Problema Mohamed Salah di Liverpool: Jadi Pahlawan yang Terlupakan atau Keras Kepala?
Senin, 08 Des 2025, 02:50 WIBJAKARTA - Mohamed Salah kembali menjadi pusat pemberitaan di Liverpool â bukan karena gol atau aksinya di lapangan, tetapi akibat pernyataannya yang memicu gejolak internal. Setelah tiga laga beruntun hanya duduk di bangku cadangan, bintang asal Mesir itu meluapkan kekecewaan usai Liverpool ditahan imbang 3-3 oleh Leeds United di Elland Road. Ia mengaku telah âdikorbankanâ dan merasa âseseorang ingin semua kesalahan ditimpakan padanya.â
Komentar tersebut segera mengingatkan publik pada kisah Cristiano Ronaldo saat meninggalkan Manchester United pada 2022, ketika wawancaranya membuat hubungan dengan klub retak dan pintu keluar terbuka lebar. Kini, Salah terlihat melangkah di jalur serupa: seorang legenda klub yang mulai kehilangan panggung, lalu mencari ruang berkomunikasi lewat ledakan verbal.
Performa Menurun, Tempat Hilang
Salah memang tidak sedang berada di musim terbaiknya. Dari 19 laga, ia baru mencatat lima gol â torehan yang jauh dari standar sang âMesir King.â Pelatih Arne Slot sesungguhnya telah memberikan waktu untuk memulihkan performanya, namun stagnasi berkepanjangan membuat keputusan tegas harus diambil: menurunkannya ke bangku cadangan.
Slot sebelumnya juga sempat mencadangkan beberapa rekrutan mahal seperti Florian Wirtz, Alexander Isak, dan Hugo Ekitike. Tidak ada yang tersentuh kritik keras seperti keputusan mencadangkan Salah. Namun, bagi pelatih yang sedang berada di bawah tekanan besar menyusul hasil minor sejak awal musim, keberanian itu harus tetap diambil.
Bagi Salah, keputusan ini sulit diterima. Ia menegaskan bahwa performa masa lalunya telah âmenghasilkanâ posisi yang seharusnya membuat statusnya tidak mudah digeser. Tetapi di mata klub, kelas tanpa konsistensi tidak cukup untuk menjamin tempat di lini serang.
Retaknya Hubungan dengan Slot
Ketegangan antara Salah dan Slot kini semakin terlihat jelas. Musim lalu, keduanya menikmati masa penuh sukses, termasuk gelar Premier League dan performa fenomenal sang winger yang mencetak 34 gol di semua kompetisi. Saat itu, Salah memuji Slot sebagai pelatih yang memahaminya.
Namun kondisi kini sudah berbalik sepenuhnya. Salah merasa janji-janji klub di awal musim tidak ditepati dan menilai hubungannya dengan Slot âtidak ada lagi.â Sang pemain bahkan menyebut bahwa ia sudah mengetahui jauh sebelum pertandingan bahwa ia tidak akan dimainkan. Suasana ruang ganti Liverpool pun makin panas.
Sumber internal klub yang dikutip ESPN menyebut bahwa kekalahan dari PSV di Liga Champions menjadi titik kritis bagi sebagian petinggi Liverpool â meski bukan alasan langsung untuk mempertimbangkan masa depan Slot. Artinya, komentar publik Salah tidak serta-merta menggoyahkan posisi pelatih asal Belanda itu.
Apakah Ini Akhir Kisah Salah di Anfield?
Salah akan meninggalkan Liverpool dalam waktu dekat untuk membela Mesir di Piala Afrika. Ia bahkan sudah meminta keluarganya untuk terbang ke Merseyside akhir pekan depan, menyiratkan bahwa laga kontra Brighton bisa menjadi pertandingan terakhirnya mengenakan seragam Liverpool â entah karena agenda tim nasional, atau karena transfer besar yang mulai berembus dari Liga Arab Saudi.
Dengan hanya menang empat kali dalam 15 pertandingan terakhir, Liverpool jelas punya masalah lebih besar dari sekadar performa Salah. Tetapi komentar terbuka seorang pemain senior sebesar dia memperumit keadaan. Klub kini berada di titik dilematis: memihak pelatih muda yang baru saja memberi gelar liga, atau legenda klub yang performanya menurun namun tetap memiliki nilai historis di mata fans.
Pahlawan yang Terlupakan, atau Keras Kepala?
Jika pertanyaannya: apakah Salah adalah pahlawan yang terlupakan atau hanya pemain senior yang keras kepala? Jawabannya ada di tengah.
Salah tetaplah salah satu pemain terhebat yang pernah membela Liverpool. Statistik, trofi, dan momen-momen epik membuktikan itu. Ia bukan pemain biasa yang bisa disingkirkan begitu saja.
Namun, cara ia mengekspresikan ketidakpuasan menunjukkan sisi lain: seorang bintang yang belum siap menerima kenyataan bahwa masa emasnya mulai meredup. Dalam situasi klub yang sedang goyah, ucapannya lebih memperbesar masalah ketimbang membantu Liverpool bangkit.
Dengan kata lain, Salah adalah pahlawanâtetapi saat ini, ia juga sedang bertindak layaknya pemain senior yang sulit melepas kejayaan masa lalu, sehingga membuat konflik semakin membesar.
Bagaimanapun, keputusan akhir ada di tangan pimpinan klub. Yang jelas, kedua pihak kini berada di persimpangan jalan â dan apa pun langkah berikutnya bisa menentukan bagaimana sejarah akan mengenang akhir perjalanan Mohamed Salah di Anfield.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan
Berita Terkait:
-
Ayase Ueda
-
Ancam Musuh-Musuhnya! Arteta Siapkan 'Megatransfer' Demi Amankan Singgasana Arsenal
-
KKP Jaga Kredibilitas Pengelolaan Ekosistem Karbon Biru Nasional
-
Daftar Susunan Pemain Portugal vs Uzbekistan: Ronaldo, Felix, dan Neto Starter, Fabio Cannavaro Andalkan Serangan Balik
-
Polisi Tangkap Pelaku Penyekapan dan Penganiayaan Wanita di Bandung
-
PSG Patok Harga 3,13 Triliun Rupiah untuk Barcola, Liverpool Harus Pecahkan Rekor Transfer
-
Ekonomi Bergejolak, Pemerintah Pasang Radar untuk Cegah Gelombang PHK
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.