- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ilmuwan: Dunia Belum Siap ...
Ilmuwan: Dunia Belum Siap Hadapi Peningkatan Suhu Ekstrem
Selasa, 27 Jan 2026, 19:05 WIBPARIS â Para ilmuwan pada Senin (26/1) mengatakan, hampir 3,8 miliar orang akan menghadapi panas ekstrem pada tahun 2050 dan sementara negara-negara tropis akan menanggung dampak terberatnya, daerah-daerah yang lebih dingin juga perlu beradaptasi.
Permintaan akan pendingin ruangan akan meningkat "secara drastis" di negara-negara besar seperti Brasil, Indonesia, dan Nigeria, di mana ratusan juta orang tidak memiliki pendingin ruangan atau sarana lain untuk mengatasi panas.
Namun, menurut para ilmuwan dari Universitas Oxford, peningkatan moderat sekalipun dalam jumlah hari yang lebih panas dapat berdampak "parah" di negara-negara yang tidak terbiasa dengan kondisi seperti itu, seperti Kanada, Russia, dan Finlandia.
Dalam sebuah studi baru, mereka meneliti berbagai skenario pemanasan global untuk memproyeksikan seberapa sering orang di masa depan mungkin mengalami suhu yang dianggap terlalu panas atau terlalu dingin.
Mereka menemukan bahwa "jumlah penduduk yang mengalami kondisi panas ekstrem diproyeksikan akan hampir berlipat ganda" pada tahun 2050 jika suhu rata-rata global naik 2 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri.
Namun sebagian besar dampaknya akan terasa pada dekade ini seiring dunia dengan cepat mendekati angka 1,5 derajat Celcius, kata penulis utama studi tersebut, Jesus Lizana, kepada AFP.
âPoin penting yang dapat diambil dari ini adalah bahwa kebutuhan untuk beradaptasi dengan panas ekstrem lebih mendesak daripada yang diketahui sebelumnya,â kata Lizana, seorang ilmuwan lingkungan.
âInfrastruktur baru, seperti pendingin udara berkelanjutan atau pendinginan pasif, perlu dibangun dalam beberapa tahun ke depan untuk memastikan masyarakat dapat mengatasi panas yang berbahaya.â
Paparan panas ekstrem yang berkepanjangan dapat melampaui kemampuan sistem pendinginan alami tubuh, menyebabkan gejala mulai dari pusing dan sakit kepala hingga kegagalan organ dan kematian.
Penyakit ini sering disebut sebagai pembunuh senyap karena sebagian besar kematian akibat panas terjadi secara bertahap seiring suhu tinggi dan faktor lingkungan lainnya bekerja bersama untuk melemahkan termostat internal tubuh.
Perubahan iklim membuat gelombang panas menjadi lebih panjang dan lebih kuat, dan akses terhadap pendinginan â terutama pendingin ruangan â akan sangat penting di masa depan.
Kurang Persiapan
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability ini memproyeksikan bahwa 3,79 miliar orang di seluruh dunia dapat terpapar panas ekstrem pada pertengahan abad ini.
Hal ini akan secara "drastis" meningkatkan permintaan energi untuk pendinginan di negara-negara berkembang di mana dampak kesehatan yang paling serius akan dirasakan. India, Filipina, dan Bangladesh akan termasuk di antara negara-negara dengan populasi terbesar yang terdampak.
Perubahan paling signifikan dalam "hari derajat pendinginan" â suhu yang cukup panas sehingga membutuhkan pendinginan, seperti melalui AC atau kipas angin â diproyeksikan terjadi di negara-negara tropis atau khatulistiwa, khususnya di Afrika.
Republik Afrika Tengah, Nigeria, Sudan Selatan, Laos, dan Brasil mengalami peningkatan terbesar dalam suhu panas yang berbahaya.
âSederhananya, orang-orang yang paling kurang beruntung adalah mereka yang akan menanggung dampak terberat dari tren ini, seperti yang ditunjukkan oleh studi kami, yaitu hari-hari yang semakin panas,â kata ilmuwan iklim perkotaan dan salah satu penulis penelitian, Radhika Khosla, kepada AFP.
Namun, negara-negara kaya di iklim yang secara tradisional lebih dingin juga "menghadapi masalah besar â meskipun banyak yang belum menyadarinya," tambahnya.
Negara-negara seperti Kanada, Rusia, dan Finlandia mungkin mengalami penurunan tajam dalam "hari derajat pemanasan" â suhu yang cukup rendah sehingga membutuhkan pemanasan dalam ruangan â dalam skenario kenaikan suhu 2 derajat Celcius.
Namun, menurut para penulis, kenaikan suhu yang moderat sekalipun akan terasa lebih parah di negara-negara yang tidak dirancang untuk menahan panas.
Di negara-negara ini, rumah dan bangunan biasanya dibangun untuk memaksimalkan sinar matahari dan mengurangi ventilasi, dan transportasi umum beroperasi tanpa pendingin udara.
Beberapa negara beriklim dingin mungkin akan mengalami penurunan tagihan pemanas, kata. Lizana, tetapi seiring waktu, penghematan ini kemungkinan akan digantikan oleh biaya pendinginan, termasuk di Eropa di mana pendingin ruangan masih jarang digunakan.
âNegara-negara kaya tidak bisa berpuas diri dan berasumsi mereka akan baik-baik saja â dalam banyak kasus, mereka sangat tidak siap menghadapi gelombang panas yang akan datang dalam beberapa tahun ke depan,â katanya.Â
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Komisi Pemberantasan Korupsi Buka Peluang Periksa Istri Budi Karya Sumadi dalam Kasus DJKA Kemenhub
-
Mendorong Ball Boy, Pedro Neto Terancam Sanksi UEFA
-
Asik, Kini Ratusan Pramuwisata Kalbar Terima Tip via QRIS GoPay Merchant
-
Pemerintah Didesak Legislator Segera Salurkan Banpang untuk Jutaan KPM pada Ramadan atau Jelang Idul Fitri
-
Old Trafford Tamat? Bos Proyek MU Buka Suara Soal Kapan Stadion Baru Resmi Dibuka
-
Pertamina Tambah Pasokan 710.160 Tabung Elpiji 3 kg untuk Jateng
-
Pabrik MVP, Rahasia Belanda dan Amerika Serikat 'Cetak' Noortje Driessen & Caden Pierce Jadi Raja 3x3 Dunia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.