IHSG Anjlok Setelah MSCI Bekukan 'Rebalancing' Indeks

Rabu, 28 Jan 2026, 16:38 WIB

JAKARTA - Indeka Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari Rabu (28/1) anjlok 7,9 persen setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti risiko investasi Indonesia dan mengatakan akan menerapkan pembekuan sementara pada perubahan terkait indeks tertentu, menambah tekanan pada pasar yang sudah terbebani oleh arus keluar yang terus-menerus. 

Indeks Komposit Jakarta atau Jakarta Stock Exchange Composite (JKSE) mencatat penurunan satu hari terbesar dalam 10 bulan, mencapai level terendah sejak November lalu. MSCI, yang indeksnya sering berfungsi sebagai tolok ukur utama bagi investor global, mengatakan akan membekukan saham Indonesia untuk masuk atau tumbuh dalam indeksnya sampai regulator mengatasi beberapa kekhawatiran investor seputar struktur kepemilikan tersembunyi dan kemungkinan perdagangan terkoordinasi yang mendistorsi harga. 

Ket. Foto: Keputusan MSCI ini berlaku efektif segera dan mencakup seluruh perubahan indeks, baik yang berasal dari peninjauan indeks maupun aksi korporasi. — Sumber: Istimewa

Bursa Efek Indonesia (IDX), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penitipan dan Penyelesaian Sekuritas atau Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sedang berdiskusi dengan MSCI untuk mengatasi masalah transparansi data, kata operator bursa kepada Reuters.  

Tindakan MSCI ini terjadi ketika ekonomi terbesar di Asia Tenggara menghadapi arus keluar dana asing yang terus-menerus, yang membebani pasar modal dan mata uangnya, karena investor mencari keuntungan di tempat lain. Investor asing menjual saham Indonesia senilai 13,96 triliun rupiah (834,43 juta dolar AS) pada tahun 2025, tahun dengan arus keluar dana terburuk sejak 2020, dan aksi jual terus berlanjut pada bulan Januari, menurut data yang dikumpulkan oleh LSEG. "Kami percaya ini dapat menempatkan Indonesia di bawah sentimen negatif jika MSCI memutuskan untuk mengurangi bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets (EM). Namun, kami pikir risiko penurunan kemungkinan akan terbatas karena arus keluar dana asing yang terus-menerus sejak 2025," kata William Simadiputra, Kepala Riset Indonesia di DBS Group. 

Rupiah (IDR=) naik 0,3 persen, sejalan dengan mata uang regional lainnya, karena dolar AS berjuang di dekat level terendah empat tahun setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengabaikan pelemahan dolar AS baru-baru ini, yang memperburuk aksi jual dolar.

  • Morgan Stanley Capital International (MSCI)

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.