Ilmuwan Italia Ciptakan Camilan Hasil Laboratorium dengan Gunakan Sisa Buah, Sel Tumbuhan, dan Printer 3D
Selasa, 16 Des 2025, 02:10 WIBROMA - Para ilmuwan di Italia sedang mengembangkan camilan manis dengan sel tumbuhan yang ditumbuhkan di laboratorium dan sisa-sisa buah, menghasilkan bahan yang kemudian dapat diproses oleh printer 3D menjadi 'kue-kue' dengan kandungan nutrisi tinggi.
Tradisi kuliner Italia yang kaya mungkin baru saja mendapatkan status warisan UNESCO, tetapi proyek Nutri3D oleh lembaga penelitian publik negara itu, ENEA, menunjukkan bahwa para ilmuwan berupaya untuk melampaui batasan dalam pencarian camilan yang berkelanjutan dan kaya nutrisi.
Prototipe tersebut mencakup camilan batangan dan mutiara madu mengkilap yang dirancang untuk mempertahankan rasa dan nilai gizi.
"Di dunia di mana lahan pertanian menyusut dan perubahan iklim memaksa kita untuk memikirkan kembali produksi pangan, tujuannya adalah untuk terus memproduksi apa yang biasa kita makan," kata Silvia Massa, kepala laboratorium Pertanian 4.0 ENEA.
"Tujuannya bukan untuk menumbuhkan tanaman itu sendiri, tetapi sel-selnya," imbuh dia.
Eropa Utara telah memimpin upaya awal, dengan laboratorium Finlandia memproduksi kompot buah dari kultur sel dan para peneliti di Zurich mengembangkan perasa mirip kakao.
"Kami orang Italia menambahkan kreativitas, menggabungkan makanan seluler dengan produk sampingan yang didaur ulang," kata Massa, merujuk pada sisa buah dari produksi selai misalnya.
Proyek ini dijalankan bersama EltHub â sebuah perusahaan riset dan pengembangan teknologi swasta Italia yang merupakan bagian dari ELT Group â dan Rigoni di Asiago, sebuah perusahaan milik keluarga yang mengkhususkan diri dalam produk makanan organik.
Di EltHub yang terletak di wilayah tengah Abruzzo, "tinta" berbahan dasar tumbuhan dari ENEA dibentuk menggunakan printer 3D.
Survei ENEA menemukan 59 persen responden bersedia mencoba makanan tersebut.
Teknologi ini juga bisa berguna di lingkungan yang kekurangan sumber daya, seperti di luar angkasa atau di zona konflik, kata direktur EltHub, Ermanno Petricca, yang menyebut camilan tersebut sebagai "buah untuk astronot".
ENEA juga sedang menguji mikrohijauan dan nano-tomat untuk budidaya di luar angkasa.
Di Bumi, pencetakan makanan 3D dapat memungkinkan nutrisi yang disesuaikan untuk orang-orang dengan pembatasan diet.
Sebuah restoran steak berbasis nabati di Roma, Impact Food, sudah menawarkan daging iris hasil cetak 3D di menunya. CNA/I-1
- Printer 3D
- makanan artifisial
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.