Rupiah Hari Ini Loyo, Pasar Lagi Galau Nunggu Sikap The Fed
Senin, 05 Jan 2026, 17:55 WIBJAKARTA â Pelemahan rupiah pada awal pekan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed, yang membuat pelaku pasar global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Kondisi ini menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, seiring meningkatnya persepsi risiko dan sikap wait and see investor terhadap prospek kebijakan moneter global.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Senin (5/1), bergerak melemah 15 poin atau 0,09 persen menjadi Rp16.740 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.725 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan kurs rupiah seiring ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed pada tahun ini.
âMengacu pada risalah rapat The Fed per Desember, ada perpecahan pendapat anggota The Fed terkait prospek penurunan bunga antara yang berkeinginan untuk penguatan pasar tenaga kerja dan yang ingin pencapaian target inflasi 2 persen yang masing-masing saling berlawanan,â ucapnya di Jakarta.
Mengutip Xinhua, sebagian pendapat anggota The Fed menyampaikan bahwa pelonggaran kebijakan suku bunga tepat diputuskan sebagai respons terhadap risiko penurunan lapangan kerja.
Sebagai lainnya menunjukkan risiko inflasi yang lebih tinggi, sehingga disarankan tak melakukan penurunan suku bunga lebih lanjut.
Data terbaru CME FedWatch Tool menunjukkan Federal Reserve diperkirakan memiliki probabilitas 85,1 persen untuk mempertahankan suku bunga tak berubah pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Januari 2026.
Pelemahan rupiah juga dipengaruhi risiko geopolitik terkait invasi AS terhadap Venezuela.
âPerseteruan AS dengan Venezuela berdampak pada penjualan SBN (Surat Berharga Negara), terutama oleh pelaku pasar asing, dan peningkatan yield seiring pengalihan pada aset yang aman seperti emas dan dolar AS,â ungkap Rully.
Seperti diketahui, Memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela menambah lapisan risiko geopolitik global, yang langsung tercermin pada pergerakan pasar keuangan.
Ketegangan ini memicu peningkatan volatilitas, mendorong investor beralih ke aset aman seperti dolar AS, emas, dan obligasi pemerintah, sekaligus menekan aset berisiko di negara berkembang.
Di sisi lain, potensi gangguan pasokan energi dari Venezuela turut memengaruhi harga minyak, yang berdampak lanjutan pada inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter global.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp16.748 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.725 per dolar AS.
- rupiah hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pasar Jaya Kerahkan 33 Truk Angkut Sampah di Pasar Induk Kramat Jati
-
Persis Keluar dari Zona Degradasi Setelah Menang 3-0 atas Bali United
-
Pemkot Tangerang Larang ASN Keluar Kota saat "WFA"
-
Cari Informasi Lebih Cepat Tanpa Pindah Aplikasi lewat Circle to Search
-
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Berkala Kebijakan Penahanan Harga BBM
-
Pertamina Tambah 9 Juta Tabung Elpiji 3 Kg di Jateng-DIY
-
Akses Tani Kini Mulus, TMMD Kutai Barat Sukses Tembus Jalan 3.500 Meter dalam 30 Hari
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.