Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pasal 167 KUHP dan Pasal 257 KUHP Baru untuk Lindungi Aset

📅 Senin, 15 Des 2025, 02:48 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pasal 167 KUHP dan Pasal 257 KUHP Baru untuk Lindungi Aset Doc: Istimewa
Ket. Ilustrasi beberapa orang memasuki rumah warga tanpa izin.

JAKARTA – Memasuki rumah orang lain tanpa izin merupakan tindakan yang melanggar hukum dan dapat berdampak serius, baik secara hukum maupun sosial. Tindakan ini tidak hanya menginvasi privasi pemilik rumah, tetapi juga dapat memicu konflik dan bahkan tindakan hukum.

Berdasarkan pasal 167 KUHP lama, memasuki rumah tanpa izin bisa dipidana dengan ancaman pidana paling lama 9 bulan atau pasal 257 KUHP Baru (UU No.1 Tahun 2023) yang mulai berlaku pada Januari 2026 nanti, dengan ancaman pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda 10 juta rupiah, terutama jika dilakukan secara melawan hukum atau tidak segera pergi setelah diminta keluar. Sanksi akan meningkat jika disertai kekerasan, perusakan, atau dilakukan bersama-sama.

Pakar hukum dari Universitas Airlangga, Surabaya, Suparto Wijoyo, mengatakan pemberlakuan atau penerapan pasal 167 KUHP lama atau Pasal 257 KUHP Baru tersebut memang diperlukan untuk melindungi aset dan keselamatan pemilik rumah atau lahan.

“Hampir semua negara memiliki hukum pidana untuk masuk lahan atau banginan tanpa izin, yang sering disebut sebagai pelanggaran pro­perti atau penerobosan, seperti di Indonesia melalui KUHP Pasal 167, yang melindungi hak kepemilikan pribadi dan negara. Sanksinya bisa berupa denda hingga hukuman penjara, tergantung yurisdiksi dan berat pelanggaran. Tapi ini berlaku jika masuk secara paksa, arti­nya jika seseorang hanya kesasar (tersesat) lalu masuk ke lahan terbuka orang lain yang tidak ada pagar dan tulisan dilarang masuk, tidak akan serta merta dijatuhi pidana,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (14/12).

Itu untuk menjaga tertib sosial dan menghargai hak hak hidup bersama.

Sistem Pemidanaan

Sementara itu, ahli hukum dari Kantor Hukum Mahatma & Friends, Budi Danarto, menjelaskan bahwa perbedaan antara Pasal 167 KUHP lama dan Pasal 257 KUHP baru terkait masuk ke rumah atau pekarangan orang lain tidak terletak pada substansi larang­annya, melainkan pada penyesuaian sistem pemidanaan.

Ia menegaskan bahwa kedua pasal tersebut sama-sama mensyaratkan adanya unsur melawan hukum atau penolakan untuk pergi setelah diminta oleh pemilik yang berhak.

Menurut Budi Danarto, Pa­sal 167 KUHP lama yang saat ini masih berlaku mengatur ancaman pidana penjara paling lama sembilan bulan, sedangkan Pasal 257 KUHP baru dalam UU Nomor 1 Tahun 2023—yang mulai berlaku pada 2026—meningkatkan ancaman maksimal menjadi satu tahun penjara atau denda kategori II. “Perubahan ini tidak dimaksudkan untuk memperluas kriminalisasi, melainkan menyesuaikan sistem hukum pidana agar lebih relevan dan proporsional,” ujarnya.

Ia menambahkan, masuk ke pekarangan atau rumah orang lain tidak serta-merta menjadi tindak pidana apabila tidak disertai unsur melawan hukum. “Tanpa adanya penolakan untuk pergi setelah di­minta atau tanpa adanya unsur kekerasan dan perusakan, perbuatan tersebut tidak otomatis dapat dipidana,” kata Budi.

Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa baik KUHP lama maupun KUHP baru tetap memberikan pemberatan pi­dana apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan kekerasan, di­sertai perusakan, dilakukan secara bersama-sama, atau terjadi pada malam hari. SB/YK/S-2

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Belajar merangkai kain batik di Semarang

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Ekonomi
Digitalisasi ekonomi melalu...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.