- Home
-
- Luar Negeri
-
- Trump Tarik Ancaman Soal G...
Trump Tarik Ancaman Soal Greenland, Denmark Mulai Bicara Teknis di Washington
Kamis, 29 Jan 2026, 17:50 WIBJAKARTA - Pemerintah Denmark menyatakan optimisme baru setelah memulai pembicaraan teknis dengan Amerika Serikat terkait isu Greenland yang sempat memicu ketegangan geopolitik. Pembahasan awal ini dilakukan di Washington dan dinilai berlangsung dalam suasana konstruktif oleh kedua pihak.
Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengungkapkan pertemuan perdana di tingkat pejabat senior telah digelar dan membuka jalan bagi dialog lanjutan. Ia menyebut dinamika negosiasi kini bergerak ke arah yang lebih stabil dibandingkan situasi sepekan sebelumnya.
"Kami telah mengadakan pertemuan pertama di tingkat pejabat senior di Washington kemarin terkait masalah Greenland," kata Rasmussen kepada wartawan saat menghadiri pertemuan Uni Eropa di Brussels.
"Pertemuan berjalan dengan baik dalam suasana dan nada yang sangat konstruktif, dan pertemuan-pertemuan baru telah direncanakan. Bukan berarti semuanya sudah terselesaikan, tetapi ini bagus," lanjutnya.
Rasmussen mengakui situasi sebelumnya sempat memburuk setelah muncul ancaman pengambilalihan wilayah Greenland oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, ia menilai ketegangan tersebut kini mulai mereda seiring dibukanya jalur diplomasi teknis antara kedua negara.
"Terjadi penyimpangan besar. Situasinya memburuk, tetapi sekarang kita kembali ke jalur yang benar," ujar Rasmussen.
"Saya sedikit lebih optimis hari ini daripada seminggu yang lalu," tambahnya.
Pembicaraan trilateral ini berlangsung setelah Trump menarik kembali pernyataannya yang sempat menghebohkan dunia internasional. Ancaman tersebut sebelumnya memicu krisis serius dalam hubungan transatlantik, termasuk antara negara-negara anggota Uni Eropa dan NATO.
Isu Greenland menjadi sorotan global karena wilayah Arktik tersebut memiliki nilai strategis tinggi dari sisi geopolitik, keamanan, hingga sumber daya alam. Posisi Greenland yang berada di jalur strategis antara Amerika Utara dan Eropa menjadikannya aset penting dalam peta pertahanan global.
Trump sebelumnya menyampaikan keinginannya untuk memperluas pengaruh Amerika Serikat di Greenland. Pernyataan itu kemudian dilunakkan setelah ia mengklaim telah mencapai kesepakatan kerangka kerja dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.
Kesepakatan tersebut disebut bertujuan memperkuat peran Amerika Serikat di kawasan Arktik melalui kerja sama keamanan bersama NATO. Namun hingga kini, detail konkret dari kesepakatan itu belum diungkap secara terbuka ke publik.
Pemerintah Denmark dan otoritas Greenland tetap bersikap tegas dalam menjaga kedaulatan wilayahnya. Mereka menolak wacana penyerahan kendali wilayah kepada pihak asing, termasuk Amerika Serikat.
"Saya telah menyatakan pada banyak kesempatan, tentu saja kami berbagi kekhawatiran keamanan AS terkait Arktik, ini adalah sesuatu yang ingin kami selesaikan dalam kerja sama yang erat," kata Rasmussen.
Menurutnya, Denmark terbuka untuk memperkuat koordinasi pertahanan kawasan Arktik bersama mitra internasional. Namun, langkah tersebut akan tetap berada dalam kerangka kerja sama multilateral, bukan melalui pengambilalihan wilayah secara sepihak.
Sebagai bagian dari pendekatan kompromi dengan Washington, NATO disebut akan meningkatkan aktivitas militernya di kawasan Arktik. Langkah ini dipandang sebagai strategi untuk menjaga stabilitas keamanan regional sekaligus memperkuat pengaruh Barat di wilayah kutub utara.
Selain itu, Denmark dan Greenland juga membuka peluang untuk meninjau ulang perjanjian pertahanan tahun 1951 yang mengatur penempatan pasukan Amerika Serikat di Greenland. Evaluasi ini dilakukan untuk menyesuaikan kondisi geopolitik dan tantangan keamanan terkini.
Perjanjian lama tersebut selama puluhan tahun menjadi dasar kehadiran militer AS di wilayah Arktik Denmark. Dengan situasi global yang semakin dinamis, kedua negara menilai pembaruan kesepakatan perlu dibahas secara lebih komprehensif.
Pengamat menilai pembicaraan teknis ini menjadi langkah penting dalam meredakan ketegangan diplomatik yang sempat memanas. Dialog terbuka dinilai dapat mencegah eskalasi konflik sekaligus menjaga hubungan strategis antara Eropa dan Amerika Serikat.
Meski optimisme mulai muncul, proses negosiasi masih diprediksi berjalan panjang dan penuh kompromi. Denmark menegaskan tetap mengedepankan kepentingan nasional dan prinsip kedaulatan wilayah dalam setiap tahapan pembahasan.
Dengan dibukanya kembali jalur komunikasi resmi, isu Greenland kini bergerak dari fase konfrontasi menuju fase diplomasi. Pemerintah Denmark berharap pembicaraan ini dapat menghasilkan solusi jangka panjang yang stabil bagi keamanan kawasan Arktik.
- Donald Trump
- NATO
- Uni Eropa
- Denmark
- Greenland
- geopolitik
- Gejolak Geopolitik
- Invasi AS-Greenland
- Aneksasi Greenland
- Arktik
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Trump akan Bicara dengan Pemimpin Taiwan Pasca Kunjungan ke Beijing
-
Trump Sebut Kesepakatan dengan Iran Bisa Ditandatangani di Eropa Dalam Beberapa Hari ke Depan
-
Aturan Tak Tertulis Berpakaian Anggota Kabinet, Ternyata Trump Tidak Menyukai Sepatu Coklat
-
AS dan Iran Tandatangani MoU, Lalu Lintas Selat Hormuz Dibuka
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
Trump Minta Juru Runding AS Tidak Terburu-buru Capai Kesepakatan dengan Iran
-
Trump dan Xi Jinping Gelar Pertemuan di Beijing
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.