Jaga Kearifan Lokal! Thetek Melek, Ritual Adat Pacitan Penjaga Harmoni Alam

Minggu, 21 Des 2025, 22:55 WIB

PACITAN – Melestarikan tradisi yang tumbuh dari kearifan lokal memiliki makna strategis dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat kohesi sosial masyarakat.

Tradisi tidak hanya berfungsi sebagai warisan nilai dan pengetahuan, tetapi juga menjadi mekanisme sosial yang menanamkan etika, solidaritas, dan harmoni dalam kehidupan bersama.

Ket. Foto: Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji memimpin ritual adat Thetek Melek di hamparan sawah Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, Pacitan, Jatim, Minggu (21/12/2025). — Sumber: ANTARA/HO - Prokopim Pacitan

Pelestarian kearifan lokal berkontribusi pada pembangunan yang berkelanjutan karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sering selaras dengan prinsip keseimbangan alam dan sosial.

Dengan menjaga tradisi tetap hidup dan relevan, masyarakat tidak hanya mempertahankan jati diri di tengah arus modernisasi, tetapi juga menciptakan fondasi budaya yang kuat untuk inovasi, pariwisata, dan ketahanan sosial di masa depan.

Masyarakat adat di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur menggelar ritual adat "Thetek Melek", sebuah tradisi yang tumbuh dari kearifan lokal untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam agraris, Minggu (21/12).

Prosesi tahunan itu diikuti warga, seniman, serta unsur pemerintah daerah. Rombongan warga membawa opyak-opyakan hama dan tumpeng, diiringi tetabuhan tradisional, lalu berjalan menyusuri pematang sawah.

Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji turut memimpin prosesi dengan membawa bongkok, yakni pelepah kelapa berlubang, yang kemudian diserahkan kepada kepala desa setempat untuk ditancapkan di tanah.

Warga lain mengikuti dengan menancapkan bongkok di sepanjang pematang sawah. "Mudah-mudahan semua yang kita lakukan ini memberi manfaat, dan apa yang kita tanam menjadi berkah," kata Mas Aji, sapaan akrab Indrata Nur Bayuaji.

Rangkaian ritual dilanjutkan dengan pertunjukan seni bertema Kiblat Papat Limo Pancer serta tari orang-orangan sawah, yang merepresentasikan hubungan kosmologis manusia, alam, dan Sang Pencipta.

"Ritual Thetek Melek bukan sekadar seremonial, melainkan doa dan ikhtiar bersama agar alam tetap bersahabat dengan petani," katanya.

Ia menambahkan, tradisi tersebut menjadi ruang perjumpaan antara nilai budaya, spiritualitas, dan praktik pertanian yang diwariskan secara turun-temurun di Pacitan.

Ritual Thetek Melek dikenal sebagai tradisi lokal untuk menolak pagebluk dan menjaga keseimbangan alam.

Tradisi ini sempat terhenti saat pandemi COVID-19 dan kembali digelar sejak 2022 hingga kini.

Selain prosesi utama, Thetek Melek tahun ini juga diramaikan dengan festival budaya, jagong tani, aksi melukis seribu bongkok, serta pasar UMKM yang mendorong perputaran ekonomi warga.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin sesepuh desa, dilanjutkan makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan syukur masyarakat.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.