Tanpa Perbaikan Struktural, Pasar Modal hanya jadi Pintu Masuk Jangka Pendek
Selasa, 03 Feb 2026, 01:15 WIBFDI tidak hanya dipandu oleh likuiditas pasar modal, tetapi juga oleh stabilitas politik, kepastian hukum, kualitas infrastruktur, dan kepastian regulasi.
JAKARTA - Kepercayaan terhadap pasar modal dinilai sebagai salah satu faktor kunci dalam menarik investasi asing langsung atau foreign direct investment/FDI) ke Indonesia. Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) Rosan Roeslani mengatakan salah satu pertimbangan investor khususnya FDI adalah dengan melihat tingkat kepercayaan kepada pasar modal.
Sebab, pasar modal kerap menjadi pintu masuk awal investor, terutama dengan sifat investasinya lebih likuid dibandingkan investasi langsung yang bersifat komitmen jangka panjang.
âYang paling penting adalah di tahap berikutnya bagaimana kita memastikan pasar modal kita ini terus berkembang, tapi dengan standar kualitas yang baik, yang mempunyai dampak positif dan dampak yang sangat besar,â jelas Rosan.
Menurut Rosan, investasi menyumbang sekitar 28-29 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, sementara konsumsi domestik berkontribusi sekitar 53â54 persen dari pertumbuhan ekonomi nasional yang selama ini terjaga di atas 5 persen.
Besarnya kontribusi tersebut, kata dia, menjadikan kepercayaan dan kualitas pasar modal sebagai faktor penting dalam menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional.
Rosan menekankan pasar modal Indonesia tidak hanya perlu tumbuh dari sisi ukuran (size), tetapi juga dari sisi kualitas, transparansi, dan akuntabilitas, dengan pembentukan harga yang murni berbasis permintaan dan penawaran.
âSelama pembentukan harga itu murni dari demand dan supply, berapapun nilainya tidak menjadi masalah,â ungkapnya.
Pembentukan harga yang sehat akan menjaga likuiditas pasar dan meminimalkan potensi distorsi ke depan, karena investor dapat masuk dan keluar pasar secara wajar sesuai mekanisme pasar.
Dinamika yang terjadi dalam beberapa hari terakhir justru dapat menjadi momentum untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pasar modal yang dinilainya sudah lama dibutuhkan.
Dalam beberapa hari terakhir, pasar modal Indonesia menjadi sorotan menyusul volatilitas tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diikuti dengan perhatian regulator terhadap penguatan tata kelola dan transparansi pasar, termasuk merespons masukan dari penyedia indeks global.
Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Y. Sri Susilo, menilai kepercayaan terhadap pasar modal memang menjadi prasyarat penting untuk investasi FDI ke Indonesia. Pasar modal kerap menjadi barometer awal bagi investor global untuk membaca stabilitas ekonomi, kualitas tata kelola, serta kepastian regulasi suatu negara.
âInvestor asing biasanya tidak langsung masuk ke sektor riil. Mereka akan mengamati dulu pasar modal, karena di sanalah sentimen, transparansi, dan kredibilitas kebijakan ekonomi tercermin secara cepat,â kata Sri Susilo.
Ia menilai likuiditas pasar modal membuat respons investor terhadap risiko dan peluang ekonomi bisa terbaca secara real time.
Namun demikian, Sri Susilo mengingatkan bahwa kepercayaan pasar modal tidak bisa berdiri sendiri. Menurutnya, arus FDI yang berkelanjutan tetap sangat bergantung pada konsistensi kebijakan pemerintah, kepastian hukum, serta iklim usaha yang kondusif di sektor riil.
Tanpa perbaikan struktural, pasar modal hanya akan menjadi pintu masuk jangka pendek, bukan jembatan menuju investasi langsung yang berkualitas.
Dia mengakui jika volatilitas di pasar modal juga kerap dipengaruhi oleh faktor global yang berada di luar kendali domestik, seperti suku bunga global, geopolitik, dan arah kebijakan moneter negara maju. Karena itu, penguatan fundamental ekonomi domestik menjadi kunci agar kepercayaan investor tidak mudah goyah ketika terjadi tekanan eksternal.
âKepercayaan itu dibangun dari konsistensi. Jika pasar modal stabil, kebijakan fiskal dan moneter sejalan, serta iklim usaha di daerah dan pusat terjaga, maka FDI akan mengikuti dengan sendirinya,â kata Sri Susilo.
Ia menegaskan bahwa pasar modal seharusnya diposisikan sebagai etalase awal, sementara daya tarik utama investasi tetap terletak pada kekuatan ekonomi riil Indonesia.
Dihubungi terpisah, pengamat kebijakan publik Fitra, Badiul Hadi mengatakan meskipun pernyataan Rosan tidak salah secara teori, tetapi berpotensi menyederhanakan realitas investasi asing.
Kepastian Hukum
Perlu difahami FDI tidak hanya dipandu oleh likuiditas pasar modal, tetapi juga oleh stabilitas politik, kepastian hukum, kualitas infrastruktur, dan kepastian regulasi.
âMengaitkan secara eksklusif FDI dengan persepsi terhadap pasar modal bisa menjadi semacam narasi alibi untuk menjelaskan rendahnya realisasi investasi, tanpa menyentuh faktor struktural yang lebih kompleks,âtegas Badiul.
Selain itu, klaim bahwa pasar modal menjadi pintu masuk awal investor karena sifatnya yang lebih likuid memang tidak salah dari perspektif finansial, namun tidak otomatis menjamin investor jangka panjang akan menanamkan modal di sektor riil.
Investor institusional global, misalnya, sering memandang potensi pertumbuhan, risiko regulasi, dan efisiensi birokrasi sebagai prioritas, bukan sekadar likuiditas pasar saham.
âPernyataan petinggi Danantara perlu dibaca sebagai pengingat bahwa kepercayaan pasar modal penting, tetapi bukan satu-satunya variabel penentu FDI,âungkap Badiul.
Untuk menarik investasi asing yang signifikan tutur dia, Indonesia harus menyeimbangkan penguatan pasar modal dengan reformasi struktural yang memastikan iklim usaha stabil, transparan, dan berkelanjutan.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Perpusnas: Pemajuan Naskah Butuh Program Dari Hulu hingga Hilir
-
ASEANTA Luncurkan Penghargaan Pariwisata dan Platform Digital Baru pada Hari ASEAN
-
Akademisi IAIN Gorontalo: Program Makan Bergizi Gratis Bisa Jadi Akselerator Kemajuan Bangsa
-
Air Sungai di Bogor Berwarna Oranye, DLH Kabupaten Bogor Akan Tindak Industri yang Mencemari
-
Papua Barat Daya Undang Investor Swasta Kembangkan Pariwisata dan Air Bersih di Sorong
-
Pendaki Malaysia tergelincir di Gunung Rinjani
-
Konsulat RI: Produk Indonesia Mulai Marak Dijual di Papua Nugini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.