- Home
-
- Luar Negeri
-
- Trump akan Bertemu Para Ek...
Trump akan Bertemu Para Eksekutif Minyak AS Setelah Menangkap Pemimpin Venezuela
Jumat, 09 Jan 2026, 10:22 WIBWASHINGTON - Presiden AS Donald Trump akan bertemu dengan kepala perusahaan minyak utama AS pada hari Jumat (9/1), dengan tujuan meyakinkan mereka untuk mendukung rencananya di Venezuela, negara yang sumber daya energinya akan ia kendalikan selama bertahun-tahun mendatang.
Pasukan AS menangkap presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer besar-besaran pada 3 Januari, dan Trump tidak merahasiakan bahwa kendali atas minyak Venezuela adalah inti dari tindakannya.
Washington memiliki "pengaruh maksimal atas otoritas sementara di Venezuela saat ini," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt ketika mengkonfirmasi pembicaraan dengan para eksekutif minyak utama AS.
Pemerintahan Trump telah berulang kali mengatakan mereka mengendalikan Venezuela. Menteri Energi Chris Wright pada hari Rabu menegaskan bahwa Washington akan mengendalikan industri minyak negara itu "tanpa batas waktu."
Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez, yang merupakan wakil Maduro, mengatakan pemerintahannya tetap berkuasa, perusahaan minyak milik negara hanya mengatakan bahwa mereka sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat tentang penjualan minyak.
Media AS NBC News melaporkan bahwa para kepala Exxon Mobil, Chevron, dan ConocoPhillips diperkirakan akan hadir dalam pertemuan di Gedung Putih.
"Ini hanya pertemuan untuk membahas, tentu saja, peluang besar yang ada di hadapan perusahaan-perusahaan minyak ini saat ini," kata juru bicara Trump, Leavitt, kepada wartawan pada hari Rabu.
Chevron adalah satu-satunya perusahaan AS yang saat ini memiliki lisensi untuk beroperasi di Venezuela. Exxon Mobil dan ConocoPhillips meninggalkan negara itu pada tahun 2007, setelah menolak permintaan presiden saat itu, Hugo Chavez, agar menyerahkan sebagian besar saham dalam operasi lokal kepada pemerintah.
Menderita Akibat SanksiÂ
Dikenai sanksi oleh Washington sejak 2019, Venezuela memiliki sekitar seperlima cadangan minyak dunia dan pernah menjadi pemasok minyak mentah utama bagi Amerika Serikat.
Namun, menurut OPEC, produksi minyak Venezuela pada tahun 2024 hanya sekitar satu persen dari total produksi minyak mentah dunia, karena terhambat oleh kurangnya investasi selama bertahun-tahun, sanksi, dan embargo.
Trump melihat cadangan minyak Venezuela yang sangat besar sebagai keuntungan besar dalam upayanya menurunkan harga bahan bakar domestik AS, sebuah isu politik utama.
Namun, ia mungkin menghadapi tugas berat untuk meyakinkan perusahaan-perusahaan minyak besar AS untuk berinvestasi di Venezuela karena ketidakpastian tentang tata kelola pasca-Maduro, keamanan, dan biaya besar untuk memulihkan fasilitas produksi.
Pada hari Selasa, Trump mengatakan pemerintah sementara Venezuela akan mengirimkan hingga 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat, dan hasilnya "akan dikendalikan oleh saya."
"Pemerintah Sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 dan 50 JUTA Barel Minyak Berkualitas Tinggi yang Dikenai Sanksi, kepada Amerika Serikat," tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
âMinyak ini akan dijual dengan harga pasar, dan uang itu akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan uang itu digunakan untuk kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat.â
Ia kemudian menambahkan bahwa hasil penjualan yang dibelanjakan oleh Venezuela akan digunakan semata-mata untuk membeli produk-produk AS.
Menteri Energi AS Wright meremehkan kekhawatiran tentang investasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi Venezuela, dengan mengatakan bahwa seharusnya mungkin meningkatkan produksi hingga beberapa ratus ribu barel per hari dalam jangka pendek hingga menengah.
Namun, ia mengakui bahwa dibutuhkan "puluhan miliar dolar dan waktu yang signifikan" untuk mengembalikan produksi ke tingkat tertinggi sepanjang masa, yaitu lebih dari tiga juta barel per hari.
Pada masa jabatan pertamanya, Trump memberlakukan embargo minyak yang bertujuan untuk mencekik perekonomian Venezuela, yang sangat bergantung pada ekspor komoditas tersebut.
Ketika ia kembali untuk masa jabatan keduanya, ia juga mengakhiri sebagian besar lisensi yang memungkinkan perusahaan multinasional minyak dan gas untuk beroperasi di negara tersebut, kecuali Chevron.
Washington kini menyatakan akan "secara selektif mencabut sanksi" untuk memungkinkan penjualan dan pengangkutan minyak mentah Venezuela di pasar global.
Wright mengatakan pemerintahan Trump juga akan membantu perusahaan minyak besar AS untuk membangun kehadiran jangka panjang.
Minyak mentah Venezuela dikenal kental dan sulit dimurnikan.
Departemen Energi AS sudah berencana mengirimkan minyak ringan untuk dicampur dengan minyak mentah Venezuela agar proses tersebut lebih mudah.
Mereka juga berencana untuk mengizinkan pengiriman peralatan dan para ahli ke negara tersebut untuk meningkatkan infrastruktur.
- Minyak Venezuela
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Kasihan, Tujuh Rumah Kontrakan di Wonocolo Surabaya Dilalap Jago Merah
-
Pemprov DKI Perkuat Langkah Tangani Polusi Mikroplastik dari Hulu hingga Langit Jakarta
-
Balapan di Mandalika Terancam Sepi karena Bareng F1 Singapura. Tiket Sangat Tinggi, Hotel Mahal, dan Minim Promosi
-
Menteri Agama Nasaruddin Umar Serukan Kurikulum Cinta: Cara Baru Satukan Perbedaan di Indonesia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.