri, BRI, dan BCA, penurunan sovereign juga akan diikuti oleh penurunan Baseline Credit Assessment mereka. Sementara bagi BNI dan BTN, dampaknya terutama berasal dari berkurangnya peningkatan peringkat (uplift) atas dukungan pemerintah.

Kebijakan Strategis

Pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Y Sri Susilo menilai langkah Moody’s Ratings tidak terlepas dari penilaian mereka terhadap beberapa kebijakan strategis Pemerintah yang dinilai tidak sejalan dengan praktik tata kelola yang selama ini menjadi rujukan pasar.

Selain itu, dia menyoroti kebijakan fiskal dan politik yang dinilai minim komunikasi dan kurang transparan. Alokasi anggaran besar untuk program tertentu, dilakukan bersamaan dengan pemangkasan anggaran sektor lain yang juga krusial, sehingga memunculkan kesan kebijakan yang tidak konsisten dan sulit diprediksi oleh pelaku pasar.

Dari sisi tata kelola, Sri Susilo menilai persoalan pasar modal turut memperberat sentimen negatif. Ia mengingatkan masih lemahnya pengelolaan pasar saham, mulai dari isu saham gorengan hingga keterbatasan transparansi informasi. Kondisi tersebut dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan indikator tata kelola global, sehingga menambah tekanan terhadap persepsi risiko Indonesia di mata investor internasional.

Kondisi tersebut diperburuk dengan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia yang menurutnya kini berada pada level setara dengan Laos. Penurunan persepsi jelasnya akan semakin memberatkan posisi Indonesia karena memperkuat pandangan bahwa risiko kebijakan dan tata kelola masih tinggi.

“Jika tidak segera dibenahi, tekanan terhadap peringkat sovereign dan sektor perbankan akan terus berlanjut,” kata Susilo.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
Daerah
Lima Warkop di Surabaya Ken...
Ekonomi
Riset Paramadina: Kewajiban...
Advertisement
Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

14 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.