ATM Terus Menyusut, OJK: Era Tarik Tunai Mulai Ditinggalkan
Senin, 26 Jan 2026, 20:22 WIBJAKARTA â Tren penurunan jumlah ATM mencerminkan pergeseran perilaku masyarakat menuju transaksi digital yang semakin dominan.
Efisiensi biaya operasional perbankan serta meningkatnya penggunaan mobile banking dan QR payment membuat peran ATM kian terbatas.
Meski demikian, penurunan ini tetap perlu diantisipasi agar tidak memperlebar kesenjangan akses layanan keuangan, khususnya bagi masyarakat di daerah terpencil dan kelompok yang belum sepenuhnya terjangkau digitalisasi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi tren penurunan jumlah mesin anjungan tunai mandiri (ATM) masih akan terus berlanjut ke depan.
Fenomena ini terjadi karena semakin masifnya adopsi teknologi digital di sektor jasa keuangan yang mendorong perubahan perilaku dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan perbankan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae di Jakarta, Senin (26/1), mengatakan penurunan jumlah ATM pada dasarnya merupakan keputusan bisnis masing-masing bank.
Namun, perkembangan teknologi informasi di bidang keuangan menjadi faktor utama yang mempengaruhi arah kebijakan tersebut.
"Tidak tertutup kemungkinan bahwa tren penurunan jumlah ATM akan terus berlanjut seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi informasi di bidang keuangan yang semakin masif, yang mana berdampak pada perubahan perilaku, ekspektasi, dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan dari bank," ujar Dian dalam jawaban tertulis Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) di Jakarta, Senin.
Berdasarkan Laporan Surveillance Perbankan Indonesia OJK, jumlah mesin ATM, Cash Deposit Machine (CDM), dan Cash Recycling Machine (CRM) di Indonesia hingga kuartal III-2025 tercatat sebanyak 89.774 unit.
Angka itu menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 91.173 unit. Artinya, terdapat 1.399 unit mesin ATM yang ditutup dalam kurun waktu satu tahun.
Menurut Dian, adopsi teknologi digital memungkinkan nasabah mengakses layanan perbankan kapan saja dan di mana saja tanpa harus bergantung pada infrastruktur fisik.
Kemudahan akses inilah yang membuat kebutuhan terhadap layanan ATM semakin berkurang.
"Semakin mudahnya akses layanan melalui aplikasi dan platform daring, serta meningkatnya penggunaan pembayaran non tunai, maka kebutuhan penggunaan ATM menjadi semakin minimal," jelas Dian.
Di sisi lain, perbankan juga terus berupaya meningkatkan efisiensi operasional. Penguatan layanan digital dinilai dapat mendukung efisiensi melalui pengurangan biaya infrastruktur fisik serta optimalisasi proses layanan.
"Efisiensi tersebut pada akhirnya dapat memperkuat kinerja keuangan dan mendukung profitabilitas perbankan," kata Dian.
Selain berdampak pada efisiensi industri, Dian memandang pemanfaatan teknologi digital juga mendorong perluasan transaksi non-tunai atau cashless di masyarakat.
Sistem pembayaran non-tunai dinilai mampu membuat aktivitas ekonomi berjalan lebih efisien dan diharapkan dapat mendorong peningkatan aktivitas perekonomian secara lebih luas.
"Sistem cashless ini dapat mendukung transaksi ekonomi yang berjalan menjadi lebih efisien, sehingga diharapkan akan lebih mendorong peningkatan aktivitas perekonomian lebih lanjut," tutupnya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Maskapai Garuda Indonesia Kembali Layani Penerbangan dari Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung
-
Sulap Pasar Jadi Lautan Merah Putih, Strategi Pedagang Godean Bikin Pembeli Berdatangan!
-
Hutan Papua Barat Terancam Eksploitasi, Gerakan Lintas Iman Dorong Perlindungan Berkelanjutan
-
Dukung Bulan Literasi Keuangan OJK 2026, CIMB Niaga Edukasi Pelajar Lewat Tour de Bank
-
Cermati Protect Perkuat Kepercayaan Nasabah Lewat Layanan Asuransi Kendaraan Digital
-
Wamenkum: RUU Kewarganegaraan Atur Kewarganegaraan Khusus bagi Talenta
-
Lens Tantang Dominasi PSG di Final Trophée des Champions
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.