Menuju 100 Tahun Hubungan RI–Jepang, PPIJ Dorong Penguatan Kredibilitas Indonesia bagi Investasi Jangka Panjang
Rabu, 04 Feb 2026, 20:38 WIBJAKARTAâ Dalam momentum menuju 100 tahun hubungan IndonesiaâJepang pada 2058, Perhimpunan Persahabatan IndonesiaâJepang (PPIJ) menegaskan perannya sebagai platform kepemimpinan IndonesiaâJepang dengan kembali menggelar IndonesiaâJapan Executive Dialogue 2.0.
Ajang itu merupakan forum kepemimpinan strategis yang mempertemukan pemimpin dari sektor pemerintahan, dunia usaha, serta pemangku kebijakan strategis kedua negara, dengan menggeser dialog bilateral dari sekadar mendorong arus investasi, menuju pembahasan yang lebih mendasar mengenai fondasi kepercayaan dan arsitektur ekonomi yang menopang kemitraan jangka panjang.
IndonesiaâJapan Executive Dialogue 2.0 diselenggarakan dalam format tertutup (closed-door) dan menghadirkan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Republik Indonesia, Rachmat Gobel, Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan IndonesiaâJepang (PPIJ) dan Ketua Liga Parlemen IndonesiaâJepang, Mitsuru Myochin, Chargé dâAffaires ad interim (Kuasa Usaha ad interim) Jepang untuk Indonesia.
Forum ini mengusung tema âHow Indonesia Builds Credibility from Within to Support Long-Term Japanese Investment,â sekaligus menandai pergeseran fokus Volume 2 dari dialog sebelumnya. Jika pada edisi sebelumnya pembahasan difokuskan pada peluang sektoral dan investment entry, maka pada edisi ini diskusi diarahkan pada isu yang lebih fundamental, yaitu bagaimana tata kelola ekonomi, disiplin fiskal, serta kesinambungan kebijakan membentuk kredibilitas Indonesia di mata investor jangka panjang.
Pergeseran fokus tersebut menjadi semakin relevan di tengah ketidakpastian global yang ditandai oleh dinamika geopolitik, disrupsi rantai pasok, krisis iklim, serta percepatan transisi ekonomi dan energi. Dalam konteks ini, keputusan investasi jangka panjang semakin ditentukan oleh kualitas pengelolaan internal suatu negara, bukan semata oleh potensi pasar atau insentif jangka pendek.
Dari perspektif investor Jepang, Indonesia tetap dipandang sebagai salah satu tujuan investasi strategis di kawasan. Laporan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) Annual Survey FY2024 yang dirilis pada Juli 2025 menempatkan Indonesia di peringkat keempat sebagai negara paling menjanjikan bagi pengembangan bisnis perusahaan Jepang dalam jangka menengah.
Penilaian tersebut didukung oleh kekuatan pasar domestik Indonesia dengan hampir 280 juta penduduk, stabilitas pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur dan digitalisasi yang berkelanjutan, biaya produksi yang kompetitif, serta peluang besar dalam transisi energi dan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.
Di sisi lain, realisasi investasi Jepang di Indonesia pada tahun 2024 tercatat sebesar USD 3,46 miliar, mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah Indonesia memandang dinamika ini sebagai momentum strategis untuk memperkuat kembali kualitas kemitraan, dengan mendorong kolaborasi yang lebih terarah, bernilai tambah, dan berorientasi jangka panjang. IndonesiaâJapan Executive Dialogue 2026 menjadi ruang penting untuk menjawab tantangan tersebut melalui dialog yang lebih mendalam dan strategis.
Menjaga Kredibilitas dari Dalam melalui Disiplin Fiskal dan Konsistensi Kebijakan
Dalam forum ini, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa stabilitas fiskal dan prediktabilitas kebijakan merupakan fondasi utama dalam membangun dan menjaga kepercayaan investor jangka panjang. Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dijalankan secara disiplin dengan menjaga defisit dalam batas aman serta mempertahankan rasio utang pemerintah di kisaran 38â39 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kerangka fiskal yang prudent ini memungkinkan pemerintah menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus memastikan ruang fiskal tetap tersedia untuk mendukung pembangunan dan investasi strategis.
Pendekatan tersebut diperkuat dengan komitmen terhadap kesinambungan kebijakan lintas pemerintahan. Bagi investor Jepang yang dikenal memiliki horizon investasi hingga 20â30 tahun, kepastian arah kebijakan dan prediktabilitas sistem menjadi prasyarat utama dalam perencanaan dan pengambilan keputusan investasi. Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa kebijakan fiskal dan ekonomi dirancang sebagai kerangka jangka panjang yang konsisten, bukan sebagai respons reaktif terhadap dinamika jangka pendek.
Kerangka kebijakan ini juga mencakup upaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan sosial, dan keberlanjutan fiskal. Subsidi dan program perlindungan sosial tetap menjadi bagian dari kebijakan nasional, namun dijalankan dengan pendekatan yang semakin tepat sasaran dan berbasis data. Pendekatan ini memungkinkan pemerintah menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan kesehatan fiskal jangka panjang, sebuah aspek yang sangat diperhatikan oleh investor Jepang yang mengutamakan stabilitas sistem dan kepastian kebijakan.
