Mutasi Baru Virus Ebola Terdeteksi, Tingkat Infeksi Lebih Tinggi

Selasa, 27 Jan 2026, 22:17 WIB

GUANGZHOU - Para peneliti Tiongkok sukses mengungkap mutasi penting pada virus Ebola yang secara signifikan meningkatkan daya infeksinya dalam wabah besar, memberikan wawasan baru bagi pengawasan epidemi serta pengembangan obat.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cell ini dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Profesor Qian Jun dari Universitas Sun Yat-sen, bekerja sama dengan tim peneliti dari Rumah Sakit Rakyat Kedelapan Guangzhou di bawah naungan Universitas Kedokteran Guangzhou, yang keduanya berlokasi di Tiongkok selatan, Rumah Sakit Pertama Universitas Jilin di Tiongkok timur laut, serta tim lain dari Universitas Sun Yat-sen, demikian disampaikan tim peneliti kepada Xinhua pada Senin (26/1).

"Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam wabah besar penyakit menular baru, pengawasan genomik secara waktu nyata (real-time) dan analisis evolusi patogen merupakan hal yang krusial," kata Qian.

Ket. Foto: — Sumber: AFP/JUNIOR D. KANNAH

Menurut dia, hal itu tidak hanya dapat memberikan peringatan tentang perubahan risiko penularan, tetapi juga untuk menilai secara prospektif efektivitas obat-obatan dan vaksin yang ada, memandu kita untuk menyesuaikan strategi pengendalian secara preventif.

Penelitian tersebut berfokus pada wabah penyakit virus Ebola (Ebola viral disease/EVD) di Republik Demokratik (RD) Kongo pada 2018 hingga 2020, yang merupakan wabah terbesar kedua dalam sejarah dan menyebabkan lebih dari 3.000 kasus infeksi serta lebih dari 2.000 kematian.

Pertanyaan utama yang mendorong penelitian ini adalah apakah, selain dampak tantangan layanan kesehatan setempat, evolusi virus itu sendiri turut berkontribusi terhadap lamanya durasi wabah tersebut.

"Kami telah lama mengetahui bahwa mutasi virus yang penting kerap menjadi pendorong tak terlihat yang mempercepat penularan dalam wabah besar. Setelah meneliti Ebola selama lebih dari satu dekade, kami perlu menyelidiki apakah pola mutasi serupa juga terjadi pada virus ini," ujar Qian.

Pada 2022, tim peneliti menganalisis 480 genom lengkap virus Ebola dan menemukan bahwa sebuah varian yang membawa mutasi spesifik pada glikoprotein virus, yang diberi nama GP-V75A, telah muncul pada tahap awal epidemi di RD Kongo.

Menurut tim peneliti, varian itu dengan cepat menggantikan galur asli, dan peningkatan prevalensinya sangat selaras dengan lonjakan jumlah kasus, yang mengindikasikan adanya keunggulan dalam penularan.

Eksperimen selanjutnya yang menggunakan berbagai model mengonfirmasi dampak biologis dari mutasi tersebut. Hasilnya menunjukkan GP-V75A secara signifikan meningkatkan kemampuan virus untuk menginfeksi berbagai jenis sel inang serta tikus.

Selain itu, penelitian ini mengungkap potensi masalah klinis, khususnya bahwa mutasi GP-V75A telah mengurangi efektivitas antivirus dari beberapa antibodi terapeutik yang ada dan inhibitor masuk molekul kecil, yang menunjukkan adanya kemungkinan risiko resistensi obat.

"Temuan-temuan ini menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap genom virus saat wabah berlangsung untuk mengantisipasi ancaman evolusi serta memberikan informasi tentang pengembangan langkah-langkah penanggulangan berspektrum luas," kata tim peneliti.

Makalah berjudul "Karakterisasi Molekuler Substitusi Glikoprotein V75A Virus Ebola pada Epidemi 2018-2020 (Molecular Characterization of Ebola Virus Glycoprotein V75A Substitution in the 2018-2020 Epidemic)" ini tersedia secara daring. Ant/Xinhua

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Deri Henriawan

Berita Terbaru

Jelang Laga Kontra Liverpool, Newcastle United Resmi Perluas Kapasitas St James' Park

Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

3 Tantangan Berat Trent Alexander-Arnold Usai Putuskan Hengkang dari Liverpool

Virus Zika Jadi Sorotan, Dispar Bali Minta Wisman Tetap Santai Berwisata

PLN dan YBM PLN Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Promo Tambah Daya untuk Warga Lenteng Agung.

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.