Padat Karya Jadi Andalan Pascabencana Sumatera, Ekonomi Lokal Mulai Berdenyut Lagi

Senin, 19 Jan 2026, 19:30 WIB

JAKARTA – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menilai program padat karya menjadi salah satu cara cepat untuk membantu masyarakat bangkit setelah diterpa banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Lewat program ini, warga tak hanya diajak membersihkan dan memperbaiki lingkungan, tapi juga mendapat penghasilan sementara untuk menggerakkan kembali roda ekonomi keluarga.

Ket. Foto: Seorang warga berjalan melewati alat berat Kementerian PU yang bekerja membersihkan lumpur sisa banjir di Kecamatan Meuredue, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. — Sumber: ANTARA/ FB Anggoro

Di tengah masa pemulihan, padat karya hadir sebagai solusi praktis—sambil membangun kembali wilayah terdampak, sekaligus memulihkan semangat warganya.

“Fokusnya adalah membantu warga yang terdampak terutama yang kehilangan mata pencaharian agar segera kembali berpenghasilan dan produktif, sekaligus mempercepat pemulihan sarana dan prasarana di lingkungan terdampak,” kata Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan sekaligus Ketua Tim Kemnaker Peduli Sukro Muhab dalam keterangannya di Jakarta, Senin (19/1).

Lebih lanjut, Sukro mengatakan penanganan bencana tidak berhenti pada bantuan darurat, melainkan juga langkah lanjutan yang terhubung dengan program ketenagakerjaan untuk mempercepat proses pemulihan.

“Kemnaker hadir tidak hanya untuk membantu pemenuhan kebutuhan darurat masyarakat terdampak bencana, tetapi juga menyiapkan langkah lanjutan melalui program ketenagakerjaan, termasuk padat karya agar masyarakat dapat segera bangkit dan kembali produktif,” ujar Sukro.

Ia menjelaskan, pemulihan melalui Kemnaker Peduli berjalan melalui paket kegiatan yang saling melengkapi.

Padat karya, lanjutnya, menjadi salah satu instrumen pemulihan ekonomi, sementara program pendampingan lainnya diarahkan untuk memulihkan kondisi sosial serta mendukung kebutuhan teknis warga pascabanjir.

“Ini program recovery. Selain dorongan padat karya, program Kemnaker juga terus berjalan seperti trauma healing, instalasi listrik, dan dukungan teknis lain di lokasi terdampak,” kata Sukro.

Dalam pelaksanaan di lapangan, Kemnaker Peduli mengoptimalkan posko yang didukung Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP).

Di Sumatera Utara dan Aceh, bantuan dan kegiatan lapangan disalurkan melalui Posko Kemnaker Peduli BPVP Medan.

Bantuan logistik kemudian didistribusikan bertahap ke Langkat (Sumut) dan Aceh Tamiang (Aceh) untuk membantu kebutuhan dasar warga selama masa tanggap darurat.

Di Sumatera Barat, Kemnaker Peduli membuka Posko Bantuan Bencana di BPVP Padang sebagai respons atas banjir dan longsor di sejumlah kabupaten dan kota. Posko diperkuat Tim Dokter, Tim Trauma Healing, dan Tim Logistik, serta menjalankan pemulihan awal yang dekat dengan kebutuhan warga pascabanjir.

Di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Kemnaker Peduli melalui Posko BPVP Banda Aceh mengoperasikan dapur umum, layanan medis, serta pendampingan psikososial di sejumlah gampong dan desa terdampak. Dapur umum memproduksi ribuan porsi makanan dan layanan medis menjangkau ratusan pasien.

“Dengan pemulihan yang terarah, warga diharapkan dapat kembali bekerja, kembali beraktivitas, dan mempercepat proses pulih di komunitas masing-masing,” ujar dia.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.