Guru Besar IPB: MBG Bukan Beban bagi Sektor Pendidikan
Minggu, 25 Jan 2026, 17:17 WIBAnggaran yang dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapatkan perhatian publik setelah adanya klaim bahwa program ini membebani sektor pendidikan.
Bagi beberapa akademisi, program MBG dan pendidikan justru dinilai saling berkesinambungan sehingga anggapan program sebagai beban tidak berdasar. Program MBG dinilai sebagai suplemen bagi pendidikan untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia generasi muda bangsa.
Pandangan tersebut diungkapkan oleh Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi IPB, Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, MS. Ia menilai MBG tidak semestinya dipersepsikan sebagai beban bagi sektor pendidikan.
âJustru ini bagian dari pendidikan. MBG itu bagian dari pendidikan, juga untuk membangun nasionalisme bagaimana mengentaskan kemiskinan. Memang jangan diadu domba dengan peran guru, dua-duanya harus jalan,â pesan Prof. Ahmad.
Pernyataan Prof. Ahmad juga sejalan dengan pandangan Iskandar Sitorus, Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch, Ia mengkritik keras publik yang membandingkan antara program pendidikan dan makan bergizi gratis yang belakangan menggaung di ruang publik. Menurutnya, mempertentangkan keduanya adalah kekeliruan logika yang mengabaikan realitas dasar.
âAnak tidak akan bisa belajar dengan perut kosong. Negara wajib melihat nutrisi dan pendidikan sebagai satu kesatuan hak konstitusional yang tidak dapat dipisahkan,â ujarnya.
Iskandar menegaskan bahwa pemenuhan gizi merupakan fondasi pendidikan. Berbagai kajian kesehatan dan pendidikan menunjukkan bahwa kekurangan nutrisi berdampak langsung pada konsentrasi, daya serap, dan perkembangan kognitif anak.
âKalau pondasinya rapuh, hasil pendidikannya juga akan rapuh,â katanya.
Pentingnya pemenuhan gizi bagi keberlangsungan pendidikan juga telah terbukti secara ilmiah. Menurut Prof. Ahmad, gizi harian anak yang terpenuhi berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan kognitif dan prestasi akademik anak.
âBerbagai studi internasional menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan asupan gizi seimbang memiliki konsentrasi belajar lebih baik, daya ingat lebih kuat, serta performa akademik yang lebih stabil,â ungkapnya.
Praktik pemenuhan gizi harian telah lama diterapkan di sejumlah negara maju. Di Amerika Serikat misalnya, program makan sekolah seperti School Breakfast Program dan National Lunch Program menjadi bagian dari kebijakan nasional. Sekolah mengambil peran aktif dalam pemenuhan gizi siswa sehingga anak tidak lagi terbebani persoalan sarapan atau makan siang. Pendekatan ini dinilai efektif dalam mendukung kesehatan sekaligus kesiapan belajar anak di kelas.
Selain berdampak pada peserta didik, MBG juga dinilai berpotensi memberikan efek pengganda (multiplier effect) terhadap perekonomian. Jika dirancang dengan matang, program ini dapat mendorong keterlibatan UMKM, petani, dan produsen pangan lokal dalam rantai pasok.
Pengalaman Amerika Serikat melalui program Women, Infant, and Child (WIC) menunjukkan bahwa intervensi gizi yang dikelola negara mampu berjalan seiring dengan penguatan sektor pertanian dan kesejahteraan masyarakat.
- Program MBG
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Yebdi Trismar
Berita Terkait:
-
Rayakan Ultah ke 10, Aston Sentul Berikan Promo Menarik
-
Presiden Prabowo Jenguk Korban Kecelakaan KA di RSUD Bekasi
-
Program MBG Punya Command Center Nasional, Launching Mei 2026
-
BGN Perkuat Kerja Sama dengan ASEAN, Bagikan Pengalaman dan Praktik Terbaik MBG
-
BGN Tegaskan Program MBG Utamakan Ibu Hamil, Balita, dan Ibu Menyusui Bukan Hanya Siswa
-
Komoditas Ekspor Sulawesi Selatan Telah Jangkau 63 Negara
-
New York Knicks Unggul 3-2 atas Atlanta Hawks
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.