• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Studi pada Ikan: Sel Kanke...

Studi pada Ikan: Sel Kanker Ternyata Bisa Menular

Kamis, 06 Agu 2026, 07:10 WIB

PARA ilmuwan kini menemukan fenomena yang jauh lebih langka: sel kanker ternyata dapat berpindah dari satu individu ke individu lain dan terus hidup di tubuh inang baru. Temuan ini terjadi pada ikan lele air tawar jenis brown bullhead (Ameiurus nebulosus) yang hidup di Danau Memphremagog, perairan yang membentang di antara Vermont, Amerika Serikat, dan Quebec, Kanada.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 22 Juli 2026 mengidentifikasi melanoma pada ikan-ikan tersebut sebagai kanker yang dapat menular secara alami. Para peneliti menemukan bahwa tumor pada ikan yang berbeda memiliki tanda genetik yang menunjukkan bahwa sel kanker tersebut berasal dari satu garis keturunan kanker yang sama. Penemuan ini menjadi penting karena kanker yang dapat berpindah antarindividu merupakan fenomena yang sangat jarang ditemukan di alam.

Ket. Foto: Dengan menggunakan sekuensing genom lengkap, tim tersebut membandingkan DNA dari tumor dan jaringan sehat pada ikan yang terinfeksi. Mereka menemukan bahwa sel-sel kanker jauh lebih terkait satu sama lain daripada dengan ikan inangnya—ciri khas kanker yang dapat ditularkan secara klonal, di mana sel-sel tumor itu sendiri bertindak sebagai agen infeksi. — Sumber: Dok Universitas Vermont

Kisah tersebut bermula lebih dari satu dekade lalu. Pada 2012, pemancing dan peneliti mulai memperhatikan adanya bercak dan lesi hitam pada kulit brown bullhead yang ditangkap di Danau Memphremagog. Lesi tersebut kemudian diketahui sebagai melanoma, salah satu jenis kanker kulit.

Pada awalnya, para ilmuwan memiliki sejumlah kemungkinan penjelasan. Salah satunya adalah pencemaran lingkungan. Munculnya kasus tersebut terjadi setelah peristiwa banjir yang melanda kawasan itu, sehingga perhatian sempat diarahkan pada kemungkinan adanya zat pencemar yang memicu kanker.

Namun, pola kemunculan penyakit tersebut menimbulkan pertanyaan lain. Mengapa sejumlah ikan di wilayah yang sama mengalami melanoma dengan karakteristik yang sangat mirip? Apakah ada faktor lingkungan yang membuat ikan terkena kanker secara terpisah? Atau justru ada sesuatu yang berpindah dari satu ikan ke ikan lainnya? Pertanyaan-pertanyaan ini pada akhirnya membawa para peneliti pada penjelasan yang jauh lebih tidak biasa.

Untuk mengetahui asal-usul melanoma tersebut, para ilmuwan melakukan analisis genom terhadap tumor dan jaringan ikan yang terkena. Hasilnya mengejutkan. Tumor yang ditemukan pada ikan berbeda ternyata memiliki profil genetik yang sangat mirip dan menunjukkan satu garis keturunan kanker yang sama. Pola tersebut berbeda dari variasi genetik yang seharusnya muncul jika setiap tumor berkembang secara independen dari sel tubuh masing-masing ikan.

Temuan tersebut mendukung kesimpulan bahwa sel kanker tidak hanya muncul secara terpisah pada masing-masing ikan. Sebaliknya, sel kanker dari satu asal kemungkinan telah berpindah dan berkembang pada ikan lain.

Dalam kondisi normal, sel tubuh dari satu individu tidak dapat begitu saja hidup sebagai jaringan pada individu lain. Sistem kekebalan biasanya akan mengenali sel asing dan menghancurkannya. Namun, kanker yang dapat menular memiliki karakteristik berbeda.

Sel kanker tersebut pada dasarnya berubah menjadi semacam garis sel yang dapat bertahan ketika berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain. Karena itu, para peneliti menggambarkan kanker jenis ini sebagai sesuatu yang menyerupai parasit seluler—sel kanker tidak lagi terbatas pada tubuh tempat kanker tersebut pertama kali muncul, tetapi dapat bertahan dengan memanfaatkan tubuh inang berikutnya.

Bukan Kanker Biasa

Kanker menular berbeda dengan penyakit menular pada umumnya. Virus atau bakteri dapat berpindah dari satu individu ke individu lain dan kemudian berkembang biak di dalam tubuh inang baru. Pada kanker menular, yang berpindah justru sel kanker itu sendiri.

Sel tersebut membawa perubahan genetik yang telah membuatnya menjadi kanker. Ketika berhasil masuk ke tubuh individu baru, sel tersebut dapat terus berkembang dan membentuk tumor. Fenomena ini sangat jarang.

Sebelum penemuan pada brown bullhead, kanker menular alami diketahui pada beberapa kelompok hewan tertentu, termasuk anjing, Tasmanian devil, dan sejumlah moluska seperti kerang. Temuan pada brown bullhead menjadi kasus pertama yang diketahui pada ikan sekaligus kasus pertama pada ekosistem air tawar. Dengan demikian, penemuan ini menambah satu cabang baru dalam daftar sangat pendek organisme yang diketahui memiliki kanker yang dapat berpindah secara alami antarindividu.

Bagaimana Kanker Bisa Berpindah?

Pertanyaan terbesar berikutnya justru belum terjawab sepenuhnya. Bagaimana sel melanoma tersebut berpindah dari satu ikan ke ikan lain? Para ilmuwan belum memiliki bukti definitif mengenai jalur transmisinya.

