Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

DPR Minta Hak Kesehatan Warga Harus Dilindungi

📅 Selasa, 10 Feb 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
DPR Minta Hak Kesehatan Warga Harus Dilindungi Doc: koran jakarta /m fachri
Ket. Layanan PBI BPJS tetap berjalan tiga bulan ke depan - Dari kiri ke kanan: Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri PPN/ Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, dan Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Ali Ghufron Mukti mengikuti Rapat Konsultasi bersama.

Pelaksanaannya tidak boleh menimbulkan dampak sistemik yang justru menghilangkan hak dasar masyarakat miskin dan rentan.

Jakarta – Anggota Komisi VIII DPR RI Sandi Fitrian Noor menegaskan kesehatan masyarakat tidak boleh dikorbankan demi pembaruan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang berdampak pada penonaktifan sekitar 11 juta peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan.

Dikutip dari Antara, Sandi menyatakan pembaruan data penting untuk meningkatkan akurasi dan ketepatan sasaran bantuan sosial. Namun, pelaksanaannya harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menghilangkan hak dasar masyarakat miskin dan rentan, khususnya akses layanan kesehatan.

“Pemerintah perlu lebih berhati-hati agar pembaruan DTSEN tidak merugikan hak masyarakat untuk mendapatkan akses layanan kesehatan. Pembaruan data ini bukan sekadar soal administrasi, tetapi menyangkut keselamatan jiwa,” kata Sandi di Jakarta, Senin (9/2).

Ia menyoroti kondisi pasien gagal ginjal kronis yang sangat bergantung pada layanan kesehatan berkelanjutan. Pasien gagal ginjal harus menjalani hemodialisis atau cuci darah minimal sekali dalam sepekan, dengan biaya yang dapat mencapai jutaan rupiah apabila tidak ditanggung BPJS Kesehatan.

Menurut Sandi, penonaktifan kepesertaan PBI secara mendadak membuat pasien kehilangan akses terhadap layanan medis vital yang tidak dapat ditunda. Oleh karena itu, pembaruan DTSEN harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, transisi bertahap, dan perlindungan bagi kelompok rentan.

“Validasi dan pemutakhiran data memang perlu, tetapi negara tidak boleh ‘mematikan’ jaminan kesehatan warga sebelum ada mekanisme pengganti yang jelas dan adil. Jangan sampai semangat efisiensi malah melahirkan ketidakadilan sosial,” ujarnya.

Sandi mengusulkan moratorium sementara penonaktifan PBI BPJS Kesehatan, khususnya bagi pasien penyakit katastropik seperti gagal ginjal, kanker, jantung, dan penyakit kronis lainnya hingga proses verifikasi benar-benar tuntas. Ia juga menekankan perlunya sinkronisasi data lintas kementerian dan lembaga agar tidak terjadi kekosongan perlindungan.

Masyarakat Rentan

Senada, Anggota Komisi IX DPR RI Heru Tjahjono menilai kebijakan administratif, termasuk pembaruan data kepesertaan PBI, tidak boleh dilakukan secara mendadak tanpa mekanisme perlindungan bagi pasien penyakit kronis. Menurutnya, negara memiliki kewajiban konstitusional menjamin hak atas kesehatan masyarakat rentan.

“Ketika akses itu terputus hanya karena persoalan administrasi, yang dipertaruhkan bukan sekadar data, tetapi nyawa manusia,” kata Heru.

Ia menyampaikan keprihatinan atas terhentinya layanan cuci darah yang dialami ratusan pasien gagal ginjal akibat penonaktifan kepesertaan PBI. Menurut Heru, hemodialisis merupakan layanan medis rutin yang bersifat vital dan tidak dapat ditunda tanpa risiko fatal.

Heru meminta BPJS Kesehatan, Kementerian Sosial, dan pemerintah daerah menyiapkan mekanisme darurat berupa reaktivasi cepat kepesertaan PBI bagi pasien penyakit katastropik, disertai masa tenggang kebijakan agar pelayanan medis tetap berjalan selama proses verifikasi data.

“Negara tidak boleh kalah cepat dari penyakit dan tidak boleh membiarkan rakyatnya kehilangan hak hidup hanya karena urusan administratif,” ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

Akses permodalan UMKM melalui KUR

33 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...

KPK Berharap Nusron Wahid Kooperatif

55 menit yang lalu | Ones

Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.