“Data Center AI” Ekstraterestrial Starcloud Segera Mengorbit
Rabu, 03 Des 2025, 07:38 WIBPUSAT data ekstraterestrial atau luar amlasa sudah di depan mata. Segera, satelit yang dilengkapi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dari Starcloud, anggota program Nvidia Inception untuk startup, akan mengorbit Bumi.
Ini merupakan langkah besar menuju tujuan akhir startup untuk membawa pusat data canggih ke luar angkasa. Ini dapat menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh meningkatnya permintaan AI, termasuk konsumsi energi dan kebutuhan pendinginan untuk pusat data di Bumi.
âDi luar angkasa, Anda mendapatkan energi terbarukan yang hampir tak terbatas dan berbiaya rendah,â kata Philip Johnston, salah satu pendiri dan CEO startup yang berbasis di Redmond, Washington, dikutip dari Nvidia Blog.
âSatu-satunya biaya untuk lingkungan akan ada pada peluncurannya, kemudian akan ada penghematan karbon dioksida 10 kali lipat selama masa pakai pusat data dibandingkan dengan menyalakan pusat data di Bumi,â Âucapnya.
Peluncuran satelit Starcloud yang akan datang, yang direncanakan pada bulan November ini namun belum ada kabar tentang hali ini. Jik peluncuran jadi dilakukan akan menandai debut kosmik GPU Nvidia H100 dan pertama kalinya GPU canggih sekelas pusat data berada di luar angkasa. Satelit Starcloud-1 seberat 60 kilogram, seukuran kulkas kecil, diharapkan menawarkan komputasi GPU 100 kali lebih kuat daripada operasi berbasis luar angkasa sebelumnya.
Meningkatkan Keberlanjutan
Alih-alih mengandalkan air tawar untuk pendinginan melalui menara penguapan, seperti yang dilakukan banyak pusat data berbasis Bumi, pusat data berbasis luar angkasa Starcloud dapat memanfaatkan ruang hampa di luar angkasa sebagai penyerap panas tanpa batas.
Memancarkan panas buangan dari radiasi inframerah ke luar angkasa dapat menghemat sumber daya air yang signifikan di Bumi, karena air tidak diperlukan untuk pendinginan. Paparan sinar matahari yang konstan di orbit juga berarti daya surya yang hampir tak terbatas alias pusat data tidak perlu bergantung pada baterai atau daya cadangan.
Starcloud memproyeksikan biaya energi di luar angkasa 10 kali lebih murah daripada opsi berbasis darat, bahkan termasuk biaya peluncuran. âDalam 10 tahun, hampir semua pusat data baru akan dibangun di luar angkasa,â prediksi Johnston. âDalam 10 tahun, hampir semua pusat data baru akan dibangun di luar angkasa,â kata Philip Johnston, salah satu pendiri dan CEO Starcloud.
Salah satu contoh awal penggunaan pusat data luar angkasa adalah analisis data observasi Bumi, yang dapat menginformasikan aplikasi untuk mendeteksi jenis tanaman dan memprediksi cuaca lokal. Selain itu, pemrosesan data waktu nyata di luar angkasa menawarkan manfaat yang sangat besar untuk aplikasi penting seperti deteksi kebakaran hutan dan respons sinyal marabahaya. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Infrastruktur Siap AI Penting untuk Dorong Ekonomi Digital Indonesia
-
Ekonom Proyeksikan Harga Emas Dunia Tembus Ratusan Juta Rupiah di 2030
-
Rayakan Usia ke-80 Elle Hadirkan Pengalaman Toko Pop-Up
-
Khofifah Berangkatkan 4.000 Pemudik Gratis 2026
-
Cek Kesehatan Gratis untuk pedagang pasar
-
Gubernur Jawa Timur: Penyaluran BBM Bersubsidi di Jatim Sesuai Regulasi Nasional
-
Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Bahrain Rayakan Idul Fitri pada Jumat 20 Maret
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.