Kehidupan ikan di lingkungan air membuat beberapa kemungkinan menjadi menarik untuk diteliti. Kontak fisik antarkomunitas ikan, perilaku reproduksi, luka pada kulit, maupun paparan terhadap lingkungan air dan sedimen dapat menjadi jalur potensial. Namun, mekanisme pastinya masih menjadi objek penelitian.

Yang sudah diketahui adalah bahwa kanker tersebut berhasil melewati penghalang yang biasanya sangat sulit ditembus: sistem kekebalan tubuh individu baru. Sel kanker harus bertahan di lingkungan tubuh yang berbeda, menghindari respons imun, kemudian berkembang menjadi tumor. Kemampuan seperti itu membuat kanker menular menjadi objek penting untuk memahami evolusi kanker.

Mengapa Kanker Biasanya Tidak Menular?

Pada manusia, kanker umumnya tidak dianggap sebagai penyakit menular. Sel kanker seseorang tidak biasanya dapat berpindah kepada orang lain dan kemudian berkembang menjadi kanker baru.

Ada pengecualian yang sangat khusus dalam dunia medis, misalnya penularan sel kanker dalam situasi transplantasi organ, tetapi kondisi tersebut berbeda dari kanker menular yang berkembang secara alami di populasi hewan. Justru karena kanker menular sangat langka, para ilmuwan tertarik mempelajari bagaimana beberapa garis kanker berhasil melewati batas antarindividu.

Penelitian pada Tasmanian devil, misalnya, menunjukkan bagaimana kanker wajah yang menular dapat menyebar melalui gigitan. Pada anjing, terdapat tumor menular yang ditularkan terutama melalui kontak seksual.

Pada sejumlah moluska, garis keturunan kanker tertentu juga dapat menyebar di antara individu. Brown bullhead memberikan kasus yang berbeda karena penyakit tersebut ditemukan pada ikan air tawar yang hidup dalam ekosistem terbuka.

Evolusi Kanker

Penemuan ini tidak hanya penting untuk memahami penyakit pada ikan. Kanker menular memberikan kesempatan unik kepada ilmuwan untuk mempelajari kanker sebagai organisme yang berevolusi. Kanker pada dasarnya merupakan populasi sel yang mengalami perubahan genetik dan kemudian mengalami seleksi.

Sel yang paling mampu bertahan dan berkembang akan menjadi lebih dominan. Pada kanker biasa, evolusi tersebut berlangsung di dalam satu tubuh. Pada kanker menular, prosesnya menjadi jauh lebih kompleks.

Garis sel kanker harus mampu bertahan bukan hanya di dalam satu individu, tetapi juga berpindah ke individu lain, menghadapi lingkungan biologis baru, dan menghindari sistem kekebalan inang berikutnya. Dengan kata lain, kanker tersebut menghadapi bentuk seleksi alam yang berbeda.

Penelitian terhadap brown bullhead karena itu dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana kanker berevolusi, bagaimana sel kanker beradaptasi terhadap inang baru, dan kondisi apa yang memungkinkan sebuah tumor menjadi transmissible atau dapat ditularkan. Nature menyebut penemuan ini memberikan peluang untuk mempelajari asal-usul dan kondisi yang memungkinkan kanker menjadi menular.

Apakah Bisa Ancam Populasi Ikan?

Pertanyaan tersebut juga belum memiliki jawaban final. Para peneliti mengetahui bahwa melanoma telah ditemukan pada brown bullhead di Danau Memphremagog selama lebih dari satu dekade. Namun, belum jelas seberapa besar dampaknya terhadap populasi ikan dalam jangka panjang.

Jika kanker dapat berpindah antarindividu dengan efisien, penyakit tersebut secara teoritis dapat memengaruhi struktur populasi. Namun, keberadaan kanker menular tidak otomatis berarti sebuah spesies akan mengalami kepunahan.

Ada banyak faktor yang menentukan dampak suatu penyakit, termasuk tingkat penularan, tingkat kematian, kemampuan inang mengembangkan resistensi, dan kemampuan penyakit bertahan dalam populasi. Karena itu, penemuan ini lebih tepat dipandang sebagai sinyal biologis yang perlu dipantau, bukan sebagai bukti bahwa populasi brown bullhead sedang menuju ­kepunahan.

Baru Ditemukan

Ada kemungkinan kanker menular memang sangat langka. Namun, ada kemungkinan lain: manusia baru mulai mengenalinya karena teknologi untuk mendeteksinya semakin baik. Jika dua ikan memiliki tumor yang tampak serupa, peneliti tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa kanker tersebut berasal dari sumber yang sama.

Diperlukan analisis genetik untuk membandingkan tumor dari berbagai individu dan mencari tanda-tanda bahwa sel-sel tersebut merupakan keturunan dari satu garis kanker. Kemajuan dalam pengurutan genom membuat analisis semacam itu semakin memungkinkan. Karena itu, penemuan pada brown bullhead juga membuka pertanyaan yang lebih luas: apakah masih terdapat kanker menular lain di alam yang belum teridentifikasi?

Nature mencatat bahwa jumlah contoh kanker menular yang diketahui sangat sedikit, tetapi para ilmuwan belum dapat memastikan bahwa fenomena tersebut benar-benar hanya terjadi pada kelompok hewan yang telah ditemukan.

Dan mungkin, di balik bercak hitam pada kulit seekor ikan di sebuah danau di perbatasan Amerika Serikat dan Kanada, terdapat petunjuk baru mengenai salah satu penyakit paling kompleks: bagaimana sel yang seharusnya menjadi bagian dari tubuh dapat berubah menjadi entitas yang mampu bertahan, berevolusi, dan berpindah ke tubuh lain. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.