• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Masa Depan Anak di Gaza Te...

Masa Depan Anak di Gaza Terancam Kecamuk Perang yang Tak Kunjung Usai

Senin, 01 Des 2025, 19:02 WIB

DENGAN langkah berat, Mahmoud Abu Awda (11) berjalan melintasi genangan air sisa hujan musim dingin di jalan yang rusak di Gaza City.

Sepatunya yang usang terbenam ke dalam lumpur. Tangannya memegang erat kotak plastik kecil berisi biskuit, makanan kaleng, dan cokelat.

Ket. Foto: — Sumber: AFP/EYAD BABA

Dia berdoa agar dapat menjual cukup banyak untuk menghidupi keluarganya, setelah mereka kehilangan tulang punggung keluarga hampir dua tahun sejak konflik di Gaza pecah.

Sebelum perang, masa kecil Abu Awda terbilang normal. Setiap pagi, dia terbangun oleh suara ayahnya yang sedang bersiap untuk bekerja sebagai tukang kayu di lingkungan Zeitoun.

"Dulu saya pergi ke sekolah setiap hari," ujar Abu Awda kepada Xinhua. "Saya suka matematika, dan saat istirahat kami bermain dan tertawa-tawa. Dulu hidup kami sederhana, tapi kami bahagia."

"Kehidupan sederhana" Abu Awda berubah total ketika konflik berskala besar di Gaza pecah pada 7 Oktober 2023, ketika militer Israel melancarkan operasi besar-besaran di seluruh wilayah kantong tersebut.

Sejak pecahnya konflik itu, otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza telah mengonfirmasi bahwa 70.000 lebih warga Palestina, termasuk sedikitnya 20.000 anak-anak, tewas dalam konflik tersebut.

Ayah Abu Awda termasuk di antara korban tewas itu. Dia tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam rumah mereka di Zeitoun.

"Ayah saya terbunuh, dan sejak itu, saya menjadi anak tertua dan satu-satunya pencari nafkah," kata Abu Awda. "Ibu saya sakit, dan adik-adik laki-laki saya masih sangat kecil."

Karena tidak dapat kembali ke sekolah, dia membeli sebuah kotak kecil dan mulai berkeliling di persimpangan jalan untuk menjual barang-barang murah. "Kadang saya bisa menjual, kadang tidak," katanya. "Tetapi tidak ada pilihan lain."

Kisah Abu Awda hanyalah satu dari sekian banyak kisah serupa.

Anak-anak dalam Perang

Di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, Yasmin Khader (13) memanjat tumpukan sampah di samping kamp pengungsian sementara tempat keluarganya tinggal sejak konflik pecah. Bersama anak-anak lain, dia mengumpulkan sampah plastik untuk dijual.

"Ayah saya ingin saya menjadi dokter, tetapi dia terbunuh dalam sebuah serangan udara," ujar Yasmin kepada Xinhua. "Kini saya bekerja karena tidak ada orang lain yang menafkahi ibu dan saudara perempuan saya."

Setiap pagi, dia mengikatkan tas putih di punggungnya dan mencari barang-barang plastik untuk dijual. "Kadang uangnya bahkan tidak cukup untuk membeli roti," ujarnya.

Yasmin teringat bahwa sebelum perang, dia "bangga mengenakan pakaian bersih dan memakai parfum," tetapi konflik telah mengubah segala aspek kehidupan sehari-harinya.

"Anak-anak dalam perang ini, baik laki-laki maupun perempuan, sudah dibebani tanggung jawab yang jauh melampaui usia mereka," imbuhnya. "Kami tidak menginginkan kehidupan seperti ini, tetapi kami tidak punya pilihan. Kami menderita setiap hari hanya untuk bertahan hidup, dan tidak ada yang membantu kami mengatasi konsekuensi perang ini."

Di lingkungan Rimal, Gaza City, Abbas al-Ghazali (13) telah berjualan air sejak subuh. Membawa kotak kecil berisi botol-botol, dia berkeliling menyusuri jalan-jalan yang rusak sambil berseru, "Jual air! Jual air!" Seiring datangnya musim dingin, penjualannya pun menurun drastis.

"Saya menjual sebotol seharga 1 shekel (sekitar Rp5.000), tetapi kini orang-orang jarang membeli," ujarnya. Al-Ghazali terpaksa bekerja setelah ayahnya, yang menderita kanker, tidak bisa lagi berobat akibat blokade Israel dan kekurangan obat-obatan penting.