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa kredibilitas kebijakan merupakan fondasi utama bagi investasi jangka panjang, khususnya bagi mitra seperti Jepang yang memiliki horizon perencanaan lintas dekade.
âBagi investor jangka panjang, yang paling penting bukan hanya potensi pertumbuhan, tetapi kepastian bahwa sebuah negara dikelola secara disiplin dan konsisten. Pemerintah Indonesia menjaga stabilitas fiskal, kesinambungan kebijakan, dan keseimbangan antara pertumbuhan serta perlindungan sosial agar investasi dapat tumbuh secara berkelanjutan, bukan hanya hari ini, tetapi juga 20â30 tahun ke depan. Prospek Indonesia ke depan sangat cerah, dan kami mengundang dukungan berkelanjutan dari para mitra untuk bersama-sama mendorong pembangunan dan transformasi ekonomi nasional,â ujar Purbaya.
Ketua Umum PPIJ sekaligus Ketua Liga Parlemen IndonesiaâJepang, Rachmat Gobel, menegaskan bahwa kualitas tata kelola dan kepercayaan merupakan elemen kunci dalam membangun kemitraan investasi jangka panjang.
âMenuju 100 tahun hubungan IndonesiaâJepang, tantangan kita bukan hanya menarik investasi, tetapi membangun arsitektur kepercayaan agar investasi dapat tumbuh, bertahan, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi kedua negara. Kepercayaan tidak dibangun dari insentif semata, tetapi dari bagaimana sebuah negara mengelola dirinya secara konsisten dan bertanggung jawab,â ujar Rachmat Gobel.
Lebih lanjut, ia menegaskan peran PPIJ sebagai platform strategis dalam menjaga dan mengembangkan kemitraan IndonesiaâJepang. IndonesiaâJapan Executive Dialogue merupakan bagian dari upaya berkelanjutan PPIJ untuk memperkuat kualitas kemitraan IndonesiaâJepang secara lebih strategis dan berorientasi jangka panjang.
âForum ini menjadi ruang untuk membangun kepercayaan, memperdalam kolaborasi, serta menyelaraskan kerja sama kedua negara dengan agenda transformasi ekonomi nasional, sehingga kemitraan yang terbangun relevan tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk 100 tahun ke depan,â tambahnya.
Sebagai bagian dari dukungan sektor swasta terhadap penyelenggaraan IndonesiaâJapan Executive Dialogue 2026, Gobel Group menegaskan komitmennya dalam memperkuat kemitraan IndonesiaâJepang yang telah terbangun lintas generasi.
Didirikan pada tahun 1956 dan memasuki usia 70 tahun pada tahun ini, Gobel Group memulai kemitraan industrinya dengan perusahaan Jepang sejak 1958. Hingga kini terus menjadi contoh kolaborasi jangka panjang berbasis kepercayaan dan konsistensi, antara lain melalui pengembangan Indonesia International Automotive Proving Ground (IIAPG) bersama Toyota dan JOIN melalui skema KPBU, serta Opus Park Sentul yang dikembangkan bersama Sumitomo Corporation dan Hankyu Hanshin Properties Corp.
Kerja sama ini mencerminkan kemitraan tidak hanya berorientasi pada investasi, tetapi juga pada penguatan ekosistem industri dan pembangunan berkelanjutan. Dukungan terhadap forum ini juga diperkuat oleh SMBC Indonesia, bagian dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC Group), yang merepresentasikan peran institusi keuangan Jepang dalam mendukung dialog strategis, pembiayaan berkualitas, dan penguatan kemitraan ekonomi jangka panjang antara Indonesia dan Jepang.
Forum ini turut dihadiri oleh perwakilan institusi dan perusahaan Jepang, antara lain Japan Bank for International Cooperation (JBIC), Japan International Cooperation Agency (JICA), dan Japan External Trade Organization (JETRO), serta korporasi Jepang yang beroperasi di Indonesia seperti Marubeni Indonesia, Itochu Indonesia, Mitsubishi Corporation, Mitsui & Co. Indonesia, Sumitomo Indonesia, Sojitz Indonesia, Toyota Tsusho Indonesia, Taisei Corporation, Suzuki Indomobil Motor dan Lida Group Holdings.
- hubungan bilateral
- Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
- Japan International Cooperation Agency (JICA)
- PPIJ
- Indonesia–Jepang
- investasi Jepang
- dialog eksekutif
- disiplin fiskal
- investasi jangka panjang
- Rachmat Gobel
- JETRO
- JICA
- JBIC
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Tiongkok Ekspansi Pembangunan Bandara di Kawasan Teluk Besar
-
Dua Orang Tewas akibat Minibus Tabrak 4 Motor di Pantai Indah Kapuk
-
Raker Komisi XI DPR RI Bersama Menteri Keuangan Republik Indonesia
-
Truk Sapi Rem Blong di Nagreg, 1 Pemudik Tewas!
-
Menteri Keuangan hadiri simposium SMI 2026
-
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa: Masyarakat Tak Perlu Khawatir Harga BBM, Anggaran Subsidi Aman
-
Menko PMK Dorong Percepatan Transformasi Nasional demi Tingkatkan Kualitas SDM
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.