- Home
-
- Luar Negeri
-
- Australia Buat Rancangan H...
Australia Buat Rancangan Hukum Senjata Lebih Ketat, Usai penembakan Maut di Pantai Bondi Sydney
Senin, 15 Des 2025, 19:20 WIBJAKARTA - Pemerintah Australia menyatakan siap mengambil langkah apa pun yang diperlukan menyusul penembakan brutal di Pantai Bondi, Sydney. Insiden ini menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai lebih dari 40 orang pada akhir pekan lalu.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyebut peristiwa tersebut sebagai salah satu hari tergelap dalam sejarah negaranya. Penembakan terjadi saat sebuah acara yang menandai malam pertama perayaan Hanukkah Yahudi.
"Hari Minggu akan dikenang sebagai hari kelam dalam sejarah Australia," kata Albanese dalam konferensi pers, Senin.
Ia menegaskan bahwa pemerintah pusat tidak akan tinggal diam menghadapi tragedi ini. Albanese menyebut negara harus berdiri bersama melawan kekerasan dan kebencian.
Menurut keterangan otoritas kesehatan New South Wales, sedikitnya 15 orang dinyatakan meninggal dunia. Lebih dari 40 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Sebanyak 27 korban dilaporkan masih menjalani perawatan intensif di delapan rumah sakit di wilayah Sydney dan sekitarnya. Kondisi para korban bervariasi, mulai dari luka ringan hingga serius.
Albanese mengajak seluruh warga Australia menunjukkan solidaritas nasional. Ia meminta masyarakat menyalakan lilin di jendela rumah masing-masing pada Senin malam.
"Ini adalah cara kita menunjukkan bahwa cahaya akan selalu mengalahkan kegelapan," ujar Albanese.
Dalam pernyataannya, Albanese juga membuka wacana perubahan kebijakan senjata api. Pemerintah federal berencana membawa isu pengetatan aturan senjata ke tingkat kabinet nasional.
Ia menyebut beberapa poin yang akan dibahas meliputi pembatasan jumlah senjata api yang boleh dimiliki individu. Selain itu, masa berlaku dan evaluasi ulang izin kepemilikan senjata juga masuk dalam agenda.
Perdana Menteri New South Wales, Chris Minns, menyampaikan sikap senada. Ia menilai sudah waktunya negara bagian tersebut melakukan perubahan hukum terkait kepemilikan senjata api.
Minns menegaskan bahwa keselamatan publik harus menjadi prioritas utama. Menurutnya, tragedi di Pantai Bondi menjadi peringatan keras bagi semua pihak.
Aparat penegak hukum mengungkapkan bahwa pelaku penembakan diduga berjumlah dua orang. Keduanya disebut memiliki hubungan ayah dan anak.
Sang ayah berusia 50 tahun dinyatakan tewas di lokasi kejadian. Sementara anaknya yang berusia 24 tahun kini dirawat di rumah sakit dengan luka-luka yang belum dirinci secara terbuka.
Wakil Komisaris Kepolisian New South Wales Mal Lanyon membenarkan bahwa pria berusia 24 tahun tersebut masih hidup. Ia menyatakan pelaku kemungkinan besar akan menghadapi tuntutan pidana setelah kondisinya memungkinkan.
"Seorang pria berusia 24 tahun saat ini dirawat di rumah sakit dan kemungkinan akan didakwa," kata Lanyon.
Polisi menyita enam senjata api dari lokasi kejadian. Aparat masih menyelidiki status perizinan senjata-senjata tersebut.
Menurut keterangan pejabat, sang ayah diketahui memiliki izin senjata api yang sah. Namun, penyelidikan masih dilakukan untuk memastikan apakah semua senjata yang disita terdaftar atas namanya.
Selain senjata api, petugas juga menemukan dua alat peledak rakitan di lokasi kejadian. Alat tersebut langsung diamankan dan dinetralisir oleh unit penjinak bom.
Keberadaan bahan peledak ini menambah tingkat keseriusan kasus tersebut. Aparat menyebut temuan ini sebagai bagian penting dalam penyelidikan lanjutan.
Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke turut memberikan keterangan mengenai latar belakang para tersangka. Ia mengatakan sang anak merupakan warga negara Australia kelahiran asli.
Sementara itu, ayahnya diketahui datang ke Australia pada 1998 menggunakan visa pelajar. Identitas lengkap keduanya belum diungkap ke publik oleh pihak berwenang.
Albanese juga mengungkap bahwa pelaku berusia 24 tahun sempat diselidiki pada 2019. Penyelidikan tersebut terkait dugaan keterkaitan dengan kelompok ISIS.
Namun, Albanese menegaskan bahwa saat itu tidak ditemukan indikasi ancaman berkelanjutan. Ia juga menyebut tidak ada tanda-tanda bahwa pelaku akan terlibat dalam aksi kekerasan.
Sehari setelah kejadian, Albanese secara terbuka menyebut serangan tersebut sebagai tindakan kejahatan murni. Ia menilai penembakan ini bermuatan antisemitisme.
"Ini adalah tindakan terorisme dan antisemitisme," ujar Albanese.
Perdana menteri menyerukan persatuan nasional sebagai respons atas tragedi tersebut. Ia menegaskan bahwa kekerasan berbasis kebencian tidak memiliki tempat di Australia.
Penembakan di Pantai Bondi kini menjadi sorotan internasional. Kasus ini juga memicu kembali perdebatan lama soal regulasi senjata api di Negeri Kanguru.
Pemerintah Australia memastikan penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh. Semua aspek, mulai dari motif hingga celah regulasi, akan dievaluasi untuk mencegah tragedi serupa terulang.
- Terorisme
- Perdana Menteri
- Anthony Albanese
- Kasus Penembakan
- Penembakan Bondi
- Anti-Semitisme
- Penembakan Massal di Pantai Bondi, Australia
- Antisemitisme
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Gawat, Konflik Iran-AS Memanas, Nilai Tukar Rupiah Terkapar di Level Mengkhawatirkan
-
AS Siapkan Helikopter 'Kiamat' Jolly Green untuk Evakuasi Pejabat Tinggi Jika Terjadi Perang Nuklir
-
Jepang Beri Subsidi BBM untuk Cegah Kenaikan Harga Imbas Konflik Timteng
-
Yang Mau Mudik Gratis Segera Daftarkan Diri
-
Biaya Tinggi, Tata Kelola Logistik Harus Dibenahi Menyeluruh
-
KKP Mulai Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu NTT, Siapkan Investasi Rp7,2 Triliun
-
Pendatang Baru Jakarta 2026 Wajib Lapor 1x24 Jam, Dukcapil DKI Mulai Jemput Bola
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.