Saat Cabai Tak Lagi Bersahabat, Bunga Jadi Penyelamat Petani Denpasar
Kamis, 08 Jan 2026, 17:35 WIBDENPASAR â Di sejumlah lahan pertanian pinggiran Denpasar, barisan cabai yang dulu menjadi tumpuan hidup kini berganti warna. Kelopak bunga perlahan mengambil alih tanah yang sebelumnya rapuh oleh cuaca tak menentu. Hujan berlebih dan pola musim yang kian sulit ditebak membuat cabai kerap gagal panen, memaksa petani mencari jalan selamat.
Pilihan pun jatuh pada tanaman bunga, komoditas yang lekat dengan denyut kehidupan religius Bali. Permintaan untuk kebutuhan upacara keagamaan relatif stabil sepanjang tahun, memberi kepastian pasar di tengah ketidakpastian iklim.
Peralihan ini bukan sekadar soal mengganti tanaman, melainkan strategi bertahan: meminimalkan risiko, menjaga arus pendapatan, dan menyesuaikan pertanian rakyat dengan realitas perubahan cuaca yang kian ekstrem.
âKebanyakan anggota kami saat ini menanam bunga dan pandan,â kata Ketua Kelompok Wanita Tani Sumber Rejeki Peguyangan Kangin Wayan Murni di Denpasar, Bali, Kamis (8/1).
Ia menjelaskan saat ini anggotanya yang mencapai 25 orang petani itu, sebagian di antaranya mulai menanam bunga pacar air dan pandan.
Pasalnya, produksi cabai saat ini berkurang bahkan hanya bisa untuk kebutuhan sendiri karena mengalami gagal panen akibat cuaca buruk dan serangan hama yang membuat kualitas cabai menjadi turun.
Ia sendiri saat ini mengelola sekitar 30 are atau 3.000 meter persegi cabai yang sebelumnya saat cuaca normal, panen setiap 3-4 hari sekali bisa mencapai 20-25 kilogram dengan asumsi sekitar 1.000 tanaman cabai.
Cabai dari kelompoknya di pasok ke sejumlah pasar tradisional di Denpasar termasuk salah satunya di Pasar Agung Peninjoan.
Murni memperkirakan saat ini pasokan cabai di pasaran tetap melimpah karena sudah memasuki panen massal dan juga dipasok dari luar wilayah Denpasar dan Bali, sehingga mempengaruhi harga jual di tingkat konsumen yang saat ini anjlok.
Sementara itu, berdasarkan data Sistem Informasi Harga Pangan Utama dan Strategis (Sigapura) yang menghimpun data harga di 60 pasar tradisional di Bali mencatat harga cabai rawit merah di Bali rata-rata turun sebesar Rp9.700 per kilogram, dari semula pada 1 Januari 2026 mencapai Rp57 ribu menjadi Rp47.200 per kilogram pada Rabu (7/1).
Apabila dirinci, harga cabai rawit merah di Pasar Badung Denpasar, pasar terbesar di Ibu Kota Bali itu mencapai Rp41.600 per kilogram, turun dari semula pada pekan lalu mencapai Rp60.000 per kilogram.
Sementara itu, di Pasar Mengwi Kabupaten Badung mencapai Rp41.700 dari harga sebelumnya Rp60 ribu per kilogram.
Sedangkan di Pasar Tabanan, harga cabai rawit merah juga turun menjadi Rp50 ribu dari sebelumnya Rp55 ribu per kilogram.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
King Nassar Tak Terbendung. Penampilan Penutup Paling Pecah di Pestapora 2025
-
Duh! Harga Cabai Terus Meroket, Kenaikan Diprediksi hingga Bulan Depan, Pedagang dan Konsumen Sama-Sama Menjerit
-
Gubernur Banten Dorong Babinsa Kembali Aktifkan Siskamling
-
Tajikistan Tarik Kembali Ayni, India Kehilangan Satu-satunya Pangkalan Udara di Luar Negeri
-
IBM dan Meta Perluas AI Alliance ke Indonesia, Dorong Inovasi AI Berbasis Open-Source
-
Kemlu RI Pulangkan 90 WNI dari Perbatasan Myanmar-Thailand
-
Pengendalian Senjata Nuklir Global Terancam pada 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.