Gelombang Protes Iran Dibalas Represi Brutal, Demonstran Ungkap Kekerasan Aparat

Minggu, 11 Jan 2026, 14:50 WIB

JAKARTA - Aksi protes di berbagai kota Iran terus berlanjut meski otoritas meningkatkan tindakan represif terhadap para demonstran. Ribuan warga tetap turun ke jalan menentang tekanan aparat keamanan, di tengah pemadaman internet yang nyaris memutus komunikasi dengan dunia luar.

Rekaman video yang berhasil keluar dari Iran menunjukkan massa berkumpul di Teheran hingga Sabtu dini hari. Mereka meneriakkan slogan-slogan keras seperti “Matilah Khamenei” dan “Hidup Shah”, sebagai bentuk perlawanan terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan nostalgia terhadap monarki sebelum Revolusi Islam 1979. Protes baru juga dilaporkan pecah di kawasan utara Teheran pada Sabtu malam.

Ket. Foto: — Sumber: CTV News

Aksi serupa terjadi di Mashhad, kota kelahiran Khamenei. Para demonstran berbaris di jalanan dengan latar api yang menyala, menantang pernyataan Khamenei yang menyebut mereka sebagai “perusuh” dan menuduh Amerika Serikat berada di balik gelombang demonstrasi.

Lembaga Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS melaporkan lebih dari 570 aksi protes terjadi di seluruh 31 provinsi Iran. Namun, pemadaman internet membuat sulit bagi media internasional untuk memverifikasi skala sebenarnya dari demonstrasi yang disebut-sebut terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras, memperingatkan Teheran agar tidak menembaki demonstran. Ia menyatakan AS “siap membantu” rakyat Iran, pernyataan yang langsung dibalas ancaman oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. Qalibaf memperingatkan bahwa militer AS dan Israel akan menjadi “target sah” jika Washington menyerang Iran.

Di dalam negeri, aparat memperketat tekanan. Jaksa Agung Iran Mohammad Mahvadi Azad memperingatkan warga agar tidak ikut demonstrasi. Ia menyebut para peserta aksi dapat dicap sebagai “musuh Tuhan”, tuduhan berat yang dapat berujung hukuman mati. Televisi pemerintah bahkan menegaskan bahwa siapa pun yang membantu demonstran berisiko menghadapi dakwaan serupa.

Meski ancaman meningkat, tokoh oposisi di pengasingan Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran, menyerukan warga untuk terus turun ke jalan dan mengambil alih pusat-pusat kota. Ia juga meminta para demonstran mengibarkan bendera “singa dan matahari”, simbol Iran sebelum 1979, serta berjanji akan kembali ke Iran.

Sejumlah aktivis dan demonstran yang berhasil mengakses jaringan satelit Starlink menggambarkan respons aparat yang sangat keras. Mereka mengklaim aparat menembakkan peluru tajam, menempatkan penembak jitu, dan menyebabkan banyak korban jiwa. Klaim tersebut sulit diverifikasi secara independen, namun kelompok HAM menyatakan laporan kekerasan aparat konsisten dengan kesaksian yang mereka terima.

Human Rights Activists News Agency menyebut sedikitnya 116 orang tewas dan lebih dari 2.600 lainnya ditahan sejak gelombang protes pecah. Otoritas Iran mengakui adanya korban di pihak keamanan, yang mereka tuduhkan sebagai akibat aksi sabotase asing.

Peraih Nobel Perdamaian Shirin Ebadi memperingatkan potensi terjadinya pembantaian massal di bawah perlindungan pemadaman komunikasi. Ia mengaku menerima laporan ratusan korban dengan luka parah, termasuk cedera mata, yang dirawat di rumah sakit Teheran.

Aksi protes yang awalnya dipicu krisis ekonomi sejak akhir Desember kini berkembang menjadi tuntutan perubahan politik. Analis menilai posisi rezim semakin rapuh menyusul tekanan regional dan konflik sebelumnya dengan Israel. Sementara itu, komunitas internasional, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat, menyatakan dukungan terhadap demonstran Iran dan mendesak penghentian kekerasan terhadap warga sipil.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.