Pola Belanja Warga Sumsel Berubah, Transaksi Rp3,4 Triliun Mengalir Lewat QRIS
Kamis, 29 Jan 2026, 22:10 WIBPALEMBANG â Peningkatan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mencerminkan akselerasi transformasi sistem pembayaran digital di Indonesia.
Kemudahan, kecepatan, dan perluasan akseptasi QRIS hingga ke sektor UMKM mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi secara non-tunai.
Tren ini sekaligus memperkuat inklusi keuangan, meski di sisi lain menuntut penguatan infrastruktur, keamanan sistem, dan literasi digital agar pertumbuhan transaksi tetap berkelanjutan dan terpercaya.
Bank Indonesia (BI) mencatat nilai transaksi menggunakan sistem pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Sumatera Selatan sepanjang tahun 2025 menembus Rp3,4 triliun.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumsel Bambang Pramono di Palembang, Kamis, mengatakan capaian tersebut meningkat 117,89 persen dibandingkan tahun 2024.
âSelain nilai transaksi, volume transaksi QRIS juga meningkat signifikan sebanyal 198,41 persen dengan total 4,2 juta transaksi,â katanya.
Ia menjelaskan dari sisi ekosistem, jumlah pemilik kode QRIS atau merchant di Sumsel telah mencapai sekitar 1,1 juta, sementara jumlah pengguna tercatat sebanyak 1,48 juta, melampaui target 2025 yang ditetapkan sebesar 1,42 juta pengguna.
Seiring dengan capaian tersebut, BI memastikan target pengembangan QRIS di Sumsel pada 2026 ditetapkan lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya, meskipun hingga kini masih menunggu penetapan resmi dari pemerintah pusat.
âCapaian ini sudah jauh melampaui target 2025, sehingga target tahun 2026 dipastikan akan lebih tinggi,â jelasnya.
Selain sistem pembayaran non-tunai, Bambang juga menegaskan kondisi aliran uang rupiah di Sumsel tetap terjaga seiring dengan pertumbuhan ekonomi daerah.
Hingga Desember 2025, aliran uang kartal di Sumatera Selatan tercatat mengalami net outflow sebesar Rp2,08 triliun, mencerminkan lebih besarnya arus uang yang kembali ke perbankan dibandingkan penarikan tunai oleh masyarakat.
Kondisi ini mengindikasikan meningkatnya preferensi transaksi non-tunai serta normalisasi aktivitas ekonomi pascaperiode musiman, sekaligus menunjukkan efektivitas sistem pembayaran digital dalam mengurangi ketergantungan terhadap uang kartal.
Peningkatan penggunaan QRIS di daerah menegaskan bahwa digitalisasi sistem pembayaran tidak lagi terpusat di kota besar, tetapi mulai mengakar hingga ke tingkat lokal.
Perluasan akseptasi di pasar tradisional, UMKM, dan layanan publik menunjukkan perubahan perilaku ekonomi masyarakat yang semakin adaptif terhadap teknologi.
Ke depan, penguatan infrastruktur, literasi keuangan digital, dan keamanan transaksi menjadi kunci agar pertumbuhan QRIS di daerah tidak hanya meningkat secara kuantitas, tetapi juga berkelanjutan dan inklusif.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Menko Pangan Dorong Penguatan Sanksi Pengelolaan Sampah
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59% di Triwulan I, Topang Seperenam Ekonomi Nasional
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Wapang TNI Buka Dikreg LV Sesko TNI TA 2026, Siapkan Pemimpin Strategis Masa Depan
-
Libur Paskah, Penumpang Kereta dari Jakarta Capai 30 Ribu Orang
-
Hari Film Nasional: JYFF 2026 Perkuat Peran Generasi Muda dalam Industri Kreatif Jakarta
-
Kabar Baik! Pemkot Singkawang Tak Putus Kontrak PPPK Paruh Waktu
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.