Meskipun menghabiskan sebagian besar hari untuk bekerja, al-Ghazali tetap membawa tas sekolahnya yang berisi beberapa buku. "Dulu saya murid yang berprestasi," ujarnya. "Ketika saya lelah, saya membuka tas dan membaca sedikit."

Otoritas setempat mengatakan perang telah menimbulkan konsekuensi serius bagi anak-anak. Menurut kantor media pemerintah yang dikelola Hamas, ribuan anak tidak memiliki tempat tinggal yang aman atau lingkungan yang mendukung perkembangan sehat mereka.

Melampaui Kapasitas Emosional

Dengan terganggunya kegiatan pendidikan selama lebih dari dua tahun dan ribuan sekolah rusak atau hancur, pekerja anak melonjak di Gaza. Ruang publik, seperti pasar dan jalan-jalan terbuka, telah menjadi tempat kerja yang lazim bagi anak-anak yang terpaksa meninggalkan sekolah.

Ghadeer Al-Muqayyad, seorang psikolog yang mengkhususkan diri dalam perkembangan anak di Gaza City, mengatakan kepada Xinhua bahwa konflik telah memaksa anak-anak ke dalam situasi yang melampaui kapasitas emosional dan fisik mereka.

Dia menjelaskan bahwa meningkatnya pekerja anak membuat anak-anak di bawah umur terpapar pada kondisi berbahaya dan mengancam kesejahteraan jangka panjang mereka.

"Anak-anak ini mengalami trauma, kehilangan, pengungsian, dan kekerasan, yang dapat mengakibatkan gejala stres pascatrauma."

Menurut Al-Muqayyad, stres yang berkepanjangan meningkatkan risiko kecemasan, tantangan perilaku, dan sikap menarik diri secara emosional pada anak-anak.

"Mengembalikan kembali anak-anak ke lingkungan belajar yang aman sangat penting untuk mengurangi dampak psikologis konflik," ujarnya. Ant/Xinhua

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Deri Henriawan

Berita Terbaru

Indonesia Bisa Jadi "Liquidity Hub" Kripto Asia! Ini 3 Syarat Wajibnya

Gempa M7,7 Lumpuhkan Akses Flores! PU Kebut Perbaikan Jembatan & Jalan

Kripto RI Masuk Babak Baru: OJK Jadi Pengawas, Industri Siap "Naik Kelas"

Borobudur Expo 2026 jadi Hub Pariwisata dan Ekraf Perkuat Ekosistem Ekonomi Jateng

Setelah Kematiannya di Avengers: Endgame, Robert Downey Jr. akan Kembali Perankan Iron Man dalam Proyek Disney Terbaru

Harrison Ford Kembali Jadi Indiana Jones dalam Proyek Terbaru Disney

Polda Jatim Dalami Motif Pelempar Bom Molotov ke Pos Lantas

Pos Lantas Dilempar Molotov, Polda Jatim Pastikan Surabaya Tetap Kondusif

Lada Putih Muntok Bangka Siap Mendunia, Kementerian UMKM Bidik 1.200 Restoran di 63 Negara

Pasar Murah Jatim Tembus 95 Kali, Khofifah Fokus Dekatkan Pangan Terjangkau ke Warga

Unik! Bupati Pacitan Pimpin Upacara HUT RI ke-81 dari Goa Terdalam di Pulau Jawa

Promo HUT RI ke-81! Tiket Whoosh Jakarta-Karawang Mulai Rp8.800, Ini Cara Dapatnya

Bikin Haru! Ojek Pangkalan, Penjaga Kedai Kopi hingga Damkar Dapat Undangan Upacara HUT RI di Istana

Superman Palangka Raya Ikut Padamkan Kebakaran Lahan Gambut akibat El Niño

MURI Catat Rekor Dunia! Merah Putih Membentang 120 Meter dari Apartemen di Depok

BBTE 2026 Targetkan 200 Buyer dan 100 Seller, Borobudur Jadi Hub Pariwisata Jawa Tengah

Unik! Bendera Merah Putih Bakal Dikibarkan di Akuarium Hiu Ancol Saat HUT RI ke-81

Uji Coba Lawan Persita Jadi Pelajaran Berharga, PSS Sleman Siap Berbenah!

Ambulans Terbang Segera Terwujud? BRIN Matangkan Ekosistem Pesawat N219

Bikin Kaget! Kenapa Bupati Aceh Barat Larang Lomba Panjat Pinang Saat HUT ke-81 RI?

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.