IHSG dalam Perdagangan Selasa Menggeliat: Pasar Taruh Harapan pada Sinyal Pelonggaran The Fed

Senin, 01 Des 2025, 23:59 WIB

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan tren positif pada perdagangan, hari ini (2/12), didorong oleh sikap pelaku pasar yang cenderung optimistis sembari menantikan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Ekspektasi terhadap potensi pelonggaran suku bunga The Fed memicu minat pada aset berisiko, sehingga menopang aliran dana masuk ke pasar saham domestik.

Ket. Foto: Pengunjung melihat layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Hafidz Mubarak A

Meski demikian, momentum kenaikan IHSG tetap dibayangi sensitivitas tinggi terhadap sentimen global, terutama respons pasar terhadap pernyataan pejabat The Fed menjelang pertemuan kebijakan pekan depan.

Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana melihat investor masih menunggu perkembangan kebijakan The Fed, terutama setelah probabilitas pemangkasan suku bunga meningkat menjadi 87,6 persen. “IHSG dalam perdagangan, Selasa (2/12), bergerak menguat dengan support 8.490 dan resistance 8.573,” ujarnya.

Sebelumnya, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (1/12) sore, ditutup menguat 40,09 poin atau 0,47 persen ke posisi 8.548,79 seiring dengan optimisme pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed pekan depan. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 5,38 poin atau 0,64 persen ke posisi 851,14.

"IHSG dan bursa regional Asia cenderung menguat di tengah optimisme penurunan suku bunga Amerika Serikat (AS) minggu depan, yang mana pelaku pasar penuh semangat menunggu pernyataan dari Ketua Fed Jerome Powell setelah sinyal dovish baru-baru ini dari para pembuat kebijakan," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya di Jakarta.

Dari mancanegara, berdasarkan CME Fedwatch, probabilitas sebesar 87,4 persen bahwa The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga pada pertemuan 10 Desember 2025 atau pekan depan. Di sisi lain, Nico mengatakan laju tren kenaikan pasar saham kawasan Asia terbatas seusai rilis data indeks manufaktur November 2025, yang mana pelaku pasar mencermati aktivitas manufaktur di Jepang, Tiongkok, Korea Selatan dan Taiwan yang berada di fase kontraksi.

Kontraksi itu menunjukkan aktivitas manufaktur belum ada kemajuan dari proses negosiasi tarif perdagangan AS, dalam menopang pemulihan yang signifikan.

Dari dalam negeri, Indeks PMI Manufaktur S&P Global Indonesia naik menjadi 53,3 pada November 2025, dari sebelumnya 51,2 pada Oktober 2025, seiring meningkatnya volume produksi dan lonjakan pesanan baru.

Kenaikan itu, menurut dia, memberikan indikasi aktivitas manufaktur menunjukkan ekspansi, sehingga adanya pemulihan sektor manufaktur yang memberikan signal adanya pemulihan ekonomi dalam negeri.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan data neraca perdagangan Indonesia periode Oktober 2025 surplus 2,4 miliar dollar AS, dengan ekspor sebesar 24,24 miliar dollar AS dan impor sebesar 21,84 miliar dollar AS. Selain itu, BPS melaporkan inflasi November 2025 sebesar 0,17 persen mont to month (mtm) dan 2,72 persen year on year (yoy), atau tetap terjaga alam kisaran target Bank Indonesia (BI) 2,5 plus minus 1 persen.

Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang konsumen non primer yang naik sebesar 2,82 persen, diikuti oleh sektor energi dan sektor infrastruktur yang naik sebesar 1,03 persen dan 0,76 persen.

Sedangkan, empat sektor melemah yaitu sektor properti turun paling dalam sebesar 2,00 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor barang baku yang masing- masing turun 0,45 persen dan 0,18 persen.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.602.699 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 45,48 miliar lembar saham senilai 21,95 triliun rupiah. Sebanyak 317 saham naik 380 saham menurun, dan 113 tidak bergerak nilainya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.