Cadangan Devisa Naik ke 156,5 Miliar Dollar AS, BI Klaim Kuat tapi Sumber Jadi Pertanyaan

Kamis, 08 Jan 2026, 15:57 WIB

JAKARTA – Peningkatan cadangan devisa yang bersumber dari penarikan utang mencerminkan penguatan likuiditas eksternal yang bersifat sementara, bukan perbaikan fundamental neraca pembayaran.

Meski menambah bantalan stabilitas nilai tukar dan memperkuat posisi jangka pendek, akumulasi devisa berbasis utang meningkatkan kewajiban pembayaran di masa depan serta risiko tekanan eksternal saat jatuh tempo.

Ket. Foto: Petugas menghitung uang dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Kondisi ini menegaskan bahwa kualitas cadangan devisa perlu dinilai dari sumbernya—apakah berasal dari surplus transaksi berjalan dan arus investasi produktif, atau sekadar dari pembiayaan utang yang menunda risiko.

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 tercatat 156,5 miliar dolar AS atau bertambah 6,4 miliar dolar AS dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar 150,1 miliar dolar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan di Jakarta, Kamis (8/1), menyampaikan bahwa kenaikan posisi cadangan devisa tersebut terutama bersumber dari penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global pemerintah, serta penarikan pinjaman pemerintah.

Posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2025 setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Ramdan.

Ke depan, Bank Indonesia menilai stabilitas sektor eksternal masih berada dalam kondisi terjaga, dengan cadangan devisa yang cukup sebagai penyangga utama.

Keyakinan ini juga ditopang oleh prospek berlanjutnya arus masuk modal asing, seiring sentimen investor yang relatif positif terhadap arah perekonomian nasional serta daya tarik imbal hasil investasi domestik yang dinilai kompetitif.

"Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," sebut Ramdan.

Cadangan devisa sangat penting karena menjadi fondasi stabilitas ekonomi, berfungsi sebagai lumbung untuk menjaga nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, memenuhi kewajiban luar negeri, dan meningkatkan kepercayaan investor asing, sehingga memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari guncangan global dan mendukung pembangunan.

Tanpa cadangan devisa yang memadai, negara rentan terhadap krisis, depresiasi mata uang, dan kesulitan dalam perdagangan internasional.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.