Rupiah Hari Ini Melemah, Investor Masih Hati-hati di Tengah Ketidakpastian

Selasa, 23 Des 2025, 17:55 WIB

JAKARTA – Rupiah cenderung melemah seiring pelaku pasar masih berhati-hati menanggapi perkembangan sentimen global dan domestik.

Tekanan mata uang ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal, seperti arah kebijakan moneter global dan fluktuasi pasar internasional, serta faktor domestik, termasuk kondisi ekonomi makro dan likuiditas pasar.

Ket. Foto: Ilustrasi - Petugas bank menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar AS. — Sumber: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja.

Pelemahan bersifat moderat dan mencerminkan sikap wait and see investor, menandakan kebutuhan bagi stabilitas fundamental dan kepastian kebijakan untuk menahan volatilitas lebih lanjut.

Ekonom dari Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange ICDX Taufan Dimas Hareva mengatakan nilai tukar rupiah cenderung bergerak fluktuatif dengan kecenderungan stabil.

“Pasar masih mencermati perkembangan sentimen global dan domestik,” ujar dia kepada ANTARA di Jakarta.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa (23/12), bergerak melemah 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp16.787 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.777 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp16.790 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.773 per dolar AS.

Pergerakan dolar AS masih menjadi faktor utama yang memengaruhi ruang gerak rupiah, khususnya terkait ekspektasi arah kebijakan Federal Reserve atau The Fed dan imbal hasil obligasi AS.

Melihat dari sisi domestik, stabilitas kebijakan Bank Indonesia (BI) dinilai tetap menjadi faktor penahan volatilitas rupiah.

Adapun isu defisit anggaran, lanjutnya, kekhawatiran tersebut memang dapat memberikan sentimen terhadap pasar, terutama dalam jangka pendek. Namun, dampaknya terhadap rupiah sejauh ini dianggap masih relatif terbatas.

“Selama pemerintah menjaga kredibilitas kebijakan fiskal dan koordinasi dengan otoritas moneter tetap terjaga, tekanan terhadap rupiah diperkirakan tidak akan berlangsung signifikan,” kata Taufan.

Defisit masih dalam batas yang ditetapkan tapi cukup tinggi dan telah meningkat sepanjang tahun, terutama karena penerimaan negara di bawah proyeksi dan belanja yang besar untuk menjaga aktivitas ekonomi.

Per 30 November, defisit APBN 2025 tercatat sekitar Rp560,3 triliun, setara 2,35% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Outlook APBN 2025 awalnya memperkirakan defisit sekitar2,78 % dari PDB, tetap di bawah batas hukum defisit maksimum 3 % dari PDB.

  • rupiah hari ini

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.