Cuaca Ekstrem, Dinpar DIY Tingkatkan Koordinasi Mitigasi untuk Jaga Keamanan Wisatawan

Selasa, 09 Des 2025, 17:45 WIB

YOGYAKARTA - Tiga kawasan wisata di DIY masuk dalam zona yang memiliki potensi tanah longsor menurut pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY. Ketiganya adalah Perbukitan Menoreh, Pegunungan Sewu, dan kawasan Perbukitan Patuk–Imogiri. Meski berada di wilayah rawan, Dinas Pariwisata (Dinpar) DIY memastikan seluruh destinasi di area tersebut tetap aman dikunjungi dan dapat beroperasi normal.

Destinasi di kawasan-kawasan tersebut mencakup Nglinggo Tritis, Puncak Widosari, Puncak Suroloyo, Sendangsono, Embung Tonogoro, Desa Wisata Tinalah, Desa Wisata Jatimulyo, Nglanggeran, Gua Pindul, Kalisuci, Air Terjun Srigethuk, Gua Jomblang, Desa Wisata Wukirsari, kawasan Mangunan (Becici dan Pengger), Imogiri, HeHa Sky View, hingga Bukit Bintang.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Antara

“Dinas Pariwisata DIY menegaskan bahwa tidak ada penutupan yang dilakukan terhadap destinasi wisata yang berada di dalam kawasan yang berpotensi longsor dan destinasi wisata tetap beroperasi seperti biasa. Pengawasan kondisi destinasi tersebut dilakukan secara intensif dengan melibatkan Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota, BPBD DIY, Satpol PP, TNI/Polri, pengelola destinasi maupun masyarakat setempat,” jelas Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, dalam Forum Wartawan Unit DPRD DIY, Senin (08/12).

Imam menambahkan bahwa sejak 2023, kejadian longsor yang berdampak langsung pada destinasi wisata hanya tercatat di area parkir Tebing Breksi. Insiden lain terjadi di luar lokasi wisata, meski beberapa di antaranya berpengaruh terhadap infrastruktur, khususnya akses jalan menuju destinasi.

“Kejadian tanah longsor merupakan fenomena alam yang tidak dapat diprediksi secara pasti. Oleh karena itu, pemetaan kawasan yang berpotensi rawan longsor merupakan prosedur standar yang dilakukan dalam upaya mitigasi bencana,” ujarnya.

Sebagai langkah mitigasi, Dinpar DIY bersama berbagai pihak telah melakukan sejumlah persiapan, termasuk koordinasi dengan pengelola destinasi dan desa wisata untuk memastikan ketersediaan rambu arah dan rambu peringatan, serta memastikan seluruh peralatan keselamatan berfungsi baik.

Pengawasan juga dilakukan bersama Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota untuk memastikan operasional destinasi sesuai SOP. “Kemudian juga memantau kondisi cuaca di destinasi wisata secara real-time dengan memanfaatkan kamera CCTV dan memantau informasi prakiraan cuaca dari BMKG dan secara berkala menginformasikan kepada semua pihak terkait melalui kanal informasi JITV maupun media lainnya,” ungkap Imam.

Dalam forum bertema “Pariwisata Akhir Tahun di Tengah Cuaca Ekstrem”, Imam menegaskan bahwa masyarakat dan wisatawan tidak perlu membatalkan rencana berkunjung. “Keamanan, keselamatan, dan kenyamanan wisatawan adalah prioritas utama kami, dan setiap potensi risiko akan ditangani sesuai prosedur mitigasi yang telah disiapkan,” katanya.

Ia memastikan bahwa koordinasi antarinstansi terus ditingkatkan agar wisatawan dapat menikmati kunjungan secara aman dan nyaman, meskipun berada pada periode cuaca ekstrem.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.