Gambir dan Kelapa Bisa Mendulang Rp10.000 Triliun, dari Mana?

Jumat, 30 Jan 2026, 12:17 WIB

JAKARTA – Kelapa selama ini terkenal dibuat kopra atau minyak. Sedangkan buah gambir sejak lama dipakai untuk membantu meredakan sariawan, mengurangi bau mulut, hingga menjaga kesehatan gusi. Manfaat ini terutama berasal dari kandungan tanin, yaitu senyawa yang bersifat antibakteri dan astringen.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan, hilirisasi komoditas pertanian nasional, seperti kelapa bulat, minyak kelapa sawit (CPO), dan tanaman gambir berpotensi memberikan nilai tambah ekonomi hingga Rp10 ribu triliun.

Ket. Foto: buah kelapa — Sumber: ist

Kata dia, nilai tersebut setara dengan sekitar tiga tahun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang saat ini target APBN 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun. ‎‎"Kami hitung itu Rp10 ribu triliun nilainya lebih, baru tiga (komoditas), Rp10 ribu triliun nilainya, tiga tahun APBN," kata dia di Bontang, Kalimantan Timur, Kamis. ‎

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki posisi strategis karena menguasai sejumlah komoditas tersebut. Kelapa dan gambir, misalnya, menempatkan Indonesia sebagai produsen nomor satu global, selain itu, Indonesia juga menguasai sekitar 60 persen pasar CPO dunia.

Dengan dominasi itu, Mentan menilai hilirisasi akan memperkuat daya tawar Indonesia di pasar internasional. Negara-negara lain yang telah membangun industri pengolahan akan sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari Indonesia.

‎“Kalau kita hilirisasi, itu dunia kacau balau. Karena mereka sudah membangun industri, tapi bahan bakunya ada di Indonesia," ucapnya. Selain itu, menurut Mentan, hilirisasi menjadi kunci utama untuk menghentikan ketergantungan impor sekaligus mendorong ekspor produk bernilai tambah tinggi.

Pemerintah, kata dia, tidak lagi ingin mengekspor bahan mentah, melainkan produk jadi hasil pengolahan industri dalam negeri. ‎“Mimpi kita adalah seluruh komoditas pertanian kita hilirisasi. Hentikan kita impor, kemudian ekspor kita dorong, tapi yang kita dorong adalah barang jadi," ujarnya lagi.

Lebih lanjut, Mentan menambahkan, keberhasilan sektor pertanian nasional juga tercermin dari stabilitas harga pangan yang berdampak luas, tidak hanya bagi petani dan industri pupuk, tetapi juga bagi masyarakat global yang menikmati hasil produksi Indonesia.

Ia turut mengapresiasi dukungan dan pengawalan kebijakan dari berbagai pihak, khususnya DPR RI, yang menurutnya menjadi energi positif untuk mempercepat lompatan kinerja sektor pertanian secara eksponensial.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.