Jaringan Listrik Kyiv Nyaris Lumpuh Usai Serangan Rusia, Warga Bertahan di Tengah Musim Dingin

Minggu, 11 Jan 2026, 14:48 WIB

JAKARTA - Kyiv menghadapi situasi darurat energi setelah serangkaian serangan Rusia merusak jaringan listrik ibu kota Ukraina. Para teknisi dikerahkan sejak Sabtu untuk menstabilkan sistem kelistrikan yang berada di ambang kolaps, menyusul serangan besar dua hari sebelumnya. Di tengah suhu musim dingin yang menusuk, banyak warga terpaksa bertahan di apartemen tanpa pemanas sambil menunggu pasokan listrik, air, dan pemanas pulih.

Perdana Menteri Ukraina Yulia Svyrydenko menyatakan kondisi kelistrikan di Kyiv masih sulit. Kerusakan parah pada jaringan distribusi diperparah oleh lonjakan penggunaan pemanas listrik oleh warga yang berupaya melawan dingin ekstrem. Pemerintah setempat mengakui upaya pemulihan berjalan bertahap dan membutuhkan waktu.

Ket. Foto: — Sumber: The Hill

Di level internasional, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengonfirmasi Dewan Keamanan PBB akan menggelar pertemuan darurat pada Senin untuk membahas serangan terbaru Rusia. Serangan tersebut dilaporkan melibatkan rudal balistik jarak menengah Oreshnik. Sybiha menilai aksi tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap Piagam PBB.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stéphane Dujarric, menegaskan serangan besar Rusia pada Jumat telah menimbulkan korban sipil signifikan dan memutus layanan esensial bagi jutaan warga Ukraina. Pemadaman listrik, terhentinya pemanas, serta gangguan pasokan air terjadi saat kebutuhan kemanusiaan berada pada titik kritis.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyampaikan bahwa Kyiv terus berkomunikasi intensif dengan Washington. Kepala negosiator Ukraina Rustem Umerov dilaporkan berbicara dengan perwakilan Amerika Serikat untuk membahas kerangka upaya mengakhiri perang. Zelenskyy menyebut komunikasi dengan pihak AS berlangsung hampir setiap hari.

Di sisi lain perbatasan, Rusia juga melaporkan dampak serangan balasan Ukraina. Gubernur wilayah Belgorod, Vyacheslav Gladkov, mengatakan sekitar 600.000 warga kehilangan listrik, pemanas, dan air akibat serangan rudal Ukraina. Proses pemulihan disebut berjalan dalam kondisi yang sangat menantang.

Militer Ukraina mengklaim serangan drone mereka memicu kebakaran di depot minyak Zhutovskaya di wilayah Volgograd, Rusia selatan. Depot tersebut disebut memasok bahan bakar bagi pasukan Rusia. Selain itu, Ukraina melaporkan serangan terhadap fasilitas penyimpanan drone milik Divisi Senapan Bermotor ke-19 Rusia di Zaporizhzhia, serta titik komando drone di dekat Pokrovsk, Ukraina timur.

Serangan drone Ukraina lainnya dilaporkan melukai sedikitnya empat orang dan merusak sejumlah bangunan di kota Voronezh, Rusia selatan. Beberapa apartemen, rumah, dan fasilitas layanan darurat mengalami kerusakan.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan pasukannya menggunakan pesawat, drone, rudal, dan artileri untuk menyerang fasilitas energi serta depot bahan bakar Ukraina. Moskow tidak merinci target maupun tingkat kerusakan, namun eskalasi ini kembali menegaskan bahwa infrastruktur energi menjadi sasaran utama dalam konflik yang kian memanas.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.