Konflik Thailand-Kamboja Kembali Membara, Upaya Mediasi Trump Sia-sia

Sabtu, 13 Des 2025, 13:30 WIB

JAKARTA - Pertempuran antara pasukan Thailand dan Kamboja berlanjut pada Sabtu (13/12) pagi, beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kedua negara telah sepakat untuk gencatan senjata.

Seperti dilaporkan BBC, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan ia memberi tahu Trump bahwa gencatan senjata hanya akan mungkin terjadi setelah Kamboja menarik semua pasukannya dan membersihkan ranjau darat.

Ket. Foto: Sengketa perbatasan darat Thailand dan Kamboja sepanjang 800 km telah berlangsung lebih dari satu abad. Perbatasan tersebut digambar oleh ahli kartografi Prancis pada tahun 1907, ketika Prancis menjadi penguasa kolonial di Kamboja. — Sumber: France24

"Thailand akan terus melakukan aksi militer sampai kami merasa tidak ada lagi bahaya dan ancaman terhadap tanah dan rakyat kami. Saya ingin memperjelasnya. Tindakan kami pagi ini sudah berbicara," tulisnya di media sosial.

Penembakan terus berlanjut sepanjang malam saat pasukan Thailand berupaya merebut sejumlah titik strategis di sepanjang perbatasan.

Sedikitnya 21 orang tewas dalam pertempuran yang kembali berkobar dan 700.000 orang telah dievakuasi di kedua belah pihak.

Trump sebelumnya mengklaim bahwa dia bisa menghentikan pertempuran antara pasukan Thailand dan Kamboja yang meletus pada hari Senin, hanya dengan mengangkat telepon.

Setelah berbicara dengan kedua perdana menteri pada Jumat (12/12) malam, ia menulis di media sosial bahwa kedua negara telah sepakat untuk "menghentikan penembakan mulai malam ini" dan kembali ke kesepakatan yang mereka tandatangani di hadapan presiden AS pada bulan Oktober.

"Kedua negara siap untuk perdamaian," tulisnya.

Namun, Anutin mengatakan ia memberi tahu Trump bahwa Thailand bukanlah pihak agresor, dan Kamboja harus menunjukkan bahwa mereka telah menarik pasukannya dan membersihkan ranjau darat dari perbatasan sebelum gencatan senjata dimungkinkan.

"Mereka harus menunjukkannya kepada kami terlebih dahulu," katanya.

Tidak ada penyebutan tentang penggunaan tarif sebagai alat tawar-menawar untuk memaksa kedua pihak untuk menghentikan konflik, seperti yang terjadi pada bulan Juli.

Thailand telah memperingatkan AS agar tidak mengaitkan konflik tersebut dengan perdagangan.

Pada hari Sabtu, Kamboja melaporkan negara itu telah menjadi sasaran serangan udara Thailand lagi.

"Pada 13 Desember 2025, militer Thailand menggunakan dua jet tempur F-16 untuk menjatuhkan tujuh bom" ke sejumlah target, kata kementerian pertahanan Kamboja dalam sebuah unggahan di X.

"Pesawat militer Thailand belum berhenti melakukan pengeboman," demikian pernyataan tersebut.

Militer Thailand juga mengkonfirmasi bahwa pertempuran masih berlanjut.

Sengketa perbatasan yang telah berlangsung lama meningkat pada tanggal 24 Juli, ketika Kamboja melancarkan serangan roket ke Thailand, yang kemudian dibalas dengan serangan udara.

Kedua negara saling menuduh sebagai pihak yang memulai serangan tersebut.

Setelah pertempuran sengit berhari-hari yang menewaskan puluhan orang, kedua negara bertetangga di Asia Tenggara tersebut sepakat akan melakukan "gencatan senjata segera dan tanpa syarat" yang dimediasi oleh Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Hal ini diresmikan dalam sebuah upacara di Malaysia pada bulan Oktober yang dipimpin oleh presiden AS.

Namun, kedua belah pihak terus saling tuding melanggar gencatan senjata, Thailand mempublikasikan bukti bahwa pasukan Kamboja telah memasang ranjau darat, yang menyebabkan tujuh tentara Thailand kehilangan anggota tubuhnya. Kamboja mengatakan ranjau tersebut merupakan sisa dari perang saudara pada tahun 1980-an.

Sejak saat itu, ketegangan terus meningkat.

Pekan ini, Thailand melancarkan serangan udara di dalam wilayah Kamboja setelah dua tentaranya terluka dalam bentrokan Minggu lalu. Kamboja membalas dengan serangan roket. Pertempuran tersebut memengaruhi enam provinsi di timur laut Thailand dan enam provinsi di utara dan barat laut Kamboja.

Sengketa perbatasan darat Thailand dan Kamboja sepanjang 800 km telah berlangsung lebih dari satu abad. Perbatasan tersebut digambar oleh ahli kartografi Prancis pada tahun 1907, ketika Prancis menjadi penguasa kolonial di Kamboja.

  • Konflik Thailand-Kamboja

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.