Aceh Gelap Pasca Bencana: Tantangan Infrastruktur Hambat Pemulihan Total Kelistrikan di Bumi Serambi Mekkah
Jumat, 12 Des 2025, 14:15 WIBJAKARTA â Pemulihan kelistrikan Aceh pascabencana banjir dan longsor membutuhkan strategi bertahap yang terukur karena kerusakan infrastruktur terjadi secara luas dan tidak terpusat.
Fokus awal harus diarahkan pada pemetaan detail titik-titik kritis, memastikan akses aman bagi petugas, serta prioritas pemulihan untuk fasilitas vital seperti rumah sakit, pusat evakuasi, dan layanan publik.
Dengan kondisi lapangan yang menantang, pendekatan kehati-hatian menjadi kunci agar perbaikan tidak menimbulkan risiko tambahan dan dapat membangun kembali sistem kelistrikan yang lebih tahan bencana.
Akademisi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh Dr. Ramzi Adriman menjelaskan bahwa kondisi sistem saat ini sangat sensitif sehingga setiap tahap pemulihan perlu dijalankan secara terukur.
"Bencana ini tidak hanya merusak satu bagian sistem, tetapi banyak sekaligus. Karena itu, setiap penyalaan harus dipastikan stabil agar tidak memicu gangguan yang meluas,â ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (12/12).
Menurut dia, kerusakan yang terjadi mencakup jaringan transmisi, gardu induk, hingga distribusi, lokasinya pun saling berjauhan, sehingga penanganan tiap titik memerlukan pendekatan teknis yang berbeda.
Dalam situasi seperti ini, tambahnya, salah satu proses paling penting adalah sinkronisasi antarinfrastruktur ketenagalistrikan, tahap yang menyatukan pembangkit, gardu induk, dan jaringan agar kembali bekerja dalam satu sistem.
"Sinkronisasi menuntut kecermatan tinggi. Frekuensi, tegangan dan beban harus benar-benar seirama. Jika ada yang belum siap, proses penyatuan tidak bisa dipaksakan karena risikonya langsung pada stabilitas sistem," katanya.
Ia menilai manajemen beban atau penyalaan bergilir yang saat ini masih berlangsung sebagai langkah pengamanan sistem dalam kondisi yang mendesak.
Dengan kapasitas sementara yang belum pulih sepenuhnya, menurut dia, penyalaan bergilir membantu menjaga agar layanan tetap berjalan sekaligus mencegah sistem mengalami beban berlebih.
Di lapangan, tantangan bertambah dengan akses ke sejumlah wilayah yang masih terputus, lanjutnya pengiriman material dan peralatan harus menyesuaikan kondisi jalan, cuaca, dan jalur alternatif yang tersedia.
Situasi ini menjadikan koordinasi teknis dan logistik sebagai faktor kunci keberhasilan pemulihan.
Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala itu menyatakan karakter kerusakan yang tersebar dan sistem yang masih sensitif memang menuntut pendekatan bertahap guna menjaga stabilitas wilayah yang sudah menyala, sambil memberikan ruang untuk memulihkan titik lain sesuai kesiapan teknisnya.
Ia berharap akses ke wilayah terdampak segera terbuka sepenuhnya sehingga penanganan teknis dapat dipercepat dan sinkronisasi sistem dapat dilakukan lebih luas.
"Tujuannya mengembalikan keandalan listrik Aceh secepat dan setepat mungkin tanpa mengorbankan keandalan ke depannya," katanya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Bansos PKH dan BPNT Bakal Cair April 2026: Berikut Cara Cek dan Jadwal Tahapannya
-
Libur Panjang Picu Lonjakan Pendakian di Gunung Rinjani
-
Jakarta Kota Terpanas di Indonesia Menurut Rilis BMKG, Ini Tanggapan Gubernur Pramono
-
Tingkatkan Ekonomi Nelayan, Pemkab PPU Integrasikan Koperasi dengan Kampung Nelayan.
-
The Heart of LifeWear: Uniqlo Salurkan Pakaian Termal ke 28 Negara di Tahun 2025
-
Musim Tanah Liat Mulai Memanas
-
Puting Beliung Hantam Aceh Utara! Huntara Rusak, Menteri PU Turun Tangan Target 1 Minggu Beres
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.