Lonjakan Konsumsi Bukan karena Struktural, tapi Didorong Faktor Musiman
Jumat, 06 Feb 2026, 01:15 WIBJAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 yang mencapai 5,39 persen secara tahunan (year on year/yoy), pertumbuhan triwulan IV tertinggi sejak pandemi Covid-19. Pada triwulan IV 2024 pertumbuhan ekonomi tercatat 5,02 persen, triwulan IV- 2023 sebesar 4,04 persen dan triwulan IV 2022 sebesar 5,01 persen. Pertumbuhan ekonomi tahunan tertinggi pasca pandemi sebelumnya terjadi pada triwulan III yang mencapai 5,73 persen.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/2) mengatakan pertumbuhan terjadi pada hampir seluruh lapangan usaha, kecuali sektor Pertambangan dan Penggalian yang terkontraksi 1,31 persen serta sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang yang terkontraksi 0,51 persen.
Lapangan usaha yang mencatat pertumbuhan tertinggi adalah Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,98 persen, diikuti Jasa Lainnya yang tumbuh 8,71 persen.
Sementara itu, Industri Pengolahan yang memiliki peran dominan dalam perekonomian nasional tumbuh 5,40 persen.
Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen mengalami pertumbuhan dan tertinggi dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 6,12 persen, diikuti konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) sebesar 5,90 persen, konsumsi rumah tangga sebesar 5,11 persen, konsumsi pemerintah (PK-P) sebesar 4,55 persen, serta ekspor barang dan jasa sebesar 3,25 persen. Sementara itu, impor barang dan jasa tumbuh 3,96 persen.
Konsumsi rumah tangga jelas Amalia menjadi sumber pertumbuhan tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 sebesar 2,68 persen, diikuti PMTB yang sebesar 1,96 persen.
âKita tahu bahwa konsumsi rumah tangga ini kan share-nya terhadap PDB pengeluaran mencapai 53,63 persen. Jadi ini yang menjadi driver pertama dari sisi pengeluaran,â kata Amalia.
Dengan pencapaian itu, maka secara kumulatif sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,11 persen.
Menanggapi pencapain itu, Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research, Permata Bank, Faisal Rachman mengatakan realisasi tersebut melampaui ekspektasi pasar, sekaligus mencerminkan menguatnya permintaan domestik.
âAngka ini melampaui proyeksi kami sebesar 5,25 persen (yoy) dan konsensus pasar sebesar 5,10 persen (yoy),â kata Faisal.
Permintaan domestik yang menguat itu didukung oleh peningkatan belanja dan mobilitas selama musim libur akhir tahun, kenaikan belanja pemerintah seiring agenda pro-pertumbuhan, serta membaiknya aktivitas investasi.
âKami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia akan meningkat pada 2026, meskipun terdapat sejumlah risiko utama yang perlu dicermati,â kata Faisal.
Peran Strategis
Pada kesempatan lain, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Aloysius Gunadi Brata, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berada pada level yang relatif baik, meskipun masih sedikit di bawah target pemerintah. Ia menekankan bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi pengungkit utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Aloysius, dari sisi sektoral, industri pengolahan masih memberikan kontribusi pertumbuhan tertinggi. Capaian itu penting untuk dijaga karena industri pengolahan memiliki peran strategis dalam menciptakan nilai tambah, menyerap tenaga kerja, dan menjaga stabilitas struktur ekonomi jangka menengah.
Namun demikian, Aloysius mengingatkan bahwa belum jelas sepenuhnya seberapa kuat pengeluaran masif pemerintah, terutama untuk program-program populis yang mendorong pertumbuhan konsumsi masyarakat maupun memperkuat kinerja industri manufaktur secara berkelanjutan.
Ia menilai ekspansi fiskal yang beraroma populis tidak otomatis memiliki daya tahan jangka panjang, mengingat adanya batas-batas aman dalam pengelolaan fiskal negara. Oleh karena itu, kebijakan yang secara konsisten mendukung penguatan industri pengolahan perlu mendapat prioritas, khususnya dari sisi kelembagaan.
Aloysius juga menegaskan pentingnya kendali fiskal agar ekspansi belanja negara tidak justru menjadi beban yang kontraproduktif.
Pengamat kebijakan publik dari Fitra, Badiul Hadi mengatakan, capaian realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 yang mencapai 5,39 persen layak diapresiasi, terlebih di tengah perlambatan ekonomi global dan fragmentasi geopolitik yang masih membayangi. Capaian itu menunjukkan bahwa ekonomi domestik Indonesia memiliki daya tahan yang relatif baik.
Namun demikian, di balik angka yang impresif tersebut, ada beberapa catatan kritis yang perlu dikemukakan agar euforia tidak menutup pembacaan yang lebih jujur dan struktural. Penguatan permintaan domestik patut dilihat secara lebih hati hati. Lonjakan konsumsi rumah tangga memang mencerminkan perbaikan daya beli dan mobilitas masyarakat. Tetapi momentum itu tidak sepenuhnya lahir dari peningkatan kesejahteraan yang bersifat struktural. Faktor musiman khususnya belanja dan mobilitas selama libur akhir tahun masih memegang peran signifikan.
Dalam konteks itu, tantangan ke depan bukan sekadar memperbesar belanja, melainkan memastikan kualitas dan daya ungkit belanja negara terhadap sektor produktif dan penciptaan lapangan kerja.
Pertumbuhan ekonomi 2025 yang secara kumulatif mencapai 5,11 persen menandai perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan lompatan struktural yang dibutuhkan untuk keluar dari jebakan pertumbuhan moderat.
âIndonesia masih berada pada persimpangan apakah pertumbuhan ini akan menjadi fondasi bagi transformasi ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan, atau sekadar siklus tahunan yang ditopang faktor musiman dan stimulus jangka pendek,âungkap Badiul.
Tantangan utama ke depan bukan lagi soal mengejar angka pertumbuhan semata, melainkan memperkuat kualitas pertumbuhan. Menurut dia, tanpa reformasi struktural yang konsisten mulai dari peningkatan produktivitas, kualitas investasi, hingga penguatan sektor ekspor, pertumbuhan yang melampaui ekspektasi pasar hari ini bisa dengan mudah berubah.
- Pertumbuhan Ekonomi
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Pemkab Kotim Targetkan Transaksi Rp3,5 Miliar di Pasar Ramadhan 1447 H
-
BPS: Ekonomi Q1-2026 Tumbuh 5,61% Ditopang Konsumsi
-
Usai El-Clasico Panas, Vinícius Júnior Akhirnya Minta Maaf ke Real Madrid dan Fans
-
Dinamika Geopolitik Tak Goyahkan Optimisme BI DKI tentang Ekonomi Jakarta 2026
-
Dua Kejadian Kebakaran di Jakarta Utara Diduga akibat Korsleting Listrik
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59% di Triwulan I, Topang Seperenam Ekonomi Nasional
-
Wamenekraf: Art Party Bukti Kolaborasi Kreatif Tanpa Batas Sektoral
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.