• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Pelindung Antartika dari P...

Pelindung Antartika dari Pemanasan Global

Rabu, 14 Jan 2026, 06:49 WIB

Perubahan pola angin di Samudra Selatan membantu menjelaskan satu anomali besar dalam krisis iklim global: mengapa Antartika relatif tidak mengalami pemanasan secepat wilayah lain di Bumi. Di sisi lain, perubahan angin ini justru memperparah kekeringan di Australia selatan.

Temuan tersebut diungkap dalam sebuah studi terbaru yang dilakukan peneliti Universitas Nasional Australia dan dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change. Untuk pertama kalinya, para ilmuwan merekonstruksi pola angin Samudra Selatan selama 1.000 tahun terakhir dengan memadukan data inti es, lingkaran pohon, dan endapan danau di Amerika Selatan.

Ket. Foto: Ilustrasi Gunung es. — Sumber: Antarasumsel.com/Reuters

Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan gas rumah kaca telah memperkuat Angin Kencang Empat Puluh Derajat (Roaring Forties), yang secara ilmiah dikenal sebagai Southern Annular Mode (SAM). Angin ini kini bertiup semakin kencang dan semakin mendekati Antartika.

“Ketika angin barat menguat, angin tersebut justru memerangkap lebih banyak udara dingin di atas Antartika. Itulah sebabnya benua ini tampak melawan tren pemanasan global,” kata peneliti utama Nerilie Abram. Ia menambahkan, semua benua lain mengalami pemanasan, sementara Arktik menjadi wilayah yang memanas paling cepat di dunia.

Namun, penguatan angin ini membawa dampak serius bagi Australia selatan. Curah hujan terus menurun, terutama di Australia Barat, yang sangat bergantung pada hujan musim dingin. Sejak 1960-an, wilayah selatan Australia Barat telah kehilangan sekitar 20 persen curah hujannya.

“Curah hujan di kawasan ini sangat dipengaruhi oleh dinamika Samudra Selatan,” ujar Abram. Sementara itu, wilayah tenggara dan timur Australia juga dipengaruhi kombinasi pola iklim lain, termasuk fenomena El Niño dari kawasan tropis.

Rekonstruksi SAM selama satu milenium menunjukkan bahwa penguatan angin saat ini berada jauh di luar variasi alami. “Kekuatan SAM kini berada pada tingkat positif tertinggi—lebih kuat dan lebih dekat ke Antartika dibandingkan kapan pun dalam 1.000 tahun terakhir,” kata Abram.

Dalam 50 tahun terakhir saja, posisi angin ini telah bergeser dua hingga lima derajat lebih dekat ke Kutub Selatan. Perubahan tersebut, menurut para peneliti, menjadi salah satu penyebab utama kekeringan yang semakin parah di Australia.

Para ilmuwan juga mencatat bahwa pengaruh gas rumah kaca paling kuat terjadi pada musim dingin, sementara pada musim panas dan semi, SAM sangat dipengaruhi oleh penipisan lapisan ozon. Meski lubang ozon kini menunjukkan tanda-tanda pemulihan, efek gas rumah kaca tetap menjadi faktor utama yang mengkhawatirkan.

Profesor Matthew England dari Pusat Penelitian Perubahan Iklim Universitas New South Wales menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim di belahan bumi selatan berbeda dengan belahan utara. “Belahan bumi utara didominasi daratan, sementara selatan didominasi lautan. Akibatnya, pemanasan tidak terjadi secara merata,” ujarnya.

Para peneliti memperingatkan, jika emisi gas rumah kaca tidak dikurangi, angin Samudra Selatan diperkirakan akan terus menguat dan semakin terkonsentrasi di atas Antartika. Namun, ada secercah harapan. hay

  • Pemanasan Global

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.