Cerita Ekonomi Badui yang Tumbuh dari Tanah dan Benang

Sabtu, 17 Jan 2026, 09:50 WIB

LEBAK – Di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, waktu berjalan dengan ritme yang berbeda. Di tengah hutan dan perbukitan, masyarakat Badui menjalani hidup yang sederhana namun penuh makna.

Bagi mereka, alam bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sahabat yang dijaga dan dihormati. Dari sanalah sumber penghidupan utama mereka berasal.

Ket. Foto: Petani Badui melakukan ngaseuk atau tanam padi huma di lahan darat dengan gotong royong sebagai tradisi yang dilakukan setiap musim tanam. — Sumber: ANTARA/ Mansyur

Pertanian ladang dengan sistem tumpang sari menjadi denyut ekonomi sehari-hari. Padi ladang ditanam berdampingan dengan jagung, umbi-umbian, hingga tanaman palawija lainnya.

Semua tumbuh alami, tanpa pupuk kimia dan tanpa mesin modern. Hasilnya mungkin tak melimpah, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menjaga keseimbangan alam yang mereka warisi turun-temurun.

Saat musim ladang mulai lengang, aktivitas beralih ke rumah-rumah panggung yang tenang. Di sanalah para perempuan Badui menenun kain dengan tangan sendiri.

Benang demi benang dirangkai perlahan menjadi kain tenun khas Badui yang sarat makna. Motifnya sederhana, warnanya bersahaja, namun setiap helai menyimpan cerita tentang kesabaran, ketekunan, dan identitas budaya.

Kain tenun ini kemudian menjadi penopang ekonomi tambahan bagi keluarga. Dijual kepada pengunjung atau melalui jalur sederhana, hasil kerajinan itu membantu memenuhi kebutuhan tanpa harus meninggalkan nilai adat yang mereka pegang kuat.

Bagi masyarakat Badui, bertani dan menenun bukan sekadar pekerjaan. Keduanya adalah cara hidup—tentang menjaga hubungan dengan alam, merawat tradisi, dan bertahan di tengah arus zaman tanpa kehilangan jati diri. Di sunyi pedalaman Lebak, kesederhanaan itulah yang justru menjadi kekuatan utama ekonomi mereka.

"Kita sejak dulu ekonomi masyarakat Badui dari bercocok tanam dan perajin penenun," kata Tetua Adat yang juga Kepala Desa Kanekes Jaro Oom saat menerima wartawan dalam kegiatan Kemah Budaya Wartawan dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Lebak, Jumat (16/1).

Pertanian masyarakat Badui bercocok tanam ladang di lahan darat dengan sistem tumpang sari sesuai leluhur adat.

Mereka kaum lelaki Badui menanam padi gogo, jagung, sayuran , palawija, kencur, jahe hingga tanaman keras dengan panen tiga bulan, enam bulan, sembilan bulan dan 12 bulan.

Selain itu juga perempuannya sebagai perajin kain tenun dan asesoris yang dikerjakan di balai-balai rumah mereka.

Produksi panen pertanian ladang dan kerajinan itu bisa menghasilkan pendapatan ekonomi untuk kesejahteraan keluarga.

"Kami membina perajin kain tenun agar berkembang untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Badui," katanya menjelaskan.

Menurut dia, masyarakat Badui mengembangkan pertanian ladang, selain di kawasan tanah hak ulayat adat.

Selain itu juga ada di luar tanah hak ulayat adat, seperti di Cileles, Gunungkencana, Sobang, Muncang, Bojongmanik dan Cirinten.

Pengembangan pertanian bercocok tanam dilakukan setiap setahun sekali sesuai kalender adat.

Begitu juga aneka kerajinan, seperti kain tenun, lomar atau ikat kepala, baju kampret, selendang dengan harga bervariasi mulai Rp20 ribu hingga Rp750 ribu.

"Kami merasa bersyukur dari bercocok tanam dan kerajinan itu kehidupan ekonomi masyarakat relatif baik," katanya menjelaskan.

Sementara itu, Atim, seorang Badui Luar mengatakan pihaknya sudah lima tahun terakhir ini relatif lumayan pendapatan ekonomi dari penjualan produk kerajinan adat.

Bahkan, dua bulan terakhir ini omzet pendapatan hingga mencapai Rp14 juta.

"Kami menjual produk kerajinan itu sebagian hasil kerajinan isteri dan sebagian lainnya mengambil dari perajin," kata Atim.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Jatim Hari Ini Cerah-Berawan, Gelombang hingga 3,7 Meter Mengintai Perairan Selatan

Gubernur Emanuel Melkiades Bawa Bantuan ke Tiga Titik Terdampak Gempa M7,7 di Riung

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

Putus Akibat Gempa, Akses Jembatan Wae Dampek di Manggarai Timur Pulih

Kapal Kargo Muatan Bijih Besi Tujuan Singapura Tenggelam di Lepas Pantai India, Dua ABK Selamat

Kucuran Beras Capai 1,65 Juta Ton, Pemerintah Optimistis Rem Harga Beras di Puncak El Nino

BPBD Cilacap Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Kekeringan Meteorologis

Menlu Tiongkok Wang Yi Temui Ketua DEN RI Luhut Panjaitan Bahas Investasi di Indonesia

Ratusan Rumah Adat Sade Ludes Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus Pulihkan Korban

Korea Utara Tuding Rencana Perluasan Anggaran Pertahanan Jepang Sebagai 'Persiapan Perang'

Brentford Kalahkan Tottenham Hotspur dengan Skor Telak 3-0

Pemprov NTT Percepat Perbaikan Infrastruktur Terdampak Gempa M7,7

Pemerintah Kota Batam Siapkan Subpenyalur BBM Nelayan di Pulau Rempang

Permudah Akses BBM Subsidi, Pemkot Batam Siap Bangun SPBU untuk Nelayan di Pulau Rempang

Harga Daging Ayam Ras di Dua Kabupaten di Riau di Atas Rp40.000/Kg

Film "The Odyssey" Laris di Korea Selatan, Lampaui 6 Juta Penonton

Balas Trump, Iran Peringatkan Negara yang Gabung dengan Sanksi AS Dianggap 'Musuh'

BMKG Prakirakan Sebagian Besar Wilayah RI Diprakirakan Cerah Berawan pada Minggu

Shopee Gandakan Donasi, Perkuat Gotong Royong Digital untuk Pemulihan Paska Gempa NTT

PT KAI Menilai Sejumlah Kegiatan di Purwokerto Tingkatkan Mobilitas Masyarakat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.