DPRD DKI: Peran Keluarga Kunci Cegah ‘Bullying’ Anak

Selasa, 16 Des 2025, 19:03 WIB

JAKARTA - Wakil Ketua DPRD Provinsi DKI Jakarta, Rany Mauliani, menekankan pentingnya peran keluarga dalam mencegah praktik bullying (perundungan). Ia mengatakan perhatian semua pihak diperlukan untuk menciptakan lingkungan aman bagi anak-anak dan remaja.

Rany menyebut perilaku bullying kini terjadi di berbagai jenjang dan wilayah, tanpa lagi membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi anak-anak. Menurut dia, DPRD menempatkan isu ini sebagai prioritas bersama agar generasi emas dapat tumbuh tanpa trauma atau kekerasan.

Ket. Foto: Wakil Ketua DPRD Provinsi DKI Jakarta, Rany Mauliani — Sumber: RRI/Sasa Haniyah

“Kekerasan dan bullying ini menjadi PR kita bersama ya, dari legislator pun, dari DPRD, jadi kepedulian paling utama buat kami sekarang. Tidak hanya untuk teman-teman di Komisi E, tapi seluruh anggota DPRD karena bullying ini kan terjadi hampir di seluruh wilayah,” ucap dia usai menghadiri Talkshow ‘Stop Bullying dan Kekerasan Melalui Ketahanan Keluarga untuk Mewujudkan Generasi Emas 2045’ di Jakarta Timur, Selasa (16/12).

Rany mengatakan, aturan spesifik terkait bullying memang belum ada, namun Komisi E sedang mematangkan peraturan daerah (Perda) pendidikan. Rany menyebut, perda ini diharapkan menjadi payung hukum bagi guru dan kepala sekolah menegakkan aturan di lingkungan pendidikan.

Menurut dia, penegakan aturan di sekolah sering terkendala karena orang tua tidak menerima teguran terhadap anaknya. Ia menilai banyak orang tua justru memvalidasi kesalahan anak, sehingga guru menghadapi kesulitan dalam menjalankan regulasi yang sudah ada.

“Kan kadang menegakkan aturan di sekolah ini menjadi terkendala ketika orang tua tidak terima. Padahal kan memang itu sudah aturan yang ada, jadi banyak orang tua yang memvalidasi perilaku yang salah dari anak-anaknya,” ucap dia.

Ia mengatakan budaya speak up memang harus dibangun, namun jenis speak up yang benar juga perlu diperhatikan. Rany menyebut banyak kasus anak speak up kepada orang tua justru memvalidasi kesalahan, sehingga komunikasi antara sekolah dan orang tua harus baik dan adil.

Menurut Rany, pengalaman pribadi membentuk kepeduliannya terhadap bullying dan kekerasan terhadap anak maupun perempuan di masyarakat luas. Ia menekankan, dukungan keluarga menjadi kunci agar anak dapat menghadapi pengalaman negatif dengan lebih tenang.

Di kesempatan yang sama, Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga/BKKBN, Edi Setiawan, menekankan pentingnya peran keluarga dalam mencegah bullying. Ia menyebut, ketahanan keluarga menjadi pondasi utama agar anak mampu menghadapi tekanan sosial dengan sehat dan bijak.

Ia menambahkan, dukungan emosional dan pengasuhan yang tepat dari keluarga menjadi benteng utama bagi anak-anak. “Kalau keluarga tersebut sudah bisa melaksanakan fungsi-fungsinya sebagai keluarga, tentu saja kasus bullying ini tidak akan terjadi,” ucap dia.

Edi menilai ketahanan keluarga mencakup empat dimensi, yaitu fisik, ekonomi, sosial, dan psikologis, termasuk spiritual serta moral anggota keluarga. Ia menekankan ketahanan keluarga bukan sekadar wacana, tetapi memiliki makna dan pedoman yang nyata.

Ia mengatakan, pengasuhan otoriter, permisif, maupun abai dapat memicu perilaku bullying, karena anak mencari validasi dari lingkungan sekitar. Ia menambahkan, kolaborasi antara orang tua dan sekolah, disertai aturan yang jelas, penting menekan angka bullying secara signifikan. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.