- Home
-
- Luar Negeri
-
- Pohon Tokyo Menyusut di Te...
Pohon Tokyo Menyusut di Tengah Gelombang Panas Ekstrem, Warga Jepang Mulai Khawatir
Minggu, 04 Okt 2026, 13:00 WIBTokyo â Pada suatu hari yang terik di Tokyo, Kaoru Morimoto mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia tidak yakin dapat bertahan menghadapi musim panas berikutnya di lingkungan tempat tinggalnya, ketika tutupan pohon dan keteduhan yang sangat dibutuhkan warga terus berkurang.
Ketika Jepang semakin sering mengalami cuaca panas ekstrem, tutupan pohon yang dapat membantu menurunkan suhu justru menyusut, bukan bertambah, di Tokyo. Kondisi tersebut berlawanan dengan tren di sejumlah ibu kota besar dunia.
Morimoto ingin kondisi itu berubah. Tahun lalu, dia meluncurkan kampanye yang mendesak pemerintah daerah menetapkan target tutupan kanopi pohon, sebuah inisiatif akar rumput yang masih jarang dilakukan dan secara khusus berfokus pada persoalan tersebut.
"Semua orang mengatakan musim panas semakin parah," kata Morimoto kepada AFP. Namun, menurut dia, kesadaran masyarakat mengenai minimnya tutupan pohon di Tokyo masih rendah.
Bersama Susumu Nirasawa, sesama warga di kawasan Nakano, Tokyo bagian barat, perempuan berusia 66 tahun itu menggelar diskusi dengan para ahli, membagikan data suhu melalui media sosial, serta menghadiri rapat dewan kota untuk menyampaikan tuntutan kepada pejabat setempat. Sekitar 30 warga lainnya telah bergabung dalam gerakan tersebut.
"Kami ingin pemerintah distrik menganggap serius persoalan ini," kata Nirasawa, 71 tahun.
Jepang mencatat musim panas terpanas sepanjang sejarah pada 2025. Secara global, jumlah hari dengan suhu lebih tinggi juga terus meningkat akibat perubahan iklim.
Tahun ini, Jepang mencatat hampir 120 kematian terkait panas antara Mei dan Agustus, sementara lebih dari 73.000 orang membutuhkan penanganan darurat.
Meskipun para ahli mengatakan peningkatan tutupan pohon dapat membantu menurunkan suhu udara, penelitian Universitas Tokyo pada 2024 menunjukkan Tokyo kehilangan tutupan kanopi yang luasnya setara dengan 3,5 kali Central Park di New York dalam waktu kurang dari satu dekade.
Dengan membawa termometer dan buku catatan, Morimoto dan Nirasawa melakukan pengukuran suhu sendiri di Nakano. Mereka berharap data tersebut dapat membantu menyatukan warga sekitar untuk mendukung upaya meningkatkan tutupan pohon.
"Kami mengukur keteduhan di bawah pohon dengan kanopi besar dan di bawah pohon yang telah dipangkas lebih banyak," kata Morimoto. "Ada perbedaan sekitar tiga derajat."
Cuaca Ekstrem, Jalan Sempit
Dalam penelitian pada 2024 tersebut, peneliti Universitas Tokyo sekaligus pakar kehutanan perkotaan Kinya Shiraishi menemukan bahwa tutupan kanopi di pusat Tokyo turun menjadi 7,3 persen pada 2022 dari 9,2 persen pada 2013, atau berkurang sekitar 12 kilometer persegi.
Sebagai perbandingan, tutupan kanopi di New York saat ini sekitar 23 persen, dengan pemerintah kota menargetkan peningkatan menjadi 30 persen pada 2040.
London menargetkan peningkatan tutupan pohon sebesar 10 persen dari kondisi saat ini yang sekitar 20 persen pada 2050, sedangkan Paris juga berencana meningkatkan tutupan pohonnya dari sekitar 18 persen.
"Jika kita ingin meningkatkan kualitas kehidupan perkotaan, tutupan kanopi merupakan salah satu faktor kunci," kata Shiraishi kepada AFP. Menurut dia, pohon juga dapat mengurangi risiko banjir dan membantu warga kota merasa lebih tenang.
Dia mengatakan penurunan tutupan pohon terutama dipicu oleh berkurangnya taman atau lahan hijau di kawasan permukiman pribadi. Pemilik lahan yang menua menjual properti mereka, sementara pohon-pohon yang sudah besar sering ditebang ketika lahan berukuran luas dipecah menjadi beberapa bagian untuk memenuhi kebutuhan perumahan di ibu kota.
Banyak jalan di Tokyo juga sempit dan memiliki sedikit ruang untuk penghijauan. Selain itu, pemerintah khawatir pohon tumbang ketika terjadi cuaca ekstrem.
Seorang pejabat Pemerintah Metropolitan Tokyo mengatakan kepada AFP bahwa pemerintah kota "saat ini berupaya memperluas kanopi pohon melalui pemangkasan yang dilakukan secara hati-hati, dengan berfokus pada jalan-jalan yang memiliki trotoar cukup lebar dan ruang bagi pohon untuk tumbuh".
Tanpa pengelolaan yang tepat, pohon dapat mengganggu jarak pandang terhadap lampu lalu lintas dan berisiko tumbang saat topan, katanya. Ia menambahkan bahwa Tokyo menggunakan indikator untuk mengukur penghijauan yang juga mencakup lahan pertanian dan padang rumput di wilayah pinggiran kota.
Namun, pada hari yang panas dan cerah di pusat kota, hampir tidak ada keteduhan di sepanjang jalan yang menjadi lokasi kantor Kementerian Keuangan Jepang. Sebatang pohon plane berdiri hampir tanpa daun, dengan cabang-cabang bagian atas dipangkas hingga mendekati batang.
"Kecuali kita segera melakukan upaya untuk meningkatkan tutupan kanopi dan mengubah kebijakan kita, kita akan kehabisan waktu," kata Eijiro Fujii, profesor emeritus Universitas Chiba yang mengkhususkan diri dalam bidang hortikultura, sembari melihat sekelompok pohon yang dipangkas secara berlebihan di kawasan pusat Tokyo, Kasumigaseki.
Fujii menyalahkan pemangkasan berlebihan yang dilakukan untuk mengelola pohon di ruang terbatas, serta pergantian pejabat pemerintah yang sering menangani penghijauan jalan, sebagai faktor yang menyebabkan penurunan tutupan kanopi.
Di Nakano, Morimoto dan Nirasawa mengatakan wali kota distrik tersebut belakangan mulai menekankan pentingnya keteduhan dari pepohonan. Namun, pejabat lingkungan setempat sejauh ini belum menetapkan target tutupan kanopi.
"Kematian akibat sengatan panas meningkat pesat di Jepang," kata Fujii. "Kita perlu bertindak sebelum semuanya terlambat."
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Hadapi Kemarau Ekstrem, Petani Jepang Beralih ke Varietas Padi Tahan Panas
-
BEI Urungkan Implementasi Saham Rp1, Investor Harus Menunggu
-
Baku Tembak Dua Badan Intelijen Ukraina: Tiga Luka, Zelenskyy Murka
-
Klasemen Liga Italia: AS Roma Naik ke Puncak seusai Kalahkan Torino 2-0
-
Geronimo Rulli Kembali ke Manchester City, Jadi Pelapis Donnarumma
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.