Rindu Aroma Bakso, Pelanggan dan Pedagang Sama-sama Terbentur Pasokan Bahan Baku
Jumat, 23 Jan 2026, 16:30 WIBKABUPATEN BEKASI â Sejak Kamis (22/1) pagi, aroma khas bakso yang biasanya menguar di jalanan Kabupaten Bekasi kini nyaris hilang.
Pedagang bakso yang sehari-hari menghidupi keluarga dari gerobak dan kedai sederhana mereka, terpaksa menahan lapar pelanggan dan resiko kerugian sendiri.
Penyebabnya bukan pandemi atau cuaca ekstrem, melainkan kelangkaan pasokan daging sapi akibat aksi mogok pedagang daging yang berlangsung sejak Kamis (22/1) hingga Sabtu (24/1).
Tak hanya berdampak pada omzet, gangguan pasokan ini juga menyulitkan pedagang untuk menjaga kualitas menu mereka.
Banyak pelanggan yang harus gigit jari karena bakso favorit mereka tidak tersedia, sementara pedagang menanggung beban biaya operasional tetap berjalan.
Fenomena ini menjadi pengingat nyata bahwa rantai pasok sederhana sekalipun dapat menghadapi risiko besar ketika salah satu komponen terganggu.
Dari gerobak kecil hingga kios sederhana, para pedagang bakso kini harus menavigasi hari-hari tanpa daging sapi, berharap pasokan segera pulih agar aroma bakso kembali memenuhi sudut-sudut kota Bekasi.
Ketua Umum Paguyuban Pedagang Mi dan Bakso (Papmiso) Bambang Haryanto mengatakan dampak aksi mogok sudah terasa sejak hari pertama. Banyak pedagang yang datang ke pasar untuk menggiling daging namun pulang dengan tangan kosong.
"Aksi mogok pedagang daging ini berdampak pada sulitnya pedagang bakso mencari daging segar. Saat ke pasar mereka akhirnya kembali lagi, tidak jadi menggiling. Artinya, kalau teman-teman sudah tidak memiliki stok bakso, pasti hari ini tidak berjualan," katanya di Cikarang, Jumat (23/1).
Ia mengatakan anggota Papmiso di Kabupaten Bekasi saja tidak kurang dari 2.000 pedagang. Jika seluruh pedagang tersebut berhenti beroperasi, potensi kerugian ekonomi dari perputaran bisnis tersebut diperkirakan mencapai Rp2 miliar per hari.
"Kalau secara nasional, dari total 20 ribu pedagang mi dan bakso, kerugian bisa mencapai Rp20 miliar per hari," katanya.
Bambang mengaku khawatir jika aksi mogok berlangsung penuh selama tiga hari, dampak sosial dan ekonomi akan semakin parah. Para pedagang bakso kini terjepit antara kehilangan pemasukan atau tetap harus menanggung biaya operasional.
"Teman-teman yang seharusnya beroperasi akhirnya menanggung risiko. Beberapa karyawan yang dirumahkan tetap harus dikasih makan dan gaji. Ini kalau sampai tiga hari akan berdampak lebih parah lagi," ujar dia.
Ia turut mengingatkan bahwa pada Pilpres 2024, Presiden Prabowo Subianto berjanji akan membenahi tata kelola niaga daging sapi untuk menjaga stabilitas harga. Tujuannya agar pedagang bakso bisa memperoleh bahan baku dengan harga terjangkau sehingga kesejahteraan mereka meningkat.
Ia berharap pemerintah lebih responsif dalam menangani persoalan harga daging sapi yang semakin melambung tinggi.
"Ini kan permainan klasik yang sudah sering kali terjadi, tata kelola niaga daging sapi dikendalikan oknum-oknum pedagang besar di Indonesia. Mudah-mudahan pemerintah segera merespons supaya persoalan harga daging sapi yang mahal cepat teratasi," ujar dia.
Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Kabupaten Bekasi Sadimin menyebut aksi mogok berjualan selama tiga hari itu merupakan keputusan pengurus pusat dengan harapan pemerintah menurunkan dan menstabilkan harga daging sapi.
"Untuk Jakarta dan Bekasi selama tiga hari tidak berjualan agar pemerintah mengetahui, bisa lebih mungkin pak, kalau tidak ada terobosan dari pemerintah," katanya.
Ia menjelaskan harga daging sapi hidup kini sangat tinggi yakni mencapai Rp55 ribu per kilogram. Kondisi itu memengaruhi harga jual di tingkat pedagang eceran yang mencapai lebih dari Rp150 ribu per kilogram, padahal harga normal berkisar Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.
"Kalau harga tinggi, daya beli masyarakat berkurang. Harga sapi hidup sudah Rp55 ribu, jadi dagangan harus di atas Rp140 ribu atau Rp150 ribu per kilogram. Kalau di bawah itu, berarti pedagang rugi," ujar dia.
- aksi mogok pedagang daging sapi
